{"id":10700,"date":"2018-12-05T10:05:31","date_gmt":"2018-12-05T03:05:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10700"},"modified":"2018-12-05T10:05:31","modified_gmt":"2018-12-05T03:05:31","slug":"jakarta-bersiap-jadi-pusat-seni-dan-budaya-asia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/jakarta-bersiap-jadi-pusat-seni-dan-budaya-asia\/","title":{"rendered":"Jakarta Bersiap Jadi Pusat Seni dan Budaya Asia"},"content":{"rendered":"<p><b>Jakarta<\/b>\u00a0&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Melalui perbaikan sarana tersebut diharapkan akan membawa Jakarta menjadi pusat kesenian dan budaya di Asia.<\/p>\n<p>Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mengatakan revitalisasi TIM menjadi bagian untuk membawa Jakarta sebagai pusat seni dan kebudayaan Asia.<\/p>\n<p>\u201cSudah saatnya, Jakarta memiliki pusat kesenian berkelas internasional. Dan saya ingin Jakarta bisa menjadi tuan rumah bagi perhelatan kesenian dan kebudayaan dunia. Itu artinya kerja besar bagi kita semua yang ada di tempat ini,\u201d papar Anies.<\/p>\n<p>Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi DKI Jakarta, Asiantoro, memaparkan bahwa revitalisasi TIM akan dimulai pada tahun 2019. Revitalisasi tersebut akan dilakukan selama dua tahun.<\/p>\n<p>\u201cPada tahun pertama (red-2019) akan dilakukan pembangunan gedung baru beserta fasilitas penunjang. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 501,5 miliar,\u201d ungkap Asiantoro.<\/p>\n<p>Kemudian pembangunan dilanjutkan pada tahun 2020. Revitalisasi dilakukan terhadap bangunan eksisting dan penataan ruang terbuka hijau.<\/p>\n<p>\u201cDi tahun ini dialokasikan anggaran sebesar Rp 1,3 triliun. Jadi total anggaran yang dibutuhkan Rp 1,8 triliun. Pembangunan akan dilakukan oleh PT Jakpro,\u201d kata Asiantoro.<\/p>\n<p>Adapun revitalisasi TIM akan dibangun oleh arsitek ternama, Isandra Matin atau Andra Matin. Ia merupakan arsitek yang membangun Bandara Banyuwangi dengan konsep\u00a0<em>green airport<\/em>. Andra mengatakan desain revitalisasi dirancang untuk mengembalikan nafas atau\u00a0<em>soul<\/em>\u00a0TIM saat pertama kali dibuat tahun 1968. Yakni bangunan yang sangat inklusif, terbuka, dan guyub.<\/p>\n<p>Andra menegaskan revitalisasi akan menjadikan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) TIM menjadi taman yang besar. Sehingga dapat menjadi tempat para seniman untuk praktik, latihan, dan mempertunjukkan seninya di luar ruangan (outdoor).<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat dapat melihat mereka berlatih atau sekadar menikmati ruang terbuka hijau. Sehingga, PKJ TIM menjadi tempat yang inklusif bagi para seniman dan masyarakat,\u201d tukas Andra.<\/p>\n<p>Revitalisasi akan berlangsung dalam beberapa tahap. Di antaranya, membuat bangunan baru untuk merelokasi sementara semua kegiatan. Kemudian, bangunan lama akan dipugar. Seperti mengubah lahan parkir menjadi taman, dan memindahkan tempat parkir ke bawah (basement) bangunan yang baru.<\/p>\n<p>Bangunan teater Jakarta dan Planetarium tetap dipertahankan karena termasuk bangunan bersejarah dan dan masih berfungsi baik.<\/p>\n<p>\u201cInterior Planetarium pertahankan. Namun, eksteriornya akan menyesuaikan dengan desain yang baru,\u201d pungkas Andra.<\/p>\n<p><em>liputan6.com\/Image\u00a0Humas Pemprov DKI Jakarta<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta\u00a0&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Melalui perbaikan sarana tersebut diharapkan akan membawa Jakarta menjadi pusat kesenian dan budaya di Asia. Gubernur Provinsi DKI Jakarta,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10701,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-10700","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10700"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10700\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}