{"id":10593,"date":"2018-11-12T12:42:14","date_gmt":"2018-11-12T05:42:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10593"},"modified":"2018-11-12T12:42:14","modified_gmt":"2018-11-12T05:42:14","slug":"pembukaan-festival-budaya-nusantara-di-kota-tangerang-berlangsung-meriah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/pembukaan-festival-budaya-nusantara-di-kota-tangerang-berlangsung-meriah\/","title":{"rendered":"Pembukaan Festival Budaya Nusantara di Kota Tangerang Berlangsung Meriah"},"content":{"rendered":"<p><strong>TANGERANG &#8211;<\/strong>\u00a0Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota\u00a0Tangerang\u00a0kembali menggelar\u00a0Festival Budaya Nusantara\u00a02018.<\/p>\n<p>Pembukaan festival kedua tersebut berlangsung dalam kemeriahan warna-warni budaya Indonesia yang dilaksanakan pada Minggu, (11\/11\/2018).<\/p>\n<p>Pagelaran Festival Budaya dibuka dengan parade pakaian adat dari seluruh SKPD lingkup Pemerintah Kota\u00a0Tangerang\u00a0dan komunitas budaya se-nusantara di Lapangan Ahmad Yani, Kota\u00a0Tangerang.<\/p>\n<p>Para peserta karnaval budaya dengan kompak berjalan sambil diiringi musik tanjidor hingga sampai di Kantor Pusat Pemerintahan Kota\u00a0Tangerang\u00a0secara beriring-iringan.<\/p>\n<p>Saat tiba dititik akhir tersebut, para peserta karnaval menampilkan atraksinya secara bergantian dihadapan Wali Kota\u00a0Tangerang\u00a0Arief R Wismansyah beserta jajarannya.<\/p>\n<p>Ratusan peserta melakukan tarian Kolosal Anggana Raras, Barongsai, Tari Liong Vihara Bun San Bio serta\u00a0Tangerang\u00a0Fashion Carnival hingga Marching Band Tya Dita.<\/p>\n<p>Sementara di panggung festival Nusantara 2 menampilkan atraksi budaya dari daerah lain seperti Lebak, Serang, Pandeglang dan dari luar Banten seperti Kediri.<\/p>\n<p>Ditampilkan juga Cilegon Etnic Carnival, Serang Fashion Batik Carnival, Komunitas Penjahit Kota\u00a0Tangerang\u00a0dan Kabupaten\u00a0Tangerang\u00a0hingga Makassar Fashion Carnival Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan.<\/p>\n<p>&#8220;Alhamdulillah Pemerintah Kota\u00a0Tangerang\u00a0menyambut\u00a0Hari Pahlawan\u00a0Nasional mengadakan kegiatan Festival Budaya 2018 yang kedua dengan diikuti kurang lebih 2.100 peserta dengan 51 rangkaian,&#8221; ujar Wali Kota\u00a0Tangerang\u00a0dalam keterangan resminya, Minggu (11\/11\/2018).<\/p>\n<p>Ia melanjutkan,\u00a0Festival Budaya Nusantara\u00a0ke-2 ini menjadi semangat bagi seluruh masyarakat Kota\u00a0Tangerang\u00a0untuk melestarikan budaya Indonesia yang teramat indah.<\/p>\n<p>&#8220;Kita berharap juga kepada generasi milenial ikut menjaga dan melestarikan. Karena bagaimanapun juga budaya ini adalah warisan luhur para pejuang, para budayawan, para seniman yang harus kita jaga dan lestarikan dan inilah kekayaan Indonesia,&#8221; ujar Arief.<\/p>\n<p>Menurutnya, seluruh daerah melebur menjadi satu yang dengan harus membanggakan budaya Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Ini menunjukkan keberagaman Indonesia di Kota\u00a0Tangerang. Sebagai miniatur Indonesia, tentu keheterogenan masyarakat menjadi sebuah kekayaan yang harus kita jaga dan lestarikan,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota\u00a0Tangerang\u00a0Rina Hernaningsih menuturkan, yang membedakan festival budaya dari tahun sebelumnya adalah jumlah daerah yang ikut semakin banyak, yakni 19 kabupaten atau kota.<\/p>\n<p>&#8220;Ini ada 9 chef yang mempertunjukan beberapa keahliannya yang membuat masakan khas Provinsi Banten. Kemudian juga untuk tenant-tenant dan stand lebih banyak,&#8221; beber Rina.<\/p>\n<p><em>tribunnews.com\/Image\u00a0<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TANGERANG &#8211;\u00a0Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota\u00a0Tangerang\u00a0kembali menggelar\u00a0Festival Budaya Nusantara\u00a02018. Pembukaan festival kedua tersebut berlangsung dalam kemeriahan warna-warni budaya Indonesia yang dilaksanakan pada Minggu, (11\/11\/2018). Pagelaran Festival Budaya dibuka dengan parade&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10594,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,132],"tags":[],"class_list":["post-10593","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-tangerang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10593","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10593"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10593\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10593"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10593"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10593"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}