{"id":10756,"date":"2018-12-17T10:44:15","date_gmt":"2018-12-17T03:44:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10756"},"modified":"2018-12-17T10:44:15","modified_gmt":"2018-12-17T03:44:15","slug":"festival-tunggul-kawung-kota-bogor-siap-digelar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/festival-tunggul-kawung-kota-bogor-siap-digelar\/","title":{"rendered":"Festival Tunggul Kawung Kota Bogor Siap Digelar"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bogor<\/strong>\u00a0 &#8211; Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B), Jawa Barat, kembali siap menyelenggarakan Festival Tunggul Kawung yang akan menjad festival monumental penutup tahun.<\/p>\n<p>&#8220;Festival Tunggul Kawung adalah malam kesenian dan kebudayaan bagi insan seni di Kota Bogor,&#8221; kata Wakil Wali Kota Bogor, Usmar Hariman, di Bogor.<\/p>\n<p>Festival Tunggul Kawung rencananya akan dilaksanakan Rabu (19\/12) malam. Kegiatan ini merupakan agenda rutin DK3B sejak diresmikan tahun 2015.<\/p>\n<p>Berbagai persiapan telah dilakukan, salah satunya menjalin kerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor untuk mendukung terlaksanya kegiatan tersebut.<\/p>\n<p>&#8220;Apa yang kita lakukan ini menjadi kegiatan awal untuk menunjang kegiatan tahunan festival Tunggul Kawung,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Menurut Usmar, perlu ada sinergi antara insan kesenian dengan dunia pariwisata di Kota Bogor. Karena kesenian dan kebudayaan merupakan potensi pariwisata di Kota Bogor.<\/p>\n<p>Ia juga berharap kehadiran DK3B bisa memfasilitasi seluruh unsur yang melakukan kegiatan berkebudayaan, berkesenian yang tidak sekadar menjadi tontonan tapi juga menjadi tuntunan bagi semua di era globalisasi saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan nilai-nilai seni dan budaya harus mampu memberikan edukasi dan ekonomi yang bisa memberikan kehidupan bagi para pelaku, penggiat dan siapapun yang terlibat di dalam seni dan budaya,&#8221; kata Usmar.<\/p>\n<p>Menurutnya, seni dan budaya yang ada bagian dari sektor pariwisata di Kota Bogor. Saat ini kontribusi jasa pariwisata sebagai penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar.<\/p>\n<p>&#8220;Bahkan peran jasa pariwisata utamanya dari aspek ekonomi kreatif jadi salah satu unggulan pemasukan negara yang ditargetkan pada 2019 di angka Rp2,1 triliun,&#8221; kata Usmar.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Shahlan Rasyidi menyebutkan, tahun 2019 Pemerintah Kota Bogor menargetkan kunjungan wisata sebanyak 7.000.000 jiwa.<\/p>\n<p>Disparbud Kota Bogor optimistis mampu mencapai target dengan melakukan beberapa strategi, salah satunya dengan jaringan yang dimiliki.<\/p>\n<p>&#8220;Kami optimistis dapat meningkatkan angka kunjungan wisata sekaligus menggenjot peningkatan PAD,&#8221; kata Shahlan.<\/p>\n<p>Ia menyebutkan, potensi seni budaya yang dimiliki Kota Bogor diperhitungkan dan dinilai sangat baik di tingkat Jawa Barat.<\/p>\n<p>Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay menilai unsur seni dan budaya tidak bisa dilepaskan dari dunia pariwisata.<\/p>\n<p>&#8220;Upaya menyinergikan budaya dan seni ke dalam paket hotel dan pariwisata sudah seharusnya akan lebih mudah terwujud,&#8221; kata Yuno.<\/p>\n<p><em>ANTARA\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">Sportourism<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bogor\u00a0 &#8211; Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B), Jawa Barat, kembali siap menyelenggarakan Festival Tunggul Kawung yang akan menjad festival monumental penutup tahun. &#8220;Festival Tunggul Kawung adalah malam kesenian&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10757,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,78],"tags":[],"class_list":["post-10756","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-bogor"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10756"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10756\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}