{"id":12334,"date":"2021-08-10T17:38:40","date_gmt":"2021-08-10T10:38:40","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12334"},"modified":"2021-08-10T17:38:40","modified_gmt":"2021-08-10T10:38:40","slug":"sejarah-peringatan-satu-suro-yang-diadakan-sejak-kerajaan-mataram-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sejarah-peringatan-satu-suro-yang-diadakan-sejak-kerajaan-mataram-islam\/","title":{"rendered":"Sejarah Peringatan Satu Suro Yang Diadakan Sejak Kerajaan Mataram Islam"},"content":{"rendered":"<p>Tahun ini, perayaan Satu Suro jatuh pada 10 Agustus 2021, meski hari libur nasionalnya digeser menjadi 11 Agustus.<\/p>\n<p>Dalam merayakan pergantian Tahun Baru Jawa atau Tahun Baru Islam ini, biasanya masyarakat Jawa melakukan sejumlah ritual dan tradisi pada malam hari sebelumnya.<\/p>\n<p>Di Kota Surakarta terdapat tradisi Kirab Kebo Bule. Beberapa ekor kebo bule yang merupakan pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat akan diarak keliling kota.<\/p>\n<p>Sebagian masyarakat Surakarta dikatakan percaya bahwa kerbau-kerbau tersebut merupakan turunan dari Kebo Bule Kiai Slamet yang dianggap keramat.<\/p>\n<p>Kendati demikian, bagaimana awal mula dan sejarah terjadinya perayaan malam satu suro atau malam Tahun Baru Hijriah?<\/p>\n<h5><strong>Sejarah peringatan malam satu suro <\/strong><\/h5>\n<p>Penetapan satu suro sebagai Tahun Baru Jawa telah dilakukan sejak zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma atau yang dikenal sebagai Sultan Agung.<\/p>\n<p>Ia merupakan Sultan <strong>Kerajaan Mataram<\/strong> Islam pada 1613-1645 dan mendapat gelar Wali Radja Mataram dari para ulama.<\/p>\n<p>Adapun, penyematan gelar tersebut dilakukan karena dia berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam tanpa menghapus tradisi Jawa.<\/p>\n<p>Pada 1633 Masehi, atau pada tahun Jawa 1555, Sultan Agung mengadakan selametan secara besar-besaran. Dalam pesta tersebut, dia juga menetapkan Satu Suro sebagai tanda Tahun Baru Jawa.<\/p>\n<p>Namun, keputusan tersebut diambil setelah dilakukan perpaduan kalender Hijriah dan kalender Jawa.<\/p>\n<p>Keputusan juga diambil dengan memadukan sistem penanggalan Islam, Hindu, dan sedikit pengaruh penanggalan Julian dari Barat.<\/p>\n<h5><strong>Pengeluaran dekrit satu suro <\/strong><\/h5>\n<p>Setelah mengambil keputusan tersebut, Sultan Agung dari Kerajaan Mataram mengeluarkan sebuah dekrit.<\/p>\n<p>Dekrit tersebut menyatakan, adanya penggantian penanggalan Saka yang berbasis putaran matahari dengan kalender Qamariah yang berbasis putaran bulan.<\/p>\n<p>Adanya perubahan tersebut membuat setiap angka tahun Jawa diteruskan dan berkesinambungan dengan tahun Saka.<\/p>\n<p>Adapun menurut informasi dalam Belajar.kemdikbud.go.id, penetapan 1 Muharam sebagai awal kalender Islam telah dilakukan sejak zaman Khalifah Umar bin Khatab.<\/p>\n<p><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahun ini, perayaan Satu Suro jatuh pada 10 Agustus 2021, meski hari libur nasionalnya digeser menjadi 11 Agustus. Dalam merayakan pergantian Tahun Baru Jawa atau Tahun Baru Islam ini, biasanya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,72],"tags":[],"class_list":["post-12334","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-surakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12334"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12334\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}