{"id":10730,"date":"2018-12-10T13:56:53","date_gmt":"2018-12-10T06:56:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10730"},"modified":"2018-12-10T13:56:53","modified_gmt":"2018-12-10T06:56:53","slug":"jokowi-tekankan-jaga-budaya-indonesia-di-tengah-belantara-budaya-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/jokowi-tekankan-jaga-budaya-indonesia-di-tengah-belantara-budaya-dunia\/","title":{"rendered":"Jokowi Tekankan Jaga Budaya Indonesia di Tengah Belantara Budaya Dunia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jakarta<\/strong> &#8211; Presiden Joko Widodo menekankan untuk menjaga budaya Indonesia di tengah belantara budaya Dunia.<\/p>\n<p>&#8220;Menjaga budaya untuk terus tumbuh di tengah interaksi belantara budaya-budaya dunia adalah\u00a0tantangannya,&#8221; kata Jokowi dalam keterangan yang diterima.<\/p>\n<p>Keragaman budaya dan Pancasila adalah identitas bangsa Indonesia, dimana sebagai bangsa besar yang<br \/>\ndibangun di atas keragaman budaya, agama, bahasa, etnis, dan suku bangsa yang direkatkan oleh Pancasila<br \/>\nadalah kunci untuk bertahan di tengah persaingan megatren peradaban dunia, kata Presiden.<\/p>\n<p>Presiden melanjutkan, hal tersebut tentunya harus didukung secara penuh oleh seluruh elemen bangsa dan<br \/>\nmerupakan tanggung jawab Pemerintah untuk mengorkestrasi upaya membangkitkan optimisme yang<br \/>\nmampu menggugah rasa nasionalisme dan kebanggaan menjadi Indonesia.<\/p>\n<p>Dari sisi pemajuan budaya, pertama kalinya Indonesia memiliki UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5\/2017<br \/>\nyang menjadi arah pemajuan kebudayaan nasional dan bertujuan untuk memperteguh persatuan dan<br \/>\nkesatuan bangsa.<\/p>\n<p>Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, telah ditetapkan 255<br \/>\nWarisan Budaya Takbenda dalam Acara Apresiasi Warisan Budaya Takbenda Tahun 2018. Juga telah<br \/>\ndiserahkan sertikat penghargaan kepada 30 provinsi yang karya budayanya telah ditetapkan menjadi<br \/>\nWarisan Budaya Takbenda Indonesia.<\/p>\n<p>Dengan penetapan ini, Indonesia memiliki 819 Warisan Budaya Takbenda dari 8.065 karya budaya dan<br \/>\nPresiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus aktif meluhuri dan melestarikan budaya<br \/>\nbangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Apalagi mengingat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat serta semakin tingginya penetrasi budaya lain yang masuk ke Indonesia, kata Presiden dalam sambutannya saat menghadiri acara Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (9\/12) malam.<\/p>\n<p>&#8220;Kita harus selalu ingat untuk terus aktif meluhuri kebudayaan Indonesia, kebudayaan nusantara dan<br \/>\nsekaligus menguatkan dan mengembangkannya dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut,&#8221; kata<br \/>\nKepala Negara.<\/p>\n<p>Presiden meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki kekhasan sendiri dibanding bangsa-bangsa lain.<\/p>\n<p>Menurutnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta peradaban bangsa Indonesia lahir dari pengalaman<br \/>\npanjang menghadapi perkembangan zaman dan upaya dalam memecahkan persoalan-persoalan yang ada.<\/p>\n<p>Untuk itu, tegasnya, tu, mengakar kuat kepada peradaban Indonesia adalah utama, tetapi menjaga budaya<br \/>\nuntuk terus tumbuh di tengah interaksi belantara budaya-budaya dunia adalah tantangannya.<\/p>\n<p><em>ANTARA<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Presiden Joko Widodo menekankan untuk menjaga budaya Indonesia di tengah belantara budaya Dunia. &#8220;Menjaga budaya untuk terus tumbuh di tengah interaksi belantara budaya-budaya dunia adalah\u00a0tantangannya,&#8221; kata Jokowi dalam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10732,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,79],"tags":[],"class_list":["post-10730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-jkpi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10730"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10730\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}