{"id":12378,"date":"2021-09-10T14:06:57","date_gmt":"2021-09-10T07:06:57","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12378"},"modified":"2021-09-10T14:06:57","modified_gmt":"2021-09-10T07:06:57","slug":"desa-wisata-nglanggeran-wakil-indonesia-di-best-tourism-village-pariwisata-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/desa-wisata-nglanggeran-wakil-indonesia-di-best-tourism-village-pariwisata-dunia\/","title":{"rendered":"Desa Wisata Nglanggeran Wakil Indonesia di Best Tourism Village Pariwisata Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Desa Wisata Nglanggeran\u00a0di Gunungkidul, Yogyakarta terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Desa Wisata Terbaik atau Best Tourism Village dari organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO). Desa ini dikelola sebagai Geopark Gunung Sewu dan pada 2015 berhasil masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark.<\/p>\n<p>Sugeng Handoko, Sekretaris Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengatakan, \u201cKami Bersyukur untuk kesempatan ini. Proses panjang pengembangan Nglanggeran untuk menjaga kelestarian alam melalui pengembangan\u00a0Desa Wisata ternyata mendapat apresiasi banyak pihak,\u201d ujarnya. \u201cDengan pengembangan desa wisata budaya dan kearifan lokal semakin terjaga, membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Sejak kapan Nglanggeran menjadi desa wisata? \u201cSaya sendiri bingung ketika ditanya kapan menjadi Desa Wisata, rintisan sejak 1999 sejak para senior kami dulu di Karang Taruna melakukan gerakan konservasi,\u201d kata Sugeng Handoko. \u201cSaat itu saya masih SD dan juga dilibatkan. Kami intens pengembangan Desa Wisata sejak tahun 2007. Kami mengenali potensi, baik SDM (sumber daya manusia-Red) maupun SDA (sumber daya alam-Red), mengelola potensi itu dan mengenalkan keluar agar menarik untuk dikunjungi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Seiring waktu, keberadaan Desa Wisata Nglanggeran memperoleh pengakuan sebagai destinasi wisata unggulan dan meraih berbagai penghargaan \u00a0antara lain, bersama Organisasi Karang Taruna meraih predikat \u201cJuara 1 Penyelamat Lingkungan\u201d Seleksi Kalpataru 2009 Propinsi DIY, Bersama Pengelola Gunung Api Purba mendapatkan penganugrahan CIPTA Award dari Kemenbudpar RI Tahun 2011\u00a0<em>sebagai presentator saat lomba dan penerima penghargaan<\/em>, bersama Sentra Pemuda TPM, Menjadi UKM Terbaik dalam Program Lomba Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial\u00a0 oleh Yayasan Inovasi Teknologi \u00a0Indonesia (INOTEK) kerjasama PT. Sampoerna. Tbk Tahun 2015.<\/p>\n<p>Selain itu juga, bersama Pokdarwis Nglanggeran, menjadi Pemenang Desa Wisata Terbaik Asean konsep CBT Tahun 2017, dan bersama Pokdarwis Nglanggeran, menjadi Pemenang ASTA (Asean Sustainable Tourism Award) Tahun 2018.<\/p>\n<p>Dalam perjalanan selanjutnya menjadi geopark karena Desa Wisata Nglanggeran berhasil memenuhi konsep pengembangan kawasan dengan tiga unsur utama di dalamnya yaitu\u00a0<em>Geodiversity<\/em>,\u00a0<em>Biodiversity<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Culturaldiversity<\/em>. Menerapkan prinsip konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat untuk mendapatkan ekonomi sehingga bisa tetap menjaga dan melestarikan alam, budaya serta kehidupan di dalamnya.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah,\u00a0Gunung Api Purba Nglanggeran\u00a0menjadi salah satu Geosite di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, diakui ditingkat dunia dan menjadi kebanggan kita bersama,\u201d kata Sugeng Handoko. Desa Wisata Nglanggeran\u00a0menjadi destinasi wisata unggulan di Gunungkidul, Yogyakarta. Pengunjung bukan saja bisa menikmati keindahan asri kawasan ini, tapi dapat pula menginap di rumah warga karena pengelola memberdayakan rumah masyarakat sebagai sebagai home\u00a0stay.<\/p>\n<p><em>travel.tempo.co\/Image ig @gunungapipurba<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desa Wisata Nglanggeran\u00a0di Gunungkidul, Yogyakarta terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Desa Wisata Terbaik atau Best Tourism Village dari organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO). Desa ini dikelola sebagai Geopark Gunung Sewu&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12379,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,79,87],"tags":[],"class_list":["post-12378","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-jkpi","category-kota-yogyakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12378","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12378"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12378\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12378"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12378"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12378"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}