{"id":16721,"date":"2018-07-03T10:43:02","date_gmt":"2018-07-03T03:43:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=9567"},"modified":"2018-07-03T10:43:02","modified_gmt":"2018-07-03T03:43:02","slug":"bus-wisata-terbuka-siap-antar-pelancong-menyusuri-kota-tangerang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/bus-wisata-terbuka-siap-antar-pelancong-menyusuri-kota-tangerang\/","title":{"rendered":"Bus Wisata Terbuka Siap Antar Pelancong Menyusuri Kota Tangerang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Tengerang\u00a0<\/strong>&#8211; Kantor Dinas Budaya, Pariwisata dan Pertamanan Kota Tangerang berencana menyiapkan bus\u00a0wisata\u00a0yang akan membawa pelancong menikmati berbagai sudut kota. Bus wisata ini \u00a0didesain terbuka sehingga penumpang leluasa menebarkan pandangan.<\/p>\n<p>Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan sudah banyak kota-kota besar di Indonesia melirik program c<em>ity tour<\/em>\u00a0menggunakan bus terbuka. Program ini memang menjadi atraksi wisata yang menarik untuk ditawarkan. \u201cApalagi (untuk) kota Tangerang memiliki berbagai\u00a0<em>spot<\/em>\u00a0wisata yang lengkap, mulai dari taman kota, wisata sejarah, wisata religi dan wisata belanja,\u201d kata dia di Tangerang, Senin, 1\/7.<\/p>\n<p data-kiosked-context-name=\"kskdUIContext_34a6ec5fe869ff4293b535ce24f3ef7f\">Beberapa kota yang telah mengoperasikan bus wisata terbuka ini, atara lain, Surakarta (Solo) dan Bandung. Di Jakarta juga sudah tersedia, namun dengan bus biasa (tidak terbuka).<\/p>\n<p>Oleh karena itu pemerintah akan memanfaatkan bus-bus Trans Tangerang yang sudah tidak beroperasi untuk disulap menjadi bus wisata. Bus-bus tersebut dulu melayani rutea Tangerang-Kali Deres dan berakhir di Taman Anggrek<\/p>\n<div id=\"inarticle\" data-google-query-id=\"CLKepZD_gdwCFY2naAoddAAFrg\">\n<div id=\"google_ads_iframe_\/14056285\/tempo.co\/desktop_travel_inarticle_0__container__\">Namun karena ada peraturan Gubernur DKI yang membatasi rutenya cuma sampai Kalideres, pengelolanya kebaratan dan memilih menghentikan sama sekali. \u201cKita akan mengoptimalkan bus tersebut menjadi bus wisata,&#8221; kata Arief.<\/div>\n<\/div>\n<p>Bus wisata tersebut nanti akan melayani rute dari Taman Potret-Taman Gajah-Kampung Bekelir-Masjid Agung-Jembatan Berendeng dan lanjut ke Masjid Raya Al-&#8216;Azhom. &#8220;Kemudian balik lagi ke Taman Potret.\u201d<\/p>\n<p>Tingkat kunjungan ke kota Tangerang dari tahun ke tahun menurut data Dinas Budaya, Pariwisata dan Pertamanan mengalami peningkatan 20 persen. Pada tahun 2017 total ada kunjungan 1.088.747. Lalu tahun ini hingga Mei 2018 sudah ada 443.153 wisatawan yang berkunjung.<\/p>\n<p>\u201cDan ini akan terus bertambah,&#8221; ujar Kabid Pariwisata Rizal Ridholloh.<\/p>\n<p><em>ANTARA\/Image tempo<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tengerang\u00a0&#8211; Kantor Dinas Budaya, Pariwisata dan Pertamanan Kota Tangerang berencana menyiapkan bus\u00a0wisata\u00a0yang akan membawa pelancong menikmati berbagai sudut kota. Bus wisata ini \u00a0didesain terbuka sehingga penumpang leluasa menebarkan pandangan. Wali&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9568,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,132],"tags":[],"class_list":["post-16721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-tangerang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16721"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16721\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}