{"id":16639,"date":"2017-05-17T14:01:41","date_gmt":"2017-05-17T07:01:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7609"},"modified":"2017-05-17T14:01:41","modified_gmt":"2017-05-17T07:01:41","slug":"pemerintah-kota-palembang-siapkan-sekanak-jadi-tempat-wisata-dan-kuliner-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/pemerintah-kota-palembang-siapkan-sekanak-jadi-tempat-wisata-dan-kuliner-2\/","title":{"rendered":"Pemerintah Kota Palembang Siapkan Sekanak Jadi Tempat Wisata dan Kuliner"},"content":{"rendered":"<p>Pemerintah Kota Palembang menyiapkan konsep Sekanak Kerihin untuk kawasan Sekanak.<\/p>\n<p>\u201cKerihin itu bahasa asli Palembang, artinya zaman dulu. Sama seperti Bingen, tapi ini katanya lebih halus lagi,\u201d kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sudirman Tegoeh, Selasa (16\/5\/2017).<span id=\"more-33513\"><\/span><\/p>\n<p>Konsep itu diatur dalam Peraturan Wali Kota Nomor 16 Tahun 2017. Dalam peraturan itu, Sekanak akan dijadikan kawasan wisata berbasis kuliner dan gedung tua.<\/p>\n<p>Sudirman menyebutkan, di Sekanak 75 persen bangunan lama, mayoritas peninggalan Belanda. Seperti, Pasar Sekanak yang dibangun di tahun 1822. Kemudian, ada bioskop tertua di Palembang, yaitu Bioskop Rex.<\/p>\n<p>Ada juga gedung kantor Van Jacobson Van Den Berg &amp; Co\u00a0 yang berada di simpang Sekanak. Kemudian, Gudang Oeng Boen Tjit, Gudang Rokok Commodore dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p>Letaknya Sekanak yang strategis, dekat kantor wali kota Palembang, serta Benteng Kuto Besak, diprediksi bisa menarik minat wisatawan bertandang ke sini.<\/p>\n<p>\u201cPalembang yang dikenal sebagai kota tertua di Indonesia, selama ini belum memiliki destinasi wisata kota tua. Seperti kawasan kota tua di Jakarta atau di kawasan Braga, Bandung. Padahal, Sekanak ini menyimpan sejarah yang bisa menjadi objek wisata. Karena itu, sekarang kita sedang menyusun konsep Sekanak Kerihin,\u201d Sudirman menerangkan.<\/p>\n<p>Adanya peraturan wali kota, ujar Sudirman, akan memudahkan untuk menyiapkan Sekanak Kerihin.<\/p>\n<p>\u201cAkan kita tata, trotoarnya, gedungnya dipercantik. Kita juga selaraskan dengan konsep transportasi sungai yang sedang digalakkan Pemkot,\u201d ujar dia.<\/p>\n<p>Sudirman menambahkan, dengan adanya konsep ini, Sekanak akan diubah jadi kawasan wisata kota tua dan kuliner.<\/p>\n<p>Di mana, saat siang hari banyak aktivitas ekonomi dan malam hari akan ada tempat kuliner<\/p>\n<p>\u201cNanti ada pedestrian yang khusus bagi pejalan kaki. Seperti di Kota Tua, jadi kawasan ini unmotorize saat malam hari. Tidak boleh ada kendaraan lewat. Hanya boleh pejalan kaki saja, yang melintas,\u201d Sudirman mengungkapkan.<\/p>\n<p>Wali Kota Palembang, Harnojoyo mengatakan, saat ini pihaknya memang sedang mengusulkan dana untuk memperbaiki pinggiran Sungai Sekanak.<\/p>\n<p>\u201cJadi, nanti akan ada jalan inspeksi di Sungai Sekanak. Sehingga, Sekanak akan lebih tertata rapi dan bisa jadi objek wisata,\u201d kata Harnojoyo.<\/p>\n<p><em>bulletinmetropolis.com\/Image <span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">Dinas Pariwisata Kota Palembang<\/span><\/span><br \/>\n<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah Kota Palembang menyiapkan konsep Sekanak Kerihin untuk kawasan Sekanak. \u201cKerihin itu bahasa asli Palembang, artinya zaman dulu. Sama seperti Bingen, tapi ini katanya lebih halus lagi,\u201d kata Kepala Dinas&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7610,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,82],"tags":[],"class_list":["post-16639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16639"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16639\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}