{"id":10306,"date":"2018-09-21T13:39:12","date_gmt":"2018-09-21T06:39:12","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10306"},"modified":"2018-09-21T13:39:12","modified_gmt":"2018-09-21T06:39:12","slug":"para-petualang-via-kapal-yacht-menyatakan-puas-keliling-sumbawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/para-petualang-via-kapal-yacht-menyatakan-puas-keliling-sumbawa\/","title":{"rendered":"Para Petualang via Kapal Yacht Menyatakan Puas Keliling Sumbawa"},"content":{"rendered":"<p>Indonesia diharapkan memperbaiki sarana agar masa tinggal para\u00a0<em>yachter\u00a0<\/em>asing di negeri ini bisa lebih lama. Setiap tahun Indonesia dilintasi sekitar 3000 kapal layar\u00a0<em>yacht\u00a0<\/em>yang melakukan perjalanan wisata dari mancanegara.<\/p>\n<p>Mereka kebayakan melakukan perjalanan mulai Amerika Serikat melintasi Hawai, Fiji, Darwin dan menuju Australia. Sedang yang berasal dari Eropah melintasi Malaysia dan Singapura. Petualangan juga biasa dilakukan\u00a0<em>yachter<\/em>\u00a0dari Selandia Baru, Darwin, Australia, Oysterela yang mengikuti Atlantic Rally for Cruiser.<\/p>\n<p>\u201cNamun, karena masih terbatasnya infrastruktur, penikmat wisata menumpang\u00a0<em>yacht<\/em>\u00a0ini terbatas lama tinggalnya di Indonesia,\u201d kata Rally Organizer Raymond Timotius Lesmana di Dermaga Pelabuhan Cruise Gili Mas Lembar Lombok Barat, Rabu 19\/9.<\/p>\n<p>Raymond berharap Indonesia yang memiliki pulau hingga 16 ribu ini bisa dinikmati berlama-lama oleh para\u00a0<em>yachter<\/em>. \u201cSupaya jangan hanya melintas saja, perlu dikembangkan infrastruktur sehingga wisatawan mudah berkeliling,\u2019\u2019 kata dia.<\/p>\n<p>Selama ini, untuk menyambut perjalanan kapal layar\u00a0<em>yacht<\/em>, Indonesia sudah menyelenggarakan Sail Indonesia. Dalam perhelatan ini\u00a0<em>yachter<\/em>\u00a0melayari jalur Aceh, Belitung, Bintan &#8211; Tanjung Pinang, Kalimantan, Lovina (Bali), Medana (Lombok Utara), Labuan Badas (Sumbawa), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Tual (Maluku), dan Bitung (Sulawesi Utara).<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumbawa Junaidi mengatakan 37\u00a0<em>yachter<\/em>\u00a0yang singgah di Sumbawa menghabiskan waktunya selama dua pekan. Mereka dibawa pesiar ke kampung budaya Batu Dulang, Kampung industri kerajinan Pernek di Moyo Hulu dan kampong industri tenunan di Moyo Hilir.<\/p>\n<p>Para peserta juga menyaksikan\u00a0<em>Barapan Kebo<\/em>\u00a0(balap kerbau) yang hanya ada di sana selain di India. \u2018\u2019Bahkan mereka diajak mengikuti paket wisata Hiu Paus di Labuhan Jambu,\u2019\u2019 ucapnya.<\/p>\n<p>Diana Gorch (Amerika Serikat) yang menumpang\u00a0<em>yacht<\/em>\u00a0<em>Syl Samara<\/em>\u00a0II dan Michael Foote (Skotlandia) yang menumpang\u00a0<em>Romano<\/em>\u00a0mengaku puas keliling Lombok dan Sumbawa. \u201cIndah dan fantastik. Di mana-mana kami disapa,\u201d ujar Michael Foote.<\/p>\n<p>Sedangkan Diana Gorch menyatakan tidak kawatir adanya kejadian gempa. \u201cTidak masalah kalau ada gempa. Alamnya indah,\u201d\u2019 kata dia. Diana mengaku sudah berkeliling Lombok mendatangi obyek wisata air terjun Benang Stokel.<\/p>\n<p><em>travel.tempo.co\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">Phinemo<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia diharapkan memperbaiki sarana agar masa tinggal para\u00a0yachter\u00a0asing di negeri ini bisa lebih lama. Setiap tahun Indonesia dilintasi sekitar 3000 kapal layar\u00a0yacht\u00a0yang melakukan perjalanan wisata dari mancanegara. Mereka kebayakan melakukan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10307,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,140],"tags":[],"class_list":["post-10306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-sumbawa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10306"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10306\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}