{"id":1561,"date":"2012-07-30T08:56:51","date_gmt":"2012-07-30T08:56:51","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=1561"},"modified":"2012-07-30T08:56:51","modified_gmt":"2012-07-30T08:56:51","slug":"dan-anak-anak-pun-gembira-bermain-musik-keroncong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/dan-anak-anak-pun-gembira-bermain-musik-keroncong\/","title":{"rendered":"DAN ANAK-ANAK PUN GEMBIRA BERMAIN MUSIK KERONCONG"},"content":{"rendered":"<p>Siapa bilang musik keroncong hanya akrab di telinga orang-orang tua? Di tempat ini anak-anak<br \/>\nsejak usia dini sudah terbiasa dengan musik keroncong. Bahkan mereka membentuk band<br \/>\ntersendiri. The Mardijkers Jr. Toegoe namanya. Ya, sesuai denghan namanya mereka memang<br \/>\nberasal dari Tugu, Cilincing Jakarta Utara. Anak-anak usia 11 hingga 20 tahun ini merupakan<br \/>\nmetamorfosa alih generasi kelompok Krontjong Toegoe.<\/p>\n<p>Andre Juan Michiels anggota Krontjong Toegoe yang mendirikan The Mardijkers Jr. Toegoe<br \/>\npada 5 Okotober 2008. Awal berdirinya band ini bernama Krontjong Toegoe Jr, namun dua<br \/>\ntahun kemudian berubah nama menjadi The Mardijkers Jr. Toegoe. The Mardijkers sendiri<br \/>\nberarti yang dimerdekakan. Pada waktu tawanan Portugis dan budak asal Goa (India) di<br \/>\nKampung Tugu dibebaskan pada tahun 1661 oleh Pemerintah Hindia Belanda (VOC), mereka<br \/>\ndiharuskan pindah agama dari Katholik menjadi Protestan, sehingga kebiasaan menyanyikan<br \/>\nlagu Fado (lagu rakyat Portugis) menjadi wajib dinyanyikan seperti dalam Gereja Protestan,<br \/>\nyang pada tangga nada mayor. Kemudian tahun 1880 Musik Keroncong lahir, dan awal ini<br \/>\nMusik Keroncong juga dipengaruhi lagu Hawai yang dalam tangga nada mayor, yang juga<br \/>\nberkembang pesat di Indonesia bersamaan dengan Musik Keroncong. \u201cMereka ini adalah<br \/>\ngenerasi ke 11 dari Michiels yang dimerdekakan,\u201d ujar Andre.<\/p>\n<p>Tidak mudah mengajak anak-anak ini latihan bermain musik. Apalagi jika mereka sibuk bermain.<br \/>\nNamun Andre tak hilang akal untuk melatih mereka. Awalnya Andre memperkenalkan lagu<br \/>\nanak-anak untuk mereka mainkan dengan alat-alat musik yang mereka kuasai. Setelah itu,<br \/>\nmereka mulai dilatih bermain lagu yang mereka suka. Baru kemudian mengajak mereka<br \/>\nuntuk bermain musik keroncong. Mereka diperkenalkan alat-alat musik yang dipakai untuk<br \/>\nmemainkan lagu keroncong. Seperti prounga (gitar berdawai tiga), mecina (gitar kecil berdawai<br \/>\nempat), cafacinho, cello dan biola Secara rutin setiap Sabtu malam mereka berlatih.<\/p>\n<p>Hasilnya? Kurang dari dua bulan The Mardijkers mulai tampil pertama pada Festival Toegoe<br \/>\n2008 yang dihadiri oleh duta besar Portugal. Hingga kini The Mardijkers mulai dikenal dan kerap<br \/>\ntampil di berbagai acara bahkan secara langsung tampil di stasiun televisi. The Mardijkers Jr.<br \/>\nToegoe diharapkan dapat melestarikan musik keroncong di masa mendatang. Selain itu The<br \/>\nMardijkers Jr. Toegoe juga diharapkan mampu mempopulerkan keroncong ke generasi muda.<br \/>\nSebab musik keroncong merupakan musik asli Indonesia dan bukan musik yang berasal dari<br \/>\nPortugis. Sehingga sudah selayaknya musik keroncong yang merupakan bagian dari budaya<br \/>\nIndonesia harus dilestarikan dan jangan sampai hilang tenggelam derasnya arus musik pop saat<br \/>\nini.<br \/>\n<br \/>\n(NURAKHMAYANI)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa bilang musik keroncong hanya akrab di telinga orang-orang tua? Di tempat ini anak-anak sejak usia dini sudah terbiasa dengan musik keroncong. Bahkan mereka membentuk band tersendiri. The Mardijkers Jr.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1563,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76],"tags":[],"class_list":["post-1561","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1561","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1561"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1561\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}