{"id":10773,"date":"2018-12-19T14:47:37","date_gmt":"2018-12-19T07:47:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=10773"},"modified":"2018-12-19T14:47:37","modified_gmt":"2018-12-19T07:47:37","slug":"5-pantai-yang-asyik-disusuri-di-belitung-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/5-pantai-yang-asyik-disusuri-di-belitung-timur\/","title":{"rendered":"5 Pantai Yang Asyik Disusuri di Belitung Timur"},"content":{"rendered":"<p><span class=\"s1\">Pesona pantai-pantai yang tak jauh dari Tanjung Pandan, ibukota Kabupaten Belitung\u00a0\u00a0sudah dikenal luas oleh wisatawan di negeri ini. Pantai-pantai berpasir putih dengan hiasan batuan granit yang berukuran superbesar dengan bentuk yang berbeda-beda menjadikan pantai-pantai di Tanjung Pandan, Belitung memang mempunyai pesona tersendiri. Namun, bila melakukan perjalanan ke sisi lain dari pulau ini, tepatnya ke Kabupaten Belitung Timur, sejumlah pantai pun bisa ditemukan. Dan beberapa cukup menawan, tentunya bisa menjadi tujuan liburan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><strong>1. Pantai Punai<\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Pantai berada di pesisir selatan Pulau Belitung, tepatnya di Desa Tanjung Kelumpang, Kecamatan Simpang Pesak, Belitung Timur. Pantai yang menghadap langsung ke Laut Jawa ini menawarkan keindahan senja saat mentari kembali ke peraduan. Dari Tanjung Pandan bisa dicapai dalam 1 jam 30 menit perjalanan dengan kendaraan roda 4.\u00a0 Pantai sudah dilengkapi oleh gazebo untuk duduk santai dan kamar mandi. Bahkan juga\u00a0<em>cottage<\/em>\u00a0bagi yang menginap. Pantai dihiasi berbagai batuan dengan ukuran yang berbeda-beda, membuat tampilan lebih indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><strong>2. Pantai Burung Mandi\u00a0<\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Di wilayah Belitung Timur, Pantai Burung Mandi termasuk yang populer. Biasanya inilah pantai yang dituju wisatawan bisa berlibur di kabupaten ini. Dari Mangar, ibukota kabupaten Belitung Timur, jaraknya sekitar 21 kilometer sedangkan dari Bandara H.A.S Hanandjoeddin di Tanjung Pandan sekitar 77 kilometer. Pantai ini agak berbeda dengan pantai umumnya di Pulau Belitung. Panjang sekitar 2 kilometer, dan cukup landai tetapi tidak dihiasi batuan granit seperti umumnya pantai di pulau ini. Disebut Burung Mandi, karena di dekat pantai berpasir putih halus ini ada gunung bernama Burung Mandi. Di tepian pantai berjajar pohon cemara laut dan pohon kelapa. Untuk melepas haus bisa menyeruput air kelapa muda sembari menikmati laut. Bahkan bila lapar pun bisa pesan ikan kerisi panggang, sedap bukan! Di sini tempat menikmati indahnya mentari kala terbit.<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><strong>3. Pantai Bukit Batu\u00a0<\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\">Nah, pantai yang satu ini seperti kebanyakan pantai di Pulau Belitung. Di tepian pantai dihiasi batuan granit dengan beragam bentuk dan ukuran. Pantai ini seakan terbagi menjadi beberapa pantai terpisah karena bebatuan dan pepohonan yang memisahkan bagian-bagian pesisir pantai. Lokasinya \u00a0tak jauh dari Pantai Burung Mandi, jarak keduanya sekitar 2 kilometer. Tergolong masih sepi dan bersih sekali, untuk mencapainya melalui daerah kawasan pepohonan nan hijau dan harus menuruni sejumlah anak tangga. Sesuai namanya, pantai memang berada di balik sebuah bukit. Pantai ini terbagi menjadi dua bagian, yang satu sisi berupa pasir putih nan halus, sedangkan sisi lain penuh dengan batuan beraneka bentuk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><strong>4.\u00a0Pantai Nyiur Melambai\u00a0<\/strong><\/p>\n<p class=\"p2\">Masyakarat setempatnya menyebutknya Pantai Lalang karena berada di Dusun Sawah, Desa Lalang,\u00a0<span class=\"s1\">Kecamatan Manggar. Dari psuat\u00a0kota Manggar, jaraknya sekitar 7 kilometer.\u00a0Lokasinya tak jauh dari Bukit Samak, sehingga dari pantai terlihat kehijauan dari bukit tersebut. Pantai berpasir putih halus ini berhias pohon cemara yang rindang. Diberi nama pantai Nyiur Melambai karena dulu banyak pohon kelapa dan bila angin bertiup daunnya melambai-lambai. Di sini sembari bersantai, bisa nikmati hidangan mi Belitung dan gangan\u00a0di kedai-kedai di tepi pantai.<\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><strong><span class=\"s1\">5. Pantai Pulau Keran<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"p2\"><span class=\"s1\">Yang satu ini mungkin belum banyak dikenal. Pulau Keran merupakan pulau kecil yang bisa dicapai dari dermaga\u00a0Desa Cendil, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur. Dari desa ini, dermaga bisa dicapai dalam 20 menit, sedangkan perjalanan di laut menuju Pulau Keran selama 30 menit. Keunikannya, pulau ini memiliki pasir timbul yang ada saat laut surut maupun pasang. Pasir putih halus ini menjadi tempat bermain yang asyik. Di sini wisatawan bisa\u00a0<em>snorkeling<\/em>, menyelam, memancing dan berkemah.<\/span><\/p>\n<p><em>travel.tempo.co\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">Babel.com<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pesona pantai-pantai yang tak jauh dari Tanjung Pandan, ibukota Kabupaten Belitung\u00a0\u00a0sudah dikenal luas oleh wisatawan di negeri ini. Pantai-pantai berpasir putih dengan hiasan batuan granit yang berukuran superbesar dengan bentuk&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10774,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,145],"tags":[],"class_list":["post-10773","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-belitung-timur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10773","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10773"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10773\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10773"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10773"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10773"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}