{"id":10417,"date":"2018-10-08T12:42:36","date_gmt":"2018-10-08T05:42:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10417"},"modified":"2018-10-08T12:42:36","modified_gmt":"2018-10-08T05:42:36","slug":"yoyakarta-bertekad-pertahankan-predikat-kota-batik-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/yoyakarta-bertekad-pertahankan-predikat-kota-batik-dunia\/","title":{"rendered":"Yoyakarta Bertekad Pertahankan Predikat Kota Batik Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, GKR Hemas bertekad untuk mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.<\/p>\n<p>Hemas meminta predikat yang sudah disandang selama dua tahun ini harus dipertahankan. Caranya dengan melestarikan seni batik dan memanfaatkan untuk fashion di beberapa acara. \u201cSekarang sedang penilaian ketiga kali. Kita harus pertahankan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia,\u201d kata GKR Hemas dalam Gebyar Sewu canting dan peresmian Joglo Nithik Canting di Gulurejo, Lendah, Kulonprogo, Sabtu (6\/10\/2018).<\/p>\n<p>Menurut Hemas, saat ini banyak kompetitor dari beberapa daerah di Jawa. Mulai dari Jawa Barat, sampai jawa Timur, industri batiknya tumbuh. Namun Yogyakarta memiliki keunggulan pada sejarah batik yang diciptakan sejak manusia lahir sampai dengan meninggal. \u201cPekalongan ada sejarahnya, tetapi Yogyakarta batik diciptakan sejak manusia lahir sampai meninggal,\u201d kata Hemas didampingi Presiden World Craft Council (WCC) Ghadda Hijjawi Qadumi.<\/p>\n<p>Hemas juga kagum melihat aktivitas membatik di sentral batik Desa Gulurejo, Ngentakrejo maupun Sidorejo. Apalagi ketika mengetahui jika batik di Kulonprogo dipakai pelajar dari jenjang SD sampai SMA.\u00a0\u201cSemoga kegiatan ini bisa mendukung Yogyakarta kembali ditetapkan sebagai kota batik dunia,\u201d ucap Hemas.<\/p>\n<p>Dirut Bank BPD DIY, Santoso Rohmad mengatakan, joglo dan limasan yang ada di komplek Joglo Nitik Canthing merupakan bantuan program CSR bank BPD DIY. Selama 2018 Bank BPD DIY telah menyalurkan CSR sebanyak Rp8 miliar dan pada 2019 nanti pihaknya berharap dana CSR bisa bertambah. \u201cBangunan ini semoga menjadi tempat membatik dan\u00a0<em>workshop<\/em>\u00a0batik di Kulonprogo,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Wakil Ketua Asosiasi Prajin Batik Kulonprogo, Umbuk Haryanto mengatakan, dengan diresmikannya Pendopo Nithik Canthing diharapkan Desa Gulurejo bisa dijadikan sentra wisata batik. Gebyar Sewu Canthing 2018 menjadi bagian untuk menarik wisatawan. Saat ini tercatat sekitar 3.000 warga Kulonprogo menggantungkan hidupnya dari kerajinan batik.<\/p>\n<p>&#8220;Jumlah tersebut mungkin bertambah seiring meningkatnya jumlah pesanan dan makin banyaknya motif batik Kulonprogo yang bersumber batik geblek renteng,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Peresmian\u00a0komplek batik itu\u00a0dimeriahkan dengan kegiatan membatik bersama yang melibatkan sekitar 500 pembatik di atas kain sepanjang 500 meter.\u00a0\u00a0Selain itu,\u00a0<em>fashion show<\/em>\u00a0batik yang yang diperagakan model maupun dari berbagai kalangan. Termasuk Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dan istri, serta Wabup Sutedjo dan istri. \u201cHarapan kita dengan fasilitas ini, akan mendukung Lendah sebagai destinasi wisata batik,\u201d kata Hasto Wardoyo.<\/p>\n<p><em>inews.id\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">lipi.go.id<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, GKR Hemas bertekad untuk mempertahankan predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Hemas meminta predikat yang sudah disandang selama dua tahun ini harus dipertahankan.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10418,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,87],"tags":[],"class_list":["post-10417","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-yogyakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10417"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10417\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}