{"id":12351,"date":"2021-08-15T12:37:47","date_gmt":"2021-08-15T05:37:47","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12351"},"modified":"2021-08-15T12:37:47","modified_gmt":"2021-08-15T05:37:47","slug":"unesco-tetapkan-kopenhagen-sebagai-ibu-kota-arsitektur-dunia-2023","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/unesco-tetapkan-kopenhagen-sebagai-ibu-kota-arsitektur-dunia-2023\/","title":{"rendered":"UNESCO Tetapkan Kopenhagen Sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia 2023"},"content":{"rendered":"<p>Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Dunia (UNESCO) resmi menetapkan kota\u00a0Kopenhagen, Denmark, sebagai Ibu Kota\u00a0Arsitektur\u00a0Dunia untuk tahun 2023.<\/p>\n<p>Direktur Jenderal\u00a0UNESCO Audrey Azoulay mengeluarkan keputusan tersebut setelah mendapat rekomendasi dari\u00a0Majelis Umum Persatuan Arsitek Internasional (UIA).<\/p>\n<p>Lengkapnya, keputusan tersebut dibuat sesuai perjanjian kemitraan\u00a0antara kedua belah pihak pada 2018, sebagaimana yang diberitakan dalam\u00a0situs resmi UNESCO.<\/p>\n<p>&#8220;Kami sangat senang melihat obor gelar Ibu Kota Arsitektur Dunia bisa beralih ke Kopenhagen dari Rio de Janeiro,&#8221;\u00a0kata Audrey.<\/p>\n<p>&#8220;Peresmian Ibu Kota Arsitektur Dunia di Rio adalah contoh sukses bagaimana adanya peran penting\u00a0perencanaan kota, terutama dalam konteks pandemi,&#8221; sambungnya.<\/p>\n<p>Sehingga, Audrey pun berharap,\u00a0Kopenhagen dapat mengikuti prestasi Rio dalam\u00a0menunjukkan posisi\u00a0arsitektur\u00a0dan budaya sebagai jawaban dari tantangan masa kini, terutama di bidang lingkungan.<\/p>\n<p>Guna mendukung langkah tersebut,\u00a0UNESCO dan UIA juga telah meyiapkan beberapa program untuk menciptakan\u00a0Kopenhagen sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia.<\/p>\n<p>Program-program tersebut nantinya akan menyoroti peran kunci\u00a0arsitektur,\u00a0perencanaan kota, serta budaya dalam membentuk identitas dan pembangunan kota yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Sebagai informasi, setiap tiga tahun sekali, Ibu Kota Arsitektur Dunia yang telah ditetapkan bakal menjadi tuan rumah forum diskusi global tentang perencanaan kota kontemporer dan isu-isu arsitektur.<\/p>\n<p>Kopenhagen, yang menjadi Ibu Kota Arsitektur Dunia pada 2023, pun\u00a0akan menyelenggarakan acara tersebut\u00a0dengan tema Masa Depan Berkelanjutan-Tidak Meninggalkan Seorang Pun.<\/p>\n<p>Bersama Asosiasi Arsitek Denmark dan sejumlah badan profesional Nordik, pembahasan mengenai arsitektur dan desain perkotaan dalam forum tersebut akan banyak mengacu pada\u00a0Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau\u00a0<em>Sustainable Development Goals<\/em>\u00a0(SDGs).<\/p>\n<p>Setelah Kopenhagen, kandidat berikutnya sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia untuk tahun 2026 adalah\u00a0Barcelona dan Beijing. Keputusannya bakal diumumkan pada akhir tahun ini.<\/p>\n<p><em>kompas.tv<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Dunia (UNESCO) resmi menetapkan kota\u00a0Kopenhagen, Denmark, sebagai Ibu Kota\u00a0Arsitektur\u00a0Dunia untuk tahun 2023. Direktur Jenderal\u00a0UNESCO Audrey Azoulay mengeluarkan keputusan tersebut setelah mendapat rekomendasi dari\u00a0Majelis Umum Persatuan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12352,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-12351","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12351"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12351\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12352"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}