{"id":12566,"date":"2022-01-19T13:15:35","date_gmt":"2022-01-19T06:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12566"},"modified":"2022-01-19T13:15:35","modified_gmt":"2022-01-19T06:15:35","slug":"batu-nisan-kuno-beraksara-arab-di-palembang-akan-diajukan-jadi-cagar-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/batu-nisan-kuno-beraksara-arab-di-palembang-akan-diajukan-jadi-cagar-budaya\/","title":{"rendered":"Batu Nisan Kuno Beraksara Arab di Palembang Akan Diajukan Jadi Cagar Budaya"},"content":{"rendered":"<p><strong>PALEMBANG<\/strong> &#8211; Empat batu nisan kuno yang ditemukan pekerja saat melakukan galian di kawasan Pasar 16 Ilir, Kota Palembang, Sumatera Selatan akan diajukan sebagai salah satu cagar budaya.<\/p>\n<p>Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang Retno Purwanti mengatakan, empat batu nisan yang terbuat dari batu granit itu telah dibaca oleh para tim ahli.<\/p>\n<p>Sehingga, empat batu nisan tersebut diduga berasal dari abad ke-19 sampai 20 pasca Kesultanan Palembang.<\/p>\n<p>&#8220;Pada sidang TACB tahun ini mudah-mudahan direkomendasikan jadi cagar budaya, karena nisan itu ditemukan di lokasi yang selama ini menjadi permukiman Keraton Beringin Janggut,&#8221; kata Retno.<\/p>\n<p>Data awal saat ditemukannya empat batu nisan tersebut diduga ditulis menggunakan bahasa Aksara Jawi.<\/p>\n<p>Namun, setelah dilakukan pengkajian lebih mendalam, seluruh batu nisan itu ternyata menggunakan huruf Aksara Arab dan berbahasa Arab.<\/p>\n<p>&#8220;Aksara Arab dan bahasa Arab. Bukan Aksara Jawi. Ini sudah dipastikan oleh pakarnya,&#8221; ujar Retno.<\/p>\n<p>Pada catatan batu nisan pertama, baris pertama tertulis Faqod Intiqolat, baris kedua ila rahmatillahi abrar, baris ketiga Ni Aji Nadibah binti Abdul dan baris keempat tertulis Al Aziz Palembani.<\/p>\n<p>Batu nisan kedua, baris pertama tertulis Faqod Intiqol, barus kedua illa rahmatillah, baris ketiga Al Malikul Dorar Almarhum, baris keempat Haji Abdurahman dan baris kelima bin Ismail.<\/p>\n<p>Batu nisan ketiga, baris pertama Faqod Intiqolat, baris kedua Ila Rohmatillahi Abrar Ni Haji Rosyidah, baris ketiga binti Haji Abdurrahman Raja, baris kempat Ismail Palembani.<\/p>\n<p>Nisan kempat, baris pertama Wakana Wafatuhu, baris kedua Yaimil Isnain, baris ketiga 8 Rabi\u2019ul Akhir, baris keempat Sanah 1322.<\/p>\n<p>&#8220;Dugaannya ini makam keluarga keturunan bangsawan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Kepala Kantor Arkeologi Sumatera Selatan Wahyu Rizky Andhifani menjelaskan, mereka tak hanya menemukan empat batu nisan.<\/p>\n<p>Namun, terdapat susunan batu di lokasi tempat penemuan makam tersebut. &#8220;Ada dua lubang di bawah nisan kita dapatkan pecahan logam dan keramik, sekarang sedang dilakukan deskripsi,&#8221; kata Wahyu.<\/p>\n<p>Dari empat batu nisan yang ditemukan, hanya tiga yang memiliki nama.<\/p>\n<p>Sementara, satu nisan lagi tak ada nama yang tertulis sehingga, kuat dugaan nisan itu merupakan bagian kaki di pemakaman.<\/p>\n<p>&#8220;Nisan satu dan dua dugaannya ada katiannya karena terbaca Rosyidah binti Haji Abdurrhman, mungkin ini (nisan) anaknya, jadi kuat dugaan merupakan makam keluarga,&#8221; Wahyu.<\/p>\n<p><em>regional.kompas.com\/Image tribunnews.com<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PALEMBANG &#8211; Empat batu nisan kuno yang ditemukan pekerja saat melakukan galian di kawasan Pasar 16 Ilir, Kota Palembang, Sumatera Selatan akan diajukan sebagai salah satu cagar budaya. Ketua Tim&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12567,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[96,82],"tags":[],"class_list":["post-12566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","category-kota-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12566"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12566\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}