{"id":2201,"date":"2013-01-10T10:54:31","date_gmt":"2013-01-10T10:54:31","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2201"},"modified":"2013-01-10T10:54:31","modified_gmt":"2013-01-10T10:54:31","slug":"melihat-tari-saman-yang-mendunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/melihat-tari-saman-yang-mendunia\/","title":{"rendered":"Melihat Tari Saman yang Mendunia"},"content":{"rendered":"<p>Siapa yang tidak mengenal Tari Saman dari provinsi Banda Aceh ini. Sebuah tari yang<br \/>\nsangat kesohor dengan gerakan yang cepat namun tidak menimbulkan keraguan bagi<br \/>\npenarinya. Terkadang kita berfikir, gerakan yang begitu indah dan cepat bisa saja<br \/>\nmenimbulkan keraguan bagi penarinya. Namun itulah Tari Saman, sebuah tari yang<br \/>\nsagat enerjik, indah dan penuh pesan-pesan islami yang disampaikan dalam tari<br \/>\ntersebut.<\/p>\n<p>Keindahan dan keunikan tari tersebut telah mengantarkan Tari Saman diakui oleh<br \/>\nlembaga dunia UNESCO sebagai warisan budaya dunia tidak benda (intangible<br \/>\nheritage). Sebuah kebanggan bagi masyarakat Indonesia, dengan pengakuan lembaga<br \/>\ndunia tersebut.<\/p>\n<p>Berikut mari kita lihat bagaimana sejarah tari dari tanah rencong ini. Tari Saman<br \/>\nadalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan<br \/>\nperistiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan<br \/>\nbahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk<br \/>\nmerayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan<br \/>\ntari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama<br \/>\nyang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai<br \/>\nDaftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite<br \/>\nAntar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda UNESCO di Bali, 24<br \/>\nNovember 2011.<\/p>\n<p>Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini<br \/>\nmencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan<br \/>\ndan kebersamaan.<br \/>\nSebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang<br \/>\ntua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar)<br \/>\natau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.<\/p>\n<p>Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari<br \/>\npria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian<br \/>\ntersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara group tamu dengan grup<br \/>\nsepangkalan (dua grup). Penilaian ditititk beratkan pada kemampuan masing-masing<br \/>\ngrup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.<br \/>\n<br \/>\nTari Saman biasanya ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, akan tetapi<br \/>\nmenggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya<br \/>\ndikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi<br \/>\ndan menghempaskan badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang<br \/>\npemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan<br \/>\nwaktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut<br \/>\nuntuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil<\/p>\n<p>dengan sempurna. Tarian ini khususnya ditarikan oleh para pria.<\/p>\n<p>Pada zaman dahulu,tarian ini pertunjukkan dalam acara adat tertentu,diantaranya<br \/>\ndalam upacara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu,<br \/>\nkhususnya dalam konteks masa kini, tarian ini dipertunjukkan pula pada acara-acara<br \/>\nyang bersifat resmi,seperti kunjungan tamu-tamu Antar Kabupaten dan Negara,atau<br \/>\ndalam pembukaan sebuah festival dan acara lainnya.<\/p>\n<p>Untuk nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Cara<br \/>\nmenyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam ( 1). Rengum, yaitu<br \/>\nauman yang diawali oleh pengangkat (2) Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh<br \/>\nsemua penari (3) Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan<br \/>\noleh seorang penari pada bagian tengah tari (4) Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan<br \/>\noleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda<br \/>\nperubahan gerak dan (5) Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari<br \/>\nsetelah dinyanyikan oleh penari solo.<\/p>\n<p>Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian<br \/>\nsaman: Tepuk tangan dan tepuk dada.Diduga,ketika menyebarkan agama islam,syeikh<br \/>\nsaman mempelajari tarian melayu kuno,kemudian menghadirkan kembali lewat gerak<br \/>\nyang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudakan dakwahnya.Dalam<br \/>\nkonteks kekinian,tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media<br \/>\nuntuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan. Tarian<br \/>\nsaman termasuk salah satu tarian yang cukup unik,kerena hanya menampilkan gerak<br \/>\ntepuk tangan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang,kirep,lingang,surang-<br \/>\nsaring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo)<\/p>\n<p>Pada umumnya,Tarian saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi<br \/>\njumlahnya harus ganjil.Pendapat Lain mengatakan Tarian ini ditarikan kurang lebih<br \/>\ndari 10 orang,dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil<br \/>\nbernyanyi.Namun, dalam perkembangan di era modern yang menghendaki bahwa<br \/>\nsuatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah<br \/>\nyang lebih banyak. Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin<br \/>\nyang disebut syeikh. Selain mengatur gerakan para penari,Syeikh juga bertugas<br \/>\nmenyanyikan syair-syair lagu saman. yaitu ganit. (Adrial-dari berbagai sumber)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang tidak mengenal Tari Saman dari provinsi Banda Aceh ini. Sebuah tari yang sangat kesohor dengan gerakan yang cepat namun tidak menimbulkan keraguan bagi penarinya. Terkadang kita berfikir, gerakan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,75],"tags":[],"class_list":["post-2201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-banda-aceh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2201"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2201\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}