{"id":12838,"date":"2022-07-04T12:30:58","date_gmt":"2022-07-04T05:30:58","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=12838"},"modified":"2022-07-04T12:30:58","modified_gmt":"2022-07-04T05:30:58","slug":"banda-aceh-berhasil-meraih-rekor-muri-festival-kopi-2022","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/banda-aceh-berhasil-meraih-rekor-muri-festival-kopi-2022\/","title":{"rendered":"Banda Aceh Berhasil Meraih Rekor MURI Festival Kopi 2022"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh<\/strong>\u00a0\u2013 Banda Aceh berhasil meraih rekor MURI festival kopi 2022.<\/p>\n<p>Pemerintah Kota Banda Aceh telah meraih pencatatan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) 1.001 saring kopi yang dilakukan secara serentak oleh warga di ibu kota Provinsi Aceh itu.<\/p>\n<p>\u201cDengan ini kami kukuhkan kegiatan menyaring kopi dengan peserta terbanyak sebagai rekor MURI,\u201d kata Customer Relations Manager MURI Andre Purwandono, di Banda Aceh, Minggu.<\/p>\n<p>Andre mengatakan, pencatatan rekor MURI tersebut dilakukan setelah adanya hasil penilaian berdasarkan tiga kriteria utama yang telah ditetapkan, yaitu kegiatan saring kopi seperti ini belum pernah ada di manapun.<\/p>\n<p>Kemudian, kata Andre, sesuatu yang dapat diukur dan terbanyak, dan untuk kegiatan saring kopi oleh 1.001 orang tersebut telah bisa diukur dan dicatat secara baik. Terakhir mempunyai unsur seni dan budaya.<\/p>\n<p>\u201cKegiatan hari ini telah mengandung ketiga unsur tersebut, maka dengan itu kami dengan bangga dapat menganugerahkan piagam MURI ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Andre menambahkan, rekor MURI hari ini baru sekedar pencatatan dan artinya belum sampai pada tahapan pemecahan.<\/p>\n<p>Karena itu untuk menuju ke skala dunia maka Banda Aceh harus lebih banyak lagi melakukan kegiatan serupa dengan jumlah lebih banyak.<\/p>\n<p>\u201cKita berharap budaya minum kopi ini terus dilakukan secara turun menurun oleh masyarakat Banda Aceh, sehingga tidak akan pudar oleh budaya barat dan budaya lainnya,\u201d kata Andre.<\/p>\n<p>Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan bahwa Banda Aceh telah dijuluki kota 1.001 warung kopi, dan telah menerima penghargaan pencatatan rekor MURI.<\/p>\n<p>\u201cMaka kita mendapatkan penghargaan MURI sebagai kota yang mampu melakukan penyaring kopi terbanyak di Indonesia, bahkan dunia,\u201d kata Aminullah.<\/p>\n<p>Aminullah menyampaikan, kopi merupakan sumber ekonomi warga Banda Aceh, karenanya pemerintah perlu mengedukasi anak-anak mengenai kopi ini, sehingga tidak mereka jauhi nantinya.<\/p>\n<p>\u201cKebun kopi memang banyak di Aceh Tengah, tetapi alhamdulillah banyak orang kaya di Banda Aceh karena kopi, banyak pengangguran mendapatkan pekerjaan karena kopi, bisa meningkatkan ekonomi rakyat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan ini, Aminullah mengucapkan terima kasih kepada MURI yang telah memberikan penghargaan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cIni dapat menjadi motivasi, semoga kopi Banda Aceh semakin mendunia dan disukai. Pencatatan rekor MURI ini juga menjadi jalur promosi Banda Aceh untuk mendatangkan wisatawan,\u201d demikian Aminullah Usman.<\/p>\n<p><em>acehsatu.com \/ image sumut.idntimes.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh\u00a0\u2013 Banda Aceh berhasil meraih rekor MURI festival kopi 2022. Pemerintah Kota Banda Aceh telah meraih pencatatan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) 1.001 saring kopi yang dilakukan secara serentak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12839,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,75],"tags":[],"class_list":["post-12838","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-banda-aceh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12838"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12838\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}