{"id":14545,"date":"2023-08-24T19:07:50","date_gmt":"2023-08-24T12:07:50","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=14545"},"modified":"2023-08-24T19:07:50","modified_gmt":"2023-08-24T12:07:50","slug":"bolu-kemojo-kue-kasidah-dan-kesturi-madu-dari-siak-memikat-para-peserta-rakernas-jkpi-x","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/bolu-kemojo-kue-kasidah-dan-kesturi-madu-dari-siak-memikat-para-peserta-rakernas-jkpi-x\/","title":{"rendered":"Bolu Kemojo, Kue Kasidah dan Kesturi Madu dari Siak memikat para peserta Rakernas JKPI X"},"content":{"rendered":"<p>Kesenian Gambang Semarang mencuri perhatian peserta kepala daerah yang tergabung di Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Selasa (22\/8\/2023) sore di teras gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama, Semarang.<\/p>\n<p>Gambang ditampilkan untuk menghibur sekaligus menanti peserta JKPI dalam pembukaan pameran dan bazar serta galeri industri kreatif.\u00a0Alunan musik dari perpaduan kendang, bonang, kempul, gong, suling, kecrek, gambang serta alat music gesek lainnya menyatu memukau penonton.<\/p>\n<p>Pembukaan ini digelar di luar gedung. Cahaya matahari sore yang menembus dedaunan pohon-pohon rindang tidak menyurutkan semangat para kepala daerah untuk menyaksikan kesenian ini.\u00a0Termasuk Bupati Siak<strong> Alfedri<\/strong> bersama istrinya <strong>Rasidah<\/strong>.\u00a0Di lokasi juga hadir Direktur Eksekutif JKPI<strong> Nanang Asfarinal<\/strong>, Bupati Kepuluan Seribu, <strong>Junaedi<\/strong>, Perancang Busana Indonesia legendaris, <strong>Samuel Wattimena<\/strong> dan lain-lain.<\/p>\n<p>Gedung Oudetrap merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang ikonik di Semarang. Di gedung ini digelar pameran dan stan bazar UMKM selama Rakernas JKPI X berlangsung.\u00a0Pemkab Siak juga ambil bagian di gedung ini.<\/p>\n<p>Usai opening ceremony pameran, Sekda Kota Semarang bersama kepala daerah mengunjungi stan bazar.\u00a0Stan bazar UMKM Siak menjadi sorotan. Rasidah sekaligus Ketua Dekranasda Siak sudah menunggu kehadiran rombongan. Stan UMKM Siak tampak paling lengkap, menampilkan kerajinan UMKM masyarakat Siak, seperti kain tenun, batik Siak, souvenir khas, bolu kemojo, kue kasidah, minuman kesturi madu, lempul dan lain-lain.<\/p>\n<p>Samuel Wattimena tampak kagum melihat kerajinan kain tenun, sekaligus memuji batik mulai berkembang di Siak. Namun fokusnya tidak hanya pada kerajinan itu, melainkan kuliner yang disajikan.<\/p>\n<p>\u201cSaya baru pertama sekali mencoba bolu kemojo dan minuman kesturi madu, luar biasa, saya rasa cocok menjadi hidangan untuk acara-acara nasional,\u201d puji Samuel.\u00a0Perancang busa legendaris ini menilai bolu kemojo patut dinasionalkan. Menurutnya rasanya sangat enak dan cocok untuk lidah semua masyarakat Indonesia. Lembut saat digigit dan manisnya tidak berlebihan.<\/p>\n<p>\u201cMungkin ini yang membuat saya berpikir untuk datang ke Siak suatu hari nanti,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Samuel memakan beberapa potong bolu kemojo yang dihidangkan Rasidah. Selain itu juga menikmati kesturi madu.<\/p>\n<p>\u201cSaya kira ini madunya asli dari daerah Siak, campuran kesturi dan madunya sangat pas, ini minuman tradisional yang sangat nikmat, juga layak dihidangkan di acara-acara nasional,\u201d katanya.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-14546\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang.jpg 720w, https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang-300x167.jpg 300w, https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang-370x206.jpg 370w, https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang-600x333.jpg 600w, https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/siak-semarang-220x122.jpg 220w\" sizes=\"(max-width: 767px) 100vw, 720px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em>Bupati Siak Alfedri dan istrinya Rasidah menjamu Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin dan sejumlah kepala daerah dengan bolu kemojo, kue kasidah dan minuman kesturi madu di stan bazar Siak, Selasa (22\/8\/2023) di gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama, Semarang.<\/em><\/span><\/p>\n<p>Rasidah juga memberikan bingkisan yang berisi kain tenun, batik Siak dan souvenir. Samuel mengatakan, Siak lebih khas dengan tenun. Kerajinan tenun telah berlangsung sejak berabad-abad lamanya di tengah masyarakat Siak.<\/p>\n<p>\u201cNamun untuk batik, memang belum sebaik yang ada di Jawa, namun Siak mengembangkannya dengan sangat baik, dan ini harus kita dukung,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Iswar Aminuddin dan kepala daerah lainnya juga tampak lahap menikmati bolu kemojo dan kue kasidah. Mereka ditemani Alfedri dan istri, beserta Kepala Dinas Pariwisata Siak, Tekad Perbatas Setia Dewa dan istrinya.<\/p>\n<p>\u201cEnak sekali Pak Bupati, minumannya juga sangat segar, saya sangat saya menyukai ini,\u201d ujar Sekda Kota Semarang itu.<\/p>\n<p>Sedangkan Bupati Kepulauan Seribu, Junaedi juga baru pertama kali menikmati bolu kemojo, kue kasidah dan kesturi madu. Tidak cukup sepotong, Junaedi kembali menikmati untuk potongan kedua. Ia memuji, Siak bagian dari kekayaan budaya, seni dan kuluner nusantara.<\/p>\n<p>\u201cAneh, berbeda dengan yang lain, atau di tempat kami yang khas dengan dodol, namun ini sangat enak, bolu kemojo. Saya belum pernah ke Siak, tetapi saya merasakan rasa kue ini langsung akrab dengan lidah saya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ketua Dekranasda Siak Rasidah sangat senang dengan antusiasme kepala daerah dan perancang busana legendaris yang berkunjung. Ia menyebut bazar di JKPI X Semarang ini sengaja dihadirkan lain tenun, batik, diserfikasi antara tenun dan batik, contohnya ada kipas dan tempat tisu.<\/p>\n<p>\u201cKemudian makanan khas dari Siak, bolu kemojo dan kue kasidah yang kita ambil dari UMKM Siak. Alhamdulillah antusiasnya sangat tinggi, kepala daerah yang mencoba mengatakan sudah bisa dibawa sebagai menu di acara- acara tingkat nasional,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Rasidah juga mengatakan, kain tenun yang dipamerkan adalah tenun dari Sungai Apit, batik dari Siak dan Dayun. Sedangkan bolu kemojo dan kue kasidah diambil dari produk UMKM masyarakat Siak.<\/p>\n<p>Bupati Siak Alfedri juga mengatakan kepuasannya setelah menjamu Sekda Kota Semarang dan kepala-kepala daerah ke stan bazar Siak. Salah satu keuntungan JKPI bagi daerah adalah mengenalkan produk UMKM, sehingga dikenal secara luas.<\/p>\n<p>\u201cProduk UMKM kita tidak kalah dari daerah lain, dan tadi dapat dilihat sendiri bagaimana antusias kepala daerah saat mengunjungi stan bazar kita, memuji kuliner khas kita,\u201d kata Alfedri.<\/p>\n<p>Sekda Kota Semarang, <strong>Iswar Aminuddin<\/strong> mengajak sejumlah kepala daerah termasuk Bupati Siak Alfedri untuk membuka rangkaian Rakernas JKPI X Semarang, di gedung Oudetrap, Kota Lama. Pembukaan dilaksanakan sangat sederhana namun berkesan, yaitu menggunting pita sembari diiringi alunan Gambang Semarang. Kegiatan digelar secara santai di luar ruangan.<\/p>\n<p>\u201cHari ini secara resmi kita mulai Rakernas JKPI di gedung Oudetrap, gedung yang telah berumur ratusan tahun,\u201d kata Iswar Aminuddin.\u00a0Ia menceritakan, Kota Lama Semarang sebelumnya semraut dan kumuh. Setelah Semarang masuk JKPI mendapat kucuran dana dari Kementerian PUPR untuk program revitalisasi.<\/p>\n<p>\u201cBerkat revitalisasi Kawasan Kota Lama ini saat ini menjdi destinasi, kawasan kreatif,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pemko Semarang telah menetapkan kawasan Kota Lama ini dikelola oleh badan yang mandiri, yaitu Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang. Berkat revitalisasi, kawasan ini mengukuhkan kota Semarang dengan julukan Little Netherland. Gedung-gedung kolonial yang berusia lebih dua abad kembali dipugar sehingga menjadi destinasi yang perlu dikunjungi.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini kami mendorong Kota Semarang ini menjadi warisan dunia (World heritage),\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia juga merasa bangga dan tersanjung atas kehadiran peserta JKPI di Semarang. Kawasan Kota Lama ini pusat perdagangan dan perkantoran masa kolonial Belanda yang sudah berlangsung dua abad lamanya.<\/p>\n<p>\u201cRakernas JKPI X kami harapkan dapat menjadi penguat di dalam melestarikan pusaka alam dan budaya seluruh nusantara. Banyak penampilan seni budaya yang akan disuguhkan kepada peserta, untuk kenambah wawasan kita dan membubuhkan cinta kita kepada Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sedangkan Bupati Siak Alfedri juga mengadopsi keberhasilan revitalisasi kota Lama Semarang. Pemkab Siak juga sudah membentuk Badan Pengelola Kota Pusaka (BPKP) kabupaten Siak, yang diketuai Husni Merza.<\/p>\n<p>\u201cTahun ini BPKP Siak ini mulai berjalan, dan kita harapkan nanti kawasan kota pusaka Siak juga mendapatkan biaya revitalisasi dari APBN,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, perjuangan Semarang dan Siak juga sama, yaitu mengangkat status daerah pusakanya menjadi world heritage. Apalagi Siak juga mempunyai bangunan kolonial yang juga telah berumur lebih 2 abad.<\/p>\n<p>\u201cMelihat kota lama Semarang tentu kita ingin juga merevitalisasi kawasan kota lama Tangsi Belanda di Siak, dan kita berkomitmen melestarikan budaya non benda,\u201d katanya. (<a href=\"https:\/\/pekanbaru.tribunnews.com\/2023\/08\/23\/kepala-daerah-jkpi-x-semarang-doyan-bolu-kemojo-dan-kesturi-madu-siak?page=all\">tribunpekanbaru.com<\/a>\/mayonal putra &#8211; )<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesenian Gambang Semarang mencuri perhatian peserta kepala daerah yang tergabung di Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Selasa (22\/8\/2023) sore di teras gedung Oudetrap, kawasan Kota Lama, Semarang. Gambang ditampilkan untuk&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":14547,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,135],"tags":[],"class_list":["post-14545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kabupaten-siak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14545"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14545\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}