{"id":16657,"date":"2017-09-06T09:25:43","date_gmt":"2017-09-06T02:25:43","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=7953"},"modified":"2017-09-06T09:25:43","modified_gmt":"2017-09-06T02:25:43","slug":"lovina-festival-2017-enjoy-the-difference-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/lovina-festival-2017-enjoy-the-difference-2\/","title":{"rendered":"Lovina Festival 2017  \u201cEnjoy The Difference\u201d"},"content":{"rendered":"<p>DENPASAR \u2013 Bali terus mengoptimalkan potensi wisata baharinya. Menpar Arief Yahya bahkan menyebut potensi Pulau Dewata ini masih sangat besar untuk diberdayakan di sektor yang akan menjadi masa depan Indonesia itu. \u201cJangan khawatir, pariwisata adalah sektor yang paling sustainable,\u201d ungkap Arief Yahya.<\/p>\n<p>Tidak seperti minyak dan gas bumi, yang ketika dieksplorasi lama-lama akan habis. Pariwisata berbeda, pendekatannya dengan pelestarian. Karena itu prinsipnya, semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. \u201cTermasuk potensi ikan lumba-lumba di Bali Utara, yang bisa menjadi atraksi yang menarik wisatawan,\u201d jelas Arief Yahya.<\/p>\n<p>Bali adalah ratunya pariwisata. Alam di Bali dikenal menyimpan sejuta pesona, dan bukan hanya pantai Kuta, Sanur, atau Dreamland yang mempesona, tapi juga ada Pantai Lovina terletak di pesisir utara Pulau Bali, tepatnya sekitar 10 km arah barat Singaraja.<\/p>\n<p>Keindahan alam Lovina, Bali, ini siap diperkenalkan kepada masyarakat luas di acara Lovina Festival 2017 bertema \u201cEnjoy The Difference\u201d pada 14-18 September 2017.<\/p>\n<p>Dengan \u201cMenikmati Perbedaan\u201d, Lovina Festival 2017 akan sangat hidup, dan pasti menarik kekaguman dunia karena festival akan dimeriahkan dengan alam yang khas dan pertunjukan budaya Buleleng. Keindahan karang, Pesona Tari Lumba-lumba Hidung Botol, juga daya tarik permainan Bull Race yang berputar akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.<\/p>\n<p>\u201cFestival Pantai Lovina di Bali akan berlangsung selama empat hari. Kegiatan ini berpusat di Pantai Kalibukbuk, dan didukung sejumlah komponen pariwisata di Buleleng sebagai upaya membangkitkan industri pariwisata di Buleleng, khususnya di Lovina, sebagai ikon pariwisata Bali Utara,\u201d ujar I Nyoman Sutrisna, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.<\/p>\n<p>Sutrisna\u00a0 menyebutkan upacara pembukaan akan menghadirkan Baleganjur dan Parade Gebogan, serta Gong Kebyar dan tari Ki Barak Panji Sakti. Selanjutnya, akan ada Balap Banteng di Desa Kaliasem dan pertunjukan wayang<\/p>\n<p>Festival Lovina merupakan acara yang digagas pemerintah dan didukung sejumlah komponen pariwisata di Buleleng sebagai upaya membangkitkan industri pariwisata di Buleleng, khususnya di Lovina, sebagai ikon pariwisata Bali Utara. Acara ini memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki Buleleng dalam berbagai bidang, termasuk memberdayakan masyarakat sebagai penyangga kawasan Lovina. \u201cJadi ini juga ikon pantai kami di Bali Utara,\u201d ucap Agung.<\/p>\n<p>Di hari kedua, giliran para pencinta yoga yang difasilitasi kegiatan Yoga Asana Health &amp; Beauty dan ada\u00a0 pameran kerajinan, pameran kuliner, pertunjuka tari, serta Sampi Gerubungan. \u201cPada hari ketiga, pertunjukan seni masih dilanjutkan dengan band anturan kolaborasi, bonangan race, dan gong kebyar wanita Kalibukbuk Bondres,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, pada hari terakhir, akan dilaksanakan penutupan yang diikuti dengan Parade Megangsing, pertunjukan Kebyar, Megenjekan, dan Gong.<\/p>\n<p>\u201cPantai Lovina tidak kalah cantik dari pantai-pantai lain di Pulau Dewata. Pasirnya berwarna hitam asli, tidak seperti pantai lain di Bali. Ombak di bibir pantai pun relatif tenang dan bersahabat sehingga memungkinkan pengunjung berwisata ke tengah laut dengan perahu nelayan. Asyik banget pokoknya,\u201d kata Agung berpromosi.<\/p>\n<p>Dia mengatakan atraksi yang paling dicari dari Lovina adalah pertunjukan lumba-lumba hidung botol atau Tursiops truncatus. \u201cAnda dapat menyaksikan hewan pintar tersebut melompat-lompat di lautan lepas bersama kelompoknya. Biasanya mereka muncul pada pagi hari ketika matahari baru mulai menyingsing,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Pantai Lovina memang terkenal akan objek wisata lumba-lumba, karena itu sebuah patung berbentuk lumba-lumba setinggi sekitar 5 meter dibangun di dekat pintu masuk kawasan wisata. Pantai Lovina berpasir hitam dan masih alami sangatlah menarik untuk dikunjungi.<\/p>\n<p>\u201cPantai Lovina tidak kalah cantik dari pantai-pantai lain di Pulau Dewata. Pasirnya berwarna hitam asli, tidak seperti pantai lain di Bali. Ombak di bibir pantai pun relatif tenang dan bersahabat sehingga memungkinkan pengunjung berwisata ke tengah laut dengan perahu nelayan. Asyik banget pokoknya,\u201d kata Sutrisna berpromosi.<\/p>\n<p>Festival Lovina diadakan sekitar 9 km dari Kota Singaraja atau sekitar 80 km yang ditempuh dengan waktu 3-4 jam perjalanan dari pusat Kota Denpasar. Aksesnya?<\/p>\n<p>Dari Denpasar: Di Terminal Bus Ubing di Utara Denpasar dengan menggunakan mini bus menuju Singaraja yang berjarak sekitar 11 km sebelah timur Lovina. Di Terminal Bus Singaraja, bisa melanjutkan perjalanan menuju arah barat dengan biaya sekitar Rp 30.000.<\/p>\n<p>Dari bandara: tidak ada pilihan transportasi umum. Bisa menggunakan taksi dan langsung ke Lovina dengan lamanya perjalanan sekitar empat jam atau lebih dan biaya sekitar Rp. 300.000 Atau, kbisa naik taksi menuju Terminal Bus Denpasar. Sedangkan Dari Gilimanuk dan Ubud: sekitar 4 jam dan Ubud sekitar 3 jam, namun juga harus pergi menuju terminal bus Singaraja. Dan biasanya ada mini bus yang langsung menuju Lovina.<\/p>\n<p>Bagi Menteri Pariwisata Arief Yahya , event dan festival yang digelar di Bali Utara penting untuk menaikkan jumlah orang yang mengeksplorasi kawasan utara. \u201cSelain even ini, kami melihat Lovina mempunyai potensi yang perlu dikembangkan, contohnya lumba-lumba dan penyu yang banyak menetaskan telurnya di pantai dan tentu harus dikembangkan lagi cara pemasaran pariwisata di Lovina,\u201d kata Menpar Arief Yahya.<\/p>\n<p>Bali adalah produk pariwisata Indonesia, kita harus menjadikan Bali sebagai destinasi utama. Jangan cuma Bali selatan saja, kita kembangkan Bali utara, timur dan bahkan barat,\u201d Arief menegaskan.<\/p>\n<p>Sebab itu, Menpar Arief Yahya mendukung penuh Buleleng melakukan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Terutama, untuk menjadikan kawasan Bali utara agar makin dikunjungi banyak turis. Apalagi, dunia bawah lautnya ciamik.\u201d Jadi Festival Lovina 2016 ini bisa memperkenalkan potensi pariwisata di Bali Utara. Salam Pesona Indonesia,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p><em>balipost<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DENPASAR \u2013 Bali terus mengoptimalkan potensi wisata baharinya. Menpar Arief Yahya bahkan menyebut potensi Pulau Dewata ini masih sangat besar untuk diberdayakan di sektor yang akan menjadi masa depan Indonesia&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7954,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,91],"tags":[],"class_list":["post-16657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-denpasar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16657","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16657"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16657\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}