{"id":16693,"date":"2018-04-12T12:25:58","date_gmt":"2018-04-12T05:25:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=8814"},"modified":"2018-04-12T12:25:58","modified_gmt":"2018-04-12T05:25:58","slug":"saksi-sejarah-perang-padri-benteng-fort-de-kock-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/saksi-sejarah-perang-padri-benteng-fort-de-kock-2\/","title":{"rendered":"Saksi Sejarah Perang Padri, Benteng Fort de Kock"},"content":{"rendered":"<p><strong>Fort de Kock<\/strong>\u00a0adalah\u00a0benteng\u00a0peninggalan\u00a0Belanda\u00a0yang berdiri di\u00a0Kota Bukittinggi\u00a0,\u00a0Sumatera Barat,\u00a0Indonesia.<\/p>\n<p>Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun\u00a01825\u00a0pada masa Baron\u00a0Hendrik Merkus de Kock\u00a0sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya\u00a0Perang Paderi\u00a0pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama\u00a0<em>Fort de Kock<\/em>, kini Bukittinggi.<\/p>\n<p>Benteng Fort de Kock digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya\u00a0Perang Paderi\u00a0pada tahun\u00a01821-1837\u00a0.Semasa pemerintahan Be\u00adlan\u00adda, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat peme\u00adrintahan, kota ini disebut sebagai\u00a0<em>Gemetelyk Resort<\/em>\u00a0pada tahun\u00a01828. Sejak tahun\u00a01825 pemerintah Kolonial Belan\u00adda\u00a0telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat peme\u00adrintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.<\/p>\n<p>Fort de Kock juga diba\u00adngun sebagai lambang bahwa\u00a0Kolonial Belanda\u00a0telah berhasil menduduki daerah di\u00a0Sumatera Barat. Benteng tersebut meru\u00adpakan tanda penjajahan dan perluasan kekuasaan\u00a0Belanda\u00a0terhadap wilayah\u00a0Bukittinggi, Agam, dan\u00a0Pasaman.\u00a0Belanda\u00a0memang cerdik untuk menduduki Su\u00adma\u00adtera Barat, mereka meman\u00adfaatkan konflik intern saat itu, yaitu konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda sendiri ikut membantu kelompok adat, guna menekan kelompok aga\u00adma selama\u00a0Perang Paderi\u00a0yang berlangsung\u00a01821\u00a0hingga tahun\u00a01837.<\/p>\n<p>Belanda yang membantu kaum adat melahirkan sebuah kesepakatan bahwa Belanda diperbolehkan membangun basis pertahan militer yang dibangun Kaptain Bauer di puncak Bukit Jirek Hill, yang kemudian diberi nama Fort de Kock.<\/p>\n<p>Setelah membangun di Bukit Jirek, Pemerintah Kolo\u00adnial Belanda pun melanjutkan rencananya mengambil alih beberapa bukit lagi seperti Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malam\u00adbung. Di daerah tersebut juga dibangun gedung perkantoran, rumah dinas pemerintah, kom\u00adpleks pemakaman, pasar, sarana transportasi, sekolah juga tempat rekreasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan\u00a0Kolonial Belanda\u00a0tersebut dalam istilah\u00a0Minangkabau\u00a0dikenal dengan \u201ctajua nagari ka Bulando\u201d yang berarti Terjual negeri pada Belanda. Pada masa itu memang,\u00a0Kolonial Belanda\u00a0menguasai 75 persen wilayah dari lima desa yang dijadikan pusat perdagangan.<\/p>\n<p>Sejak direnovasi pada tahun 2002 lalu oleh pemerintah daerah, Fort de Kock, kawasan benteng Fort de Kock kini berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi (<em>Bukittinggi City Park<\/em>) dan Taman Burung Tropis (<em>Tropical Bird Park<\/em>). Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan bercat\u00a0putih-hijau\u00a0setinggi 20 m. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan\u00a0meriam\u00a0kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.<\/p>\n<p>Benteng ini berada di lokasi yang sama dengan\u00a0Kebun Binatang Bukittinggi\u00a0dan\u00a0Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan\u00a0kebun binatang\u00a0dan\u00a0museum\u00a0berbentuk\u00a0rumah gadang\u00a0tersebut berada di bukit sebelah kanan. Keduanya dihubungkan oleh\u00a0Jembatan Limpapeh\u00a0yang di bawahnya adalah jalan raya dalam\u00a0kota Bukittinggi. Kawasan ini hanya terletak 1\u00a0km dari pusat\u00a0kota Bukittinggi\u00a0di kawasan\u00a0Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.<\/p>\n<p>Benteng ini adalah satu dari 2 benteng belanda yang ada di sumatera barat , yang satu lagi terletak di\u00a0Batusangkar\u00a0dengan nama benteng\u00a0Fort Van der Capellen\u00a0karena 2 kota inilah dahulu yang paling susah ditaklukan belanda saat\u00a0Perang Paderi.<\/p>\n<p><em>wikipedia\/Image\u00a0<span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">pesona-minangkabau.blogspot.com<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fort de Kock\u00a0adalah\u00a0benteng\u00a0peninggalan\u00a0Belanda\u00a0yang berdiri di\u00a0Kota Bukittinggi\u00a0,\u00a0Sumatera Barat,\u00a0Indonesia. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun\u00a01825\u00a0pada masa Baron\u00a0Hendrik Merkus de Kock\u00a0sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":8815,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[79],"tags":[],"class_list":["post-16693","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-jkpi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16693"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16693\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}