{"id":12345,"date":"2021-08-12T14:34:16","date_gmt":"2021-08-12T07:34:16","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12345"},"modified":"2021-08-12T14:34:16","modified_gmt":"2021-08-12T07:34:16","slug":"kisah-penahanan-bung-hatta-di-pesanggrahan-menumbing-bangka-barat-i","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/kisah-penahanan-bung-hatta-di-pesanggrahan-menumbing-bangka-barat-i\/","title":{"rendered":"Kisah Penahanan Bung Hatta di Pesanggrahan Menumbing Bangka Barat (I)"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANGKA BARAT<\/strong> &#8211; Garis penanda berukuran 4&#215;6 meter masih terpampang jelas di Pesanggrahan Menumbing, Puncak Menumbing, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.<\/p>\n<p>Di situ dulunya dibangun sebuah kerangkeng atau sejenis ruang tahanan bagi tokoh proklamator bangsa, Mohammad Hatta.<\/p>\n<p>Penahanan Bung Hatta dilakukan Belanda demi meredam percikan api kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.<\/p>\n<p>&#8220;Di sini dulunya ada kerangkeng tempat Bung Hatta yang dulunya Wakil Presiden sekaligus Perdana Menteri dan Sekretaris Negara AG Pringgodigdo ditahan,&#8221; kata Kepala Seksi Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat M Ferhad Irvan kepada Kompas.com di Pesanggrahan Menumbing, Rabu (11\/8\/2021).<\/p>\n<p>Lokasi kerangkeng dan sketsanya kini masih terpajang di salah satu ruangan di Pesanggrahan Menumbing.<\/p>\n<p>Ferhad memperkirakan, kerangkeng tersebut dibuat dari kayu dalam keadaan tergesa-gesa.<\/p>\n<p>Sebab, sejatinya Pesanggrahan Menumbing dibuat untuk tempat bersantai para bangsawan Belanda.<\/p>\n<p>Namun, buntut dari agresi militer Belanda II di Yogyakarta, Pesanggrahan Menumbing dijadikan sebagai lokasi tahanan para pendiri bangsa.<\/p>\n<p>Ketika itu, para pemimpin bangsa di bawah todongan senjata pasukan Belanda, dipaksa meninggalkan Yogyakarta.<\/p>\n<p>&#8220;Kerangkeng ini dibuat karena desain ruangan ini memang bukan untuk tahanan. Rombongan Bung Hatta tiba 22 Desember 1948,&#8221; ujar Ferhad.<\/p>\n<p>Namun, penahanan Bung Hatta dalam kerangkeng tidak berlangsung lama.<\/p>\n<p>Utusan Perserikatan Banga-Bangsa (PBB) datang ke Pesanggarahan Menumbing dan melihat kondisi ruang tahanan yang tidak layak.<\/p>\n<p>Bahkan, kondisi ruang tahanan tidak sesuai dengan laporan Belanda yang disampaikan ke PBB.<\/p>\n<p>&#8220;Akhirnya kerangkeng dibongkar dan para pemimpin bangsa tinggal di kamar masing-masing selayaknya tinggal di rumah,&#8221; ujar Ferhad.<\/p>\n<p>Sejarawan Bangka Belitung, Akhmad Elvian, juga mengungkapkan hal senada.<\/p>\n<p>Menurut Elvian, kerangkeng dibuat karena Belanda sangat khawatir pendiri bangsa diculik atau melarikan diri.<\/p>\n<p>Sebab, ketika itu masyarakat setempat sangat mendukung proklamasi kemerdekaan dan mendukung perjuangan yang sedang dilakukan, termasuk oleh Bung Hatta.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi ini sekaligus meluruskan informasi bahwa yang tinggal di Pesanggrahan Menumbing itu adalah Bung Hatta.<\/p>\n<p>Sementara Bung Karno datang, kemudian tinggal di bawah, di Wisma Ranggam atau Bangka Tin Winning (BTW), bangunan untuk pejabat timah ketika itu,&#8221; ungkap Elvian.<\/p>\n<p>Jarak antara Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam terpaut sekitar 6 kilometer.<\/p>\n<p><em>regional.kompas.com\/image ANTARA<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANGKA BARAT &#8211; Garis penanda berukuran 4&#215;6 meter masih terpampang jelas di Pesanggrahan Menumbing, Puncak Menumbing, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Di situ dulunya dibangun sebuah kerangkeng atau sejenis ruang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12346,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,113],"tags":[],"class_list":["post-12345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-bangka-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12345"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12345\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12346"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}