{"id":15783,"date":"2024-03-10T20:09:23","date_gmt":"2024-03-10T13:09:23","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=15783"},"modified":"2024-03-10T20:09:23","modified_gmt":"2024-03-10T13:09:23","slug":"milano-kota-mode-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/milano-kota-mode-dunia\/","title":{"rendered":"Milano, Kota Mode Dunia"},"content":{"rendered":"<p style=\"background: white;\"><span style=\"font-size: 13.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: #202122;\">Kota Milano, ibukota region Lombarda di bagian Utara Italia, dengan populasi sekitar 1,4 juta merupakan wilayah paling maju di Italia. Area Kota Metropolitan Milano berpenduduk sekitar 3,26 juta, sedangkan lingkup yang lebih luas, yang disebut Milano Raya, Grande Milano, diperkirakan antara 8,2 juta dan 12,5 juta jiwa, salah satu yang terbesar di Uni Eropa. <\/span><\/p>\n<p style=\"background: white;\"><span style=\"font-size: 13.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: #202122;\">Kesuksesan para desainer Milano di era 1980-an, seperti Armani, Prada, Versace, Moschino, dan Dolce &amp; Gabbana, menjadikan Milano terkenal akan perusahaan adibusana dengan toko-tokonya di jalan Montenapoleone (via Montenapoleone) dan Galleria Vittorio Emanuele di Piazza Duomo, sebuah pusat belanja tertua di dunia. Milano adalah salah satu dari empat kota mode dunia, setelah London, New York, dan Paris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 13.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: #202122;\">Italia adalah negara yang memiliki situs Warisan Dunia UNESCO terbanyak, lebih dari 45 situs, hanya di region Lombarda, Milano sebagai ibukotanya, terdapat 10 situs.<\/span><\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15785\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/santo.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"405\" \/><\/p>\n<p><strong>Monte San Giorgio<\/strong><\/p>\n<p>Fosil-fosil yang diawetkan di Monte San Giorgio , berlokasi di antara Varese dan Swiss , merupakan salah satu simpanan fosil terpenting pada Trias Tengah, periode geologi yang berlangsung antara 247 dan 237 juta tahun yang lalu. Sisa-sisa yang ditemukan di kawasan Pegunungan Alpen selatan ini memungkinkan dilakukannya studi evolusi terhadap banyak spesies hewan dan tumbuhan dalam rentang waktu beberapa juta tahun.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15786\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/02-Venetian-defense-walls.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Bergamo: tembok pertahanan Venesia<\/strong><\/p>\n<p>Kota Bergamo telah lama diperebutkan oleh Milano dan Republik Venesia hingga abad ke-15. Serenissima membangun tembok yang memisahkan Kota Atas dari desa-desa di dataran rendah dan merupakan bagian dari sistem pertahanan yang cerdik berdasarkan kota-kota berbenteng yang dibangun selama abad ke-16, yang membentang sepanjang 1000 kilometer yang memisahkan Stato da Terra (daratan di Lombarda, Veneto dan Friuli) dan Stato da Mar (domain maritim di Laut Adriatik dan Aegea, termasuk Kreta dan Siprus), dua komponen kekuatan darat dan laut Venesia. Pada 2023 Bergamo ditunjuk sebagai Kota Kebudayaan Italia bersama kota Brescia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15789\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/leonardo.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"540\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci dan Gereja Santa Maria delle Grazie<\/strong><\/p>\n<p>Perjamuan Terakhir, telah menjadi Situs Warisan UNESCO sejak tahun 1980, menyaksikan lukisan mural ini merupakan pengalaman yang benar-benar mistis.<br \/>\nKompleks Gereja Santa Maria delle Grazie, dekat Stasiun Cadorna di Milano, adalah tempat yang sempurna bagi Il Cenacolo ini, lambang seni Italia di dunia.<\/p>\n<p>Gereja Santa Maria delle Grazie dan Ruang Makan dengan mahakarya mural renaisans Leonardo da Vinci, Perjamuan Terakhir, telah terdaftar sebagai situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1980. Mereka adalah bagian dari kompleks biara besar milik para biarawan Dominika. Pemandu wisata lokal akan mengungkap fakta mengejutkan tentang perspektif, komposisi dan teknik yang digunakan oleh sang maestro, serta sejarah situs tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15790\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/04-Crespi-dAdda.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Crespi d&#8217;Adda<\/strong><\/p>\n<p>Ini adalah desa utopis sempurna yang dibangun untuk para pekerja pabrik, sebuah contoh arkeologi industri yang tak tertandingi di dekat Bergamo . Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995, dibangun oleh keluarga Crespi di sungai Adda pada abad ke-19 dan aspeknya tetap tidak berubah sejak saat itu. Ini adalah tujuan ideal bagi pengendara sepeda yang ingin menjelajahi lanskap alam dan lanskap buatan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15791\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/05-Luthiers-Worskhops.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Kerajinan Luthiers di Cremona<\/strong><\/p>\n<p>Distrik Budaya Lutherie ini berlokasi di Cremona: selama berabad-abad kota ini telah membedakan dirinya karena keahlian para luthiernya, yang membuat biola terbaik di dunia. Tidak ada manufaktur skala besar di sini, setiap instrumen diukir secara khusus dan unik dari kayu dan disempurnakan secara detail oleh ahli luthier. Tidak ada biola yang lebih didambakan selain Stradivari, dan Cremona adalah rumah dan tempat lahirnya. Lebih dari 150 lokakarya mempertahankan tradisi artistik ini dan telah diakui oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia Tak Benda sejak tahun 2012.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15793\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/07.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Kawasan monumental Longobard di Brescia dan Varese<\/strong><\/p>\n<p>Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2011 bersama dengan kawasan Forum Romawi,\u00a0<strong>kompleks San Salvatore &#8211; Santa Giulia<\/strong>\u00a0di\u00a0<strong>Brescia<\/strong>\u00a0adalah salah satu kesaksian paling cemerlang atas kehadiran Lombardia di Italia Utara (568-774 M).<\/p>\n<p>Situs UNESCO lainnya adalah kawasan arkeologi\u00a0<strong>Castelseprio<\/strong>\u00a0, di provinsi Varese, salah satu pusat kekuasaan masyarakat Nordik di Italia, yang beribu kota di Pavia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15792\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/06-Rhaetian-Railway.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Bernina Express dan Kereta Api Rhaetian<\/strong><\/p>\n<p>Di antara Valtellina dan Swiss, di jalur kereta Bernina-Albula ada keajaiban teknik yang memungkinkan menyaksikan keajaiban lingkungan alam: kereta melintasi lanskap Alpen yang mempesona, dirancang untuk membuat kita bisa menikmati perjalanan luar biasa ke St. Moritz di ketinggian lebih dari 1.000 meter.<\/p>\n<p>Kereta Merah Bernina berangkat dari Tirano di provinsi Sondrio dan tiba di Saint Moritz di Swiss sejauh 61 kilometer melintasi lanskap pegunungan, pepohonan, dan salju. Jalur Albula , dibangun pada tahun 1903, membawa lebih jauh lagi, ke Kanton Grisons.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15794\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/08-Val-Camonica.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"292\" \/><\/p>\n<p><strong>Petroglif Val Camonica<\/strong><\/p>\n<p>Penduduk prasejarah di\u00a0<strong>Val Camonica<\/strong>\u00a0yang hijau memanjakan diri mereka dengan gambar-gambar samar yang diukir di batu. Apa yang disebut &#8221;\u00a0<strong>Lembah Tanda<\/strong>\u00a0&#8221; membentang sepanjang lebih dari 80 kilometer dan telah menjadi Situs Warisan Dunia sejak 1979 dan Cagar Biosfer Dunia sejak 2018. Val Camonica dan petroglifnya menjadi saksi interaksi antara manusia dan lingkungan alam sejak zaman Neolitikum.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15795\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/09-Mantua-and-Sabbioneta.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Mantua<\/strong> dan <strong>Sabbioneta<\/strong><\/p>\n<p>Ini adalah contoh rancang bangun renaisans dengan basis dua situasi yng berbeda. Di bawah pimpinan keluarga <strong>Gonzaga<\/strong>, dilaksanakan proyek pembaruan kota <strong>Mantua<\/strong> dari era Romawi yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan paling penting di Italia Utara. Situs yang paling menonjol di sini adalah <strong>Palazzo Ducale<\/strong>, kediaman keluarga Gonzaga yang terdiri dari sejumlah besar bangunan, taman, dan halaman.<\/p>\n<p><strong>Sabbioneta<\/strong>, terletak di tepi Sungai Po, 30 kilometer dari Mantua, dibangun oleh <strong>Vespaniano Gonzaga<\/strong> pada paruh kedua abad ke-16. Sepenuhnya dibangun berdasarkan teori kota Renaisans yang ideal, UNESCO menggambarkannya sebagai \u201c salah satu contoh terbaik kota ideal yang dibangun di Eropa\u201d dengan \u201ctembok pertahanan, pola grid jalanan, peran ruang publik dan monumen\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Terlepas dari daftar warisan dunia, sebagai pusat mode dunia, kota Milano sendiri tentu memiliki banyak obyek wisata luar biasa yang tak boleh dilewati begitu saja.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15798\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/01-atraksi.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Duomo, Cathedral of Milano<\/strong><\/p>\n<p>Simbol ikonik Milano ini memiliki 27 ruangan dipenuhi permadani, patung-patung, kaca-kaca jendela Palazzo Reale dari abad 14.<\/p>\n<p>Pemandangan dari puncak menara Duomo Milano yang tinggi merupakan sebuah pengalaman yang berbeda: panorama kota yang cantik, dan pada hari cerah di kejauhan tampak Pegunungan Alpen dan Pegunungan Apennine. Katedral Duomo menghidupkan setengah milenium sejarahnya yang terbuat dari marmer Candoglia yang halus, cahaya menembus dari jendela kaca patri ke lorong-lorong berisian karya-karya seni yang tak ternilai harganya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15799\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/02-atraksi.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"338\" \/><\/p>\n<p><strong>Castello Sforzesco<\/strong><\/p>\n<p>Bekas benteng pertahanan kota abad kelima belas ini menjadi tempat di mana karya seni dapat dinikmati di beberapa museum kelas satu. Karya seni yang paling berharga tentunya adalah Sala delle Asse karya <strong>Leonardo<\/strong>, Piet\u00e0 Rondanini karya <strong>Michelangelo<\/strong>, tetapi banyak juga maestro besar lainnya terwakili. Castello juga merupakan tempat untuk menikmati alam terbuka dan halaman spektakuler yang dikelilingi oleh tembok besar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15800\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/03-atraksi.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"481\" \/><\/p>\n<p><strong>Galleria Vittorio Emanuele II<\/strong><\/p>\n<p>Keanggunan kota Milano. Salotto par excelence, Galleria Vittorio Emanuele menyenangkan untuk dilalui perlahan-lahan tanpa tergesa, terlindung oleh kubah kaca, sangat mempesona dengn keindahan jendela-jendela yang penuh gaya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15801\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/04-atraksi.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"480\" \/><\/p>\n<p><strong>Quadrilatero della Moda<\/strong><\/p>\n<p>Perempatan mode, pusat belanja eksklusif dan mewah di Milano ini sangat dekat dengan pusat kota &#8211; di via della Spiga, via Montenapoleone, via Manzoni dan Corso Venezia: sebagian besar label desainer yang menjadikan Milano kota mode dunia ada di jalan-jalan ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-15802\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/07-atraksi.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"499\" \/><\/p>\n<p><strong>Porta Nuova dan Corso Como<\/strong><\/p>\n<p>Arsitektur Milano yang canggih dan kehidupan malamnya yang semarak berpadu di antara gedung pencakar langit Piazza Gae Aulenti dan Corso Como &#8211; tempat yang bagus untuk mengagumi menara Bosco Verticale (Hutan Vertikal)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Milano, ibukota region Lombarda di bagian Utara Italia, dengan populasi sekitar 1,4 juta merupakan wilayah paling maju di Italia. Area Kota Metropolitan Milano berpenduduk sekitar 3,26 juta, sedangkan lingkup&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15784,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,127,96],"tags":[],"class_list":["post-15783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-eropa","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15783\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}