{"id":2454,"date":"2013-07-11T07:05:14","date_gmt":"2013-07-11T07:05:14","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2454"},"modified":"2013-07-11T07:05:14","modified_gmt":"2013-07-11T07:05:14","slug":"arsitektur-rumah-tradisional-kota-sungai-penuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/arsitektur-rumah-tradisional-kota-sungai-penuh\/","title":{"rendered":"Arsitektur Rumah Tradisional  Kota Sungai Penuh"},"content":{"rendered":"<p>Seperti dengan daerah daerah lain di nusantara,\u00a0 Kota Sungai Penuh\u00a0 merupakan bagian\u00a0 tidak terpisahkan dari <b>suku Kerinci<\/b>\u00a0 memiliki arsitektur bangunan rumah tempat tinggal yang unik dan spesifik, rumah rumah tradisional suku Kerinci yang mendiami lembah alam Kerinci dibuat berlarik, antara satu bangunan rumah dengan bangunan rumah lainnya saling berhubungan saling bersambung seperti rangkaian gerbong yang memanjang dari arah timur dan barat, menutut garis edar matahari, konstruksi bangunan\u00a0 cukup unik dan rumit karena sistim sambungannya tidak menggunakan besi-paku, akan tetapi menggunakan pasak dan sistim sambung silang berkait.<\/p>\n<p>Konsep Landscape rumah berlarik dapat dibagi berdasarkan konsep ruang makro, ruang meso, dan ruang mikro. Pola rumah berlarik berjejer memanjang dari arah Timur ke arah Barat sambung menyambung antara satu rumah dengan rumah yang bersebelahan hingga membentuk sebuah larik ( deretan). Rumah berlarik di\u00a0 enam luhah Sungai Penuh\u00a0 merupakan salah satu kawasan rumah tradisional berlarik yang terdapat di Kota Sungai Penuh, pada masa lalu pada umumnya di setiap pemukiman\/neghoi atau duseung di alam Kerinci terdapat rumah berlarik panjang<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><b><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2460\" alt=\"2\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/2.jpg\" width=\"230\" height=\"155\" \/><\/a><\/b><em>( Potret rumah tradisional suku Kerinci daerah Kota Sungai Penuh)<\/em><\/p>\n<p>Rumah ini menerapkan konsep sumbu vertikal (nilai ketuhanan) dan sumbu horisontal (nilai kemanusiaan). Sumbu vertikal terlihat dari pembagian ruang menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah sebagai kandang ternak, bagian tengah untuk tempat manusia tinggal, dan bagian atas untuk menyimpan benda-benda pusaka. Sedangkan sumbu horisontal dapat dilihat dari pembagian ruang dalam rumah yang tidak bersekat dan saling menyatu antara satu rumah dengan rumah yang saling bersebelahan,hal ini mengandung nilai kemanusiaan yang tinggi.<\/p>\n<p>Pekarangan rumah berlarik yang dibangun dikawasan <b>\u201cParit Sudut Empat\u201d<\/b> pada umumnya dimanfaatkan untuk kegiatan menjemur hasil pertanian seperti padi. kopi, dan kayu manis.Pada acara Kenduri Sko halaman rumah berlarik dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas pelaksanaan kenduri Sko, dan pada hari hari besar keagamaan biasanya\u00a0 pekarangan\u00a0 dimanfaatkan untuk kegiatan\u201dMelemang\u201d atau memasak Juadah<\/p>\n<p>Umoh laheik jajou (berlarik berjajar),dibangun sambung-menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gerbong kereta api yang sangat panjang, sepanjang larik atau lorong dusun, dibangun di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan. Pada Konstruksi rumah tradisional suku Kerinci daerah Kota Sungai Penuh, tidak terlihat menggunakan fondasi permanen, hanya menggunakan batu \u201dSendai\u201d yakni\u00a0 memanfaatkan batu alam yang permukaannya telah dipipihkan, batu\u00a0 sendai ini merupakan penopang\u00a0 tiang tiang rumah berlarik, Pembangunan rumah berlarik\u00a0 tidak menggunakan\u00a0 besi -paku, hanya mengandalkan pasak dan ikatan tambang ijuk.<\/p>\n<p>Dimasa\u00a0 lalu atapnya\u00a0 rumah berlarik ini, berasal dari\u00a0 ijuk yang dijalin, sedangkan dinding rumah berlarik memanfaatkan pelupuh (bambu yang disamak) atau kelukup (sejenis kulit kayu) dan lantainya\u00a0 papan yang di-tarah dengan beliung. Material-material itu tidaklah memberatkan rumah. Umoh laheik ini merupakan tempat tinggal tumbi ( keluarga besar), dengan sistem sikat atau sekat-sekat seperti rumah bedeng. Setiap keluarga menempati satu \u201csikat\u201d yang terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang, selasar, dan dapur.<\/p>\n<p>Setiap sikat memiliki dua pintu dan dua jendela, yakni bagian depan dan belakang. Material pintu\u00a0 adalah papan tebal di tarah beliung. Antara sekat sikat terdapat pintu kecil sebagai penghubung. Jendela yang disebut <b>\u201csingap\u201d<\/b> sekaligus merupakan ventilasi angin dibuat tidak terlalu lebar, tanpa penutup seperti layaknya rumah modern saat sekarang, hanya dibatasi jeruji berukir.<\/p>\n<p>Sementara bagian bawah yang disebut <b>\u201c umou\u201d<\/b> sering hanya sebagai gudang tempat menyimpan perkakas pertanian, atau terkadang juga menjadi kandang ternak seperti ayam, itik , , kambing, dan domba. Tak jarang juga dibiarkan kosong melompong\u00a0 menjadi arena tempat bermain anak-anak. Di bagian atas loteng terdapat bumbungan yang<\/p>\n<p>disebut<b>\u201cparra\u201d.<\/b> Atap di dekat parra itu biasanya dibuat lagi singap kecil yang \u00a0bisa \u00a0buka-tutup, yang disebut <b>\u201cpintu ahai\u201d<\/b> atau pintu hari atau pintu matahari. Di situlah keluarga bersangkutan sering menyimpan <b>\u201csko\u201d <\/b>(benda-benda pusaka) keluarga. Di luar rumah, tepatnya di depan pintu, biasanya terdapat beranda panggung kecil yang disebut \u201cpalasa\u201d, yang langsung terhubung dengan jenjang atau tangga. Di situ pemilik rumah seringberangin-angin sepulang kerja. Bahkan, tak jarang para tamu pria sering dijamu duduk di atas bangku sambil minum sebuk kawo dan mengisap rokok lintingan daun\u00a0 enau.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bagian halaman depan rumah sering dipenuhi oleh tumpukan batu sungai sebagai teras sehingga rumah terkesan tidak berpekarangan<\/p>\n<p>Pekarangan rumah keluarga tersebut sebenarnya berada di halaman belakang yang biasanya sangat luas dan panjang. Model dan konstruksi arsitektur rumah tradisional Kerinci mencerminkan betapa masyarakat sangat mengutamakan semangat kekerabatan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupannya sebagai falsafah pegangan hidup manusia sebagai makhluk sosial.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2459 alignleft\" alt=\"1\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/1.jpg\" width=\"186\" height=\"180\" \/><\/a>Dinding rumah bagian depan menghadap ke halaman dibuat miring, ada juga tegak lurus. Rumah\u00a0 tradisional yang disebut \u201cumouh lahek jajou\u201d merupakan rumah panggung yang mempunyai ruang kosong dibagian bawah (kolong) rumah yang disebut\u00a0 <b>\u201cbawouh Umou\u201d.<\/b> Untuk memasuki rumah\u00a0 harus menaikki tangga bertakuk yang disebut \u201d Tanggoa Janteang\u201d atau tanggu betino<\/p>\n<p>Tiang tiang rumah panggung berlarik yang ada di dusun dusun bersisi delapan dan terdapat ukiran ukiran bermotif\u00a0 padma gaya lokal, Setiap komponen rumah mempunyai pengertian \/falsafah\u00a0 kehidupan masyarakat. pintu rumah terbuat dari selembar papan lebar dan tebal dan dihiasi ukiran stilir matahari. Konstruksi atap rumah tradisional dinamakan \u201dLipak Pandang\u201d (Lipat Pandan, Pen).pemakaian istilah ini diambil dari nama daun tumbuh tumbuhan\u00a0 yakni daun pandan (pandanus) yang biasa dipakai sebagai bahan materal anyaman.Secara alami daun pandan secara alamiah pada batangnya \u00bc bahagian dari ujung,dan membentuk segi tiga yang seimbang seperti rumah tradisional suku Kerinci.<\/p>\n<p>Rumah rumah tradisional yang tersisa di Kota Sungai Penuh hanya\u00a0 tinggal beberapa buah, dan rumah\u00a0 rumah tradisional tersebut terhimpit oleh bangunan bangunan baru dengan arsitektur modren, rumah kuno\u00a0 yang tersisa terdapat di Dusun Baru (2 unit relatif utuh) di Dusun Sungai Penuh (1 Unit relatif utuh) Pondok Tinggi relatif banyak tersisa meski telah mengalami perobahan dan perbaikkan akan tetapi masih mempertahankan keaslian, beberapa diantaranya ditinggalkan penghuni dan semakin tergerus dimakan usia,secara umum bangunan rumah tradisional suku Kerinci daerah Kota Sungai Penuh \u201cNyaris \u201cpunah<\/p>\n<p>Rumah tradisional yang ada di Kota Sungai Penuh\u00a0 pada umumnya memiliki tipe empat persegi panjang dan berbentuk rumah panggung, antara satu bangunan rumah merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan, untuk melakukan komunikasi dan saling berintegrasi dengan para tetangga pada masa lalu mereka cukup membuka pintu penghubung yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Setiap larik\u00a0 dihuni oleh beberapa Keluarga yang disebut Tumbi, gabungan\u00a0 beberapa tumbi disebut <b>Kalbu,<\/b> setiap Kalbu di pimpin oleh seorang <b>Nenek mamak<\/b><\/p>\n<p>Setiap rumah memiliki ukuran sekitar 8&#215;6 meter yang dihuni satu keluarga, untuk menghindari ancaman binatang buas, nenek moyang membangun rumah dengan konstruksi rumah panggung, dan\u00a0 bentuk\u00a0 bagian\u00a0 bangunan rumah larik merupakan satu kesatuan utuh yang saling berhubungan dengan pembagian sebagai berikut: 1. Bubungan atap. 2 Dinding,3. Pintu Jendela.4. Tiang.5 Lantai.6 Tangga<\/p>\n<p>Secara khusus rumah tradisional suku Kerinci yang terdapat di dusun dusun dalam Kota Sungai Penuh\u00a0 dibuat atas dua bagian yang terpisah yakni: bagian utama atau bawah teridiri dari tiang tiang besar dan bagian atas terdiri dari tiang tiang bubung dan kasau atap. Keyaqinan masyarakat kuno suku Kerinci yang mempercayai kehidupan terdiri atas dua bagian yakni kehidupan dunia atas yang dinamai\u201dMaliyu\u201d dan dunia bawah yang dinamai\u201dMarena\u201d,keduanya merupakan sisi terpisah. Dunia atas lazim disebut<b>\u201dLangaik\u201d<\/b> atau langit.dan dunia bawah disebut<b>\u201dGumui\u201d<\/b> atau bumi\u00a0 merupakan hal terpisah. Dunia diatas menurut kepercayaan masyarakat kuno Suku Kerinci merupakan tempat bermukimnya roh roh nenek moyang, Dewa dewa, Mambang dan Peri, sedangkan dunia bawah merupakan tempat pemukiman Manusia,Fauna dan Flora.<\/p>\n<p>Pada umumnya di dusun dusun tradisional disamping memiliki rumah rumah berlarik terdapat rumah rumah ibadah Masjid\/Surau dengan atap berbentuk Limas Tumpang Tiga atau Tumpang Dua dan dipuncaknya terdapat\u201dMustaka\u201d yang terbuat dari baru,dan secara umum pada bangunan terdapat ukiran\/ornament bermotif Fatma(Flora) dan geometris,akan tetapi bangunan bangunan sarana Ibadah Masjid\/Surau sebagian besar telah rubuh dimakan usia atau mengalami pergantian material bangunan dan di beberapa\u00a0 pemukiman tradisional biasanya terdapat\u201dCungkup Tabuh Larangan\u201dyang berbentuk rumah akan tetapi tidak memiliki dinding,dan bangunan cungkup diberi atap dan tiang tiang penyangga bangunan terdapat motive ukiran khas suku Kerinci, Cungkup ini berfungsi untuk melindungi Tabuh Larangan dari terik matahari dan rembesan air hujan.,Tabuh Larangan merupakan\u00a0 alat untuk pemberitahuan atas\u00a0 masalah yang terjadi di dalam dusun atau tanda \u00a0pemberi peringatan adanya bencana alam<\/p>\n<p>Di dalam dusun dusun tradisional di Kota Sungai Penuh biasanya terdapat <b>\u201d Pulo Neghoi\u201d <\/b>(Pulau negeri,Pen) merupakan bangunan batu alam tegak yang berada ditengah tengah dusun,konon pada masa lalu dikawasan \u201cPulo Neghoi\u201d dimanfaatkan untuk kegiatan upacara ritual\u2019tari asyek\u201d,dan sejak masuknya agama Islam upacara ritual \u201ctari asyek\u201d secara perlahan lahan mengalami pergeseran, karena dipandang tidak sesuai dengan ajaran dan kebudayaan\u00a0 agama Islam<\/p>\n<p>Bangunan lain yang terdapat di dalam\u00a0 dusun dusun tradisional adalah\u201dmakam nenek moyang atau <b>\u201c Jirat Nenek\u201d<\/b> yang berbentuk miniatur rumah yang didalamnya terdapat makam\/jirat nenek moyang, pada masa lalu atap bangunan terbuat dari atap ijuk, dan saat ini bangunan jirat hanya terdapat beberapa buah yang masih dirawat oleh masyarakat, diantaranya terdapat di Sungai Penuh, Kumun Mudik, Debai, Pondok Tinggi, Koto Tengah Koto Lolo,Koto Bento,dll<\/p>\n<p><em>\u00a0(Pulo Neghoi\/ pusat negeri\/dusun dan Jirat nenek moyang)<\/em><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/3.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2455 alignleft\" alt=\"3\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/3.jpg\" width=\"188\" height=\"252\" \/><\/a><\/em><em><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-2456 alignleft\" alt=\"4\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/4-300x200.jpg\" width=\"300\" height=\"200\" \/><\/a><\/em><\/p>\n<p>Dalam arsitektur tradisional yang terwujud dalam bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi,\u00a0 dan bangunan rumah rumah tradisional memiliki berbagai ragam\u00a0 nilai nilai kearifan lokal, Bangunan Mesjid Agung yang dibangun hampir 2 abad yang lalu yang dibangun dengan menggunakan bahan material alam yang tersedia di Kota Sungai Penuh dan arsitek perancang dan pelaksana pembangunan Mesjid telah menunjukkan betapa tingginya daya cipta dan daya kreatif masyarakat di Pondok Tinggi pada waktu itu,meski dengan menggunakan sarana dan prasarana terbatas masyarakat telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang Agung.megah dan bernilai seni tinggi.<\/p>\n<p>Nilai nilai kekeluargaan yang erat dan sifat kegotong royongan dan rasa kesaatuan dan persatuan tinggi\u00a0 telah menunjukkan bahwa mereka telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang saat itu sangat sulit untuk di wujudkan.Masyarakat suku Kerinci( Kota Sungai Penuh Propinsi Jambi sejak masa lampau telah mengenal berbagai bentuk ragam\u00a0 hias,secara umum ukiran yang terdapat di rumah rumah \u201cLaheik Jajou\u201d (berlarik berjajar,Pen) dan ukiran pada bangunan sarana ibadah bercorak tumbuh tumbuhan atau bermotif vegetative, ukiran yang ada terlihat memiliki garis garis sederhana seperti relung, patran, benangan sedikit rancapan dan terawang, bentuk ukiran ini seolah olah berlapis sulur menyulur dalam bentuk garis berhubungan, dan masyarakat setempat menyebutkan <b>\u201clampit simpea\u201d<\/b> atau dikenal dengan istilah pilin berganda.<\/p>\n<p>Pada ukiran yang terdapat pada bangunan tradisional corak anyaman terlihat selalu ada pada setiap objek,sedangkan pada bentuk geometris juga merupakan garis yang saling berhubungan,untuk sebutan daerah nama ukiran\u00a0 antara lain dinamai si mato arai,,mbun buntal.nanguri lahat,si giring giring,ketadu daun,teratai bindui,keluk paku,kacang belimbing,setiap bentuk.motive yang ada memiliki makna filosofis tersendiri,misalnya ukiran teratai bindui yang terdapat pada tiang rumah bermakna kesucian jiwa dan niat yang baik, Diantara ragam hias lain yang tumbuh dan berkembang itu adalah<\/p>\n<ul>\n<li>&#8211; KelukPaku kacang Belimbing&gt; artinya Anak di Pangku,<\/li>\n<li>&#8211; Kemenakan dibimbing Relung kangkung&gt;patah tumbuh hilang berganti\/kerja yang tiada mengenal lelah<\/li>\n<li>&#8211; Pilin Ganda (berbentuk abjad S )&gt;\u00a0 setiap\u00a0 sesuatu\u00a0 saling ketergantungan\u00a0 dan\u00a0 saling\u00a0 membutuhkan<\/li>\n<li>&#8211; Ragam\u00a0 Hias Turqi( auraka) dalam bentuk daun daun yang berjurai<\/li>\n<li>&#8211; Ragam Hias Kaff wa darj&gt; berbentuk garis garis melengkung<\/li>\n<li>&#8211; Ragam Arabes( Zuchrufil-Arabi)&gt;berbentuk anting anting daun dan bunga<\/li>\n<li>&#8211; Ragam Tampouk klapo,Ragam Selampit empat, Selampit jalein due<\/li>\n<li>&#8211; Motibe Bungea Matoharai( Bunga Matahari)<\/li>\n<li>&#8211; Ragam hias Gadoeing Gajeah( Gading Gajah)<\/li>\n<li>&#8211; Ragam Cino sebatang, samang beradu punggoun, Mentade belage<\/li>\n<li>&#8211; Ragam bungea betirai, ragam motive relung, dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pada dasarnya semua ukiran\u00a0 pada masa lalu tidak diwarnai, diduga pada saat itu di alam Kerinci(Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) belum memiliki bahan bahan zat pewarna untuk media material bangunan kayu\/ papan .belakangan ini akibat dampak perkembangan zaman dan tekhnologi, arsitektur tradisional\u00a0 suku Kerinci khususnya di Kota Sungai Penuh semakin tergerus dan mengalami perubahan, manusia sebagai penggerak utama perubahan semakin terdesak oleh alam dan lingkungannya, berbagai pengaruh tekhnologi dan tuntutan perubahan zaman membuat arsitektur bangunan rumah asli di Kota Sungai Penuh semakin tergeser dan terpinggirkan, dan di khawatirkan untuk abad mendatang\u00a0 arsitektur tradisional\u00a0 bangunan di Kota Sungai Penuh akan punah dan akan menjadi kenangan masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\"><b>Bilik Padi<\/b><\/p>\n<p>\u00a0Sebagian besar (97 %) masyarakat tradisional (pendnduk asli)\u00a0 Kota Sungai Penuh menggantungkan hidup pada sektor pertanian dengan\u00a0 perioritas\u00a0 mengekerjakan lahan persawahan yang diwarisi secara turun temurun,pengolahan lahan persawahan pada masa lampau dilakukan secara manual\u00a0 dengan \u201cmemangkoa\u201d ( mencangkul) lahan sawah,setelah lahan dicangkul untuk beberapa minggu\u00a0 dibiarkan dan selanjutnya\u00a0 setelah jerami\/rumput membusuk lahan yang telah di cangkul selanjutnya dilakukan kegiatan \u201cMaleik\u201d yakni mencangkul kembali sampai tanah dilokasi persawahan menjadi halus dan rata hingga siap untuk ditanami.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\"><em>(Bilik padi yang terdapat di alam Kerinci daerah Kota Sungai Penuh)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\"><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6-bilik-padi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2458\" alt=\"6-bilik-padi\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/6-bilik-padi.jpg\" width=\"298\" height=\"241\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/5-bilik-padi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2457\" alt=\"5-bilik-padi\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/07\/5-bilik-padi.jpg\" width=\"234\" height=\"203\" \/><\/a><\/p>\n<p>Dimasa lalu masyarakat melakukan kegiatan bersawah\u00a0 dalam satu tahan untuk satu kali masa tanam,rata rata umur padi\u00a0 pada masa itu sekitar\u00a0 6 bulan. Apabila padi telah menguning,berarti saat panen telah tiba,menunai\u00a0 padi\u00a0 menggunakan alat yang disebut\u201dtuai\u201d,alat ini terbuat dari kayu dan besi yang biasanya alat tuai ini dibuat sendori oleh petani.<\/p>\n<p>Hasil Panen diangkut dengan alat yang disebut \u201cJangki\u201d,Jangki terbuat dari rotan yang dianyam sedemikian rupa berfungsi sebagai wadah yang dapat membawa(dengan cara di gendong) dan dapat membawa padi seberat 30 Kg-40 Kg,pada era tahun 1970 an -1980 an padi padi diangkut dengan alat angkut Gerobak\u201dNton\u201d yang ditarikoleh hewan Jawi( sapi)<\/p>\n<p>Padi yang diangkut dari sawah dibawa kerumah dan di jemur dibawah terik matahari dengan alas\u201dUmbaing\u201dsetelah padi padi kering dimasukkan kedalam\u00a0 rumah padi yang disebut \u201cBiliek Padoi\u201d Bilik padi ini merupakan tempat menyimpan padi dan merupakan warisan nenek moyang yang digunakan untukkepentingan bersama dalam \u201cTumbi \u201c atau satu kelompok angggota keluarga terdekat..<\/p>\n<p>Bilik bilik padi ini berbentuk rumah dengan ukuran panjang dan lebar disesuaikan\u00a0 dengan daya tamping hasil panen yang diperoleh. Blik padi dibangun dengan menggunakan\u00a0 jenis kayu yang berkualitas dengan\u00a0 tiang tiang dan pondasi yang kokoh,biasanya pada tiang dan dinding dibuat ukiran ukiran bermotifkan patma.Lokasi bangunan bilik berada dalam lingkungan laheik atau duseoun dalam parit bersudut empat.<\/p>\n<p>Padi yang disimpan di dalam bilik biasnya digunakan sebagai\u00a0 stok atau penyangga ketahanan pangan untuk jangka waktu\u00a0 untuk satu kali masa panen,dan padi di dalam bilik padi\u00a0 baru dimanfaatkan pada saat\u00a0 dibutuhkan atau sebaai persiapan bagi para kerabatb yang\u00a0 membutuhkan.<\/p>\n<p>Masyarakat Kota Sungai Penuh memiliki jenis padi local untuk dikonsumsikan,jenis padi yang ditanah oleh masyarakat suku Kerinci daerah Kota Sungai penuh\u00a0\u00a0 diantaranya adalah jenis padi:<\/p>\n<ol>\n<li>Padi Silang serukuo<\/li>\n<li>Padi ekor tupai<\/li>\n<li>Padi Payoa<\/li>\n<li>Padi Silang rantai<\/li>\n<li>Padi Pulut(Padi Ketan) yang terbagi dalam:<\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li>&#8211; Padi pulut senja (warna Kuning tua)<\/li>\n<li>&#8211; Padi pulut ahang\/itang (warna hitam)<\/li>\n<li>&#8211; Padi pulut Sagu(\u00a0 warnanya seperti padi biasa.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Arsitektur trradisional suku Kerinci Daerah Kota Sungai Penuh termasuk bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi, rumah rumah larik\u00a0 dan Bilik Padi yang ada di Kota Sungai Penuh merupakan\u00a0 salah satu identitas yang mampu memberikan gambaran tentang tingkat kehidupan masyarakat di Kota Sungai Penuh pada masa lalu, Dalam arsitektur tradisional terkandung secara terpadu wujud ideal,wujud sosial dan wujud material suatu kebudayaan,karena wujud wujud kebudayaan itu dihayati dan diamalkan,maka melahirkan rasa bangga dan rasa cinta\u00a0 bagi masyarakat pendukungnya.<\/p>\n<p>Dalam arsitektur tradisional yang terwujud\u00a0 dalam bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi\u00a0 ,bangunan rumah rumah tradisional\u00a0 dan Bilik Bilik Padf memiliki berbagai ragam\u00a0 nilai nilai kearifan lokal,Bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi\u00a0 yang dibangun\u00a0 2 abad yang lalu\u00a0 yang dibangun dengan menggunakan bahan materialalam yang tersedia di Kota Sungai Penuh dan arsitek perancang dan pelaksana pembangunan Mesjid telah menunjukkan betapa tingginya daya cipta dan daya kreatif masyarakat di Pondok Tinggi pada waktu itu,meski dengan menggunakan sarana dan prasarana terbatas masyarakat telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang Agung.megah dan bernilai seni tinggi.<\/p>\n<p>Nilai nilai kekeluragaan yang\u00a0 erat dan sifat kegotong royongan dan rasa kesaatuan dan persatuan\u00a0 tinggi\u00a0 telah menunjukkan bahwa mereka telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang saat itu sangat sulit untu Belakangan ini akibat dampak perkembangan zaman dan tekhnologi,\u00a0 arsitektur tradisional\u00a0 suku Kerinci khususnya di Kota Sungai Penuh semakin tergerus dan mengalami perubahan,manusia sebagai penggerak utama perubahan semakin terdesak oleh alam dan lingkungannya,berbagai pengaruh tekhnologi\u00a0 dan tuntutan perubahan zaman membuat arsitektur bangunan\u00a0 rumah aslidi Kota Sungai Penuh semakin\u00a0 tergeser dan terpinggirkan,dan di khawatirkan untuk abad mendatang\u00a0 arsitektur tradisional\u00a0 bangunan di Kota Sungai Penuh akan punah dan akan menjadi kenangan masa lalu.<\/p>\n<p>Sebuah harapan dari kalangan budayawan dan seniman agar Pemerintah\u00a0 segera turun tangan untuk menyelamat dan merawat aset aset bangunan arsitektur tradisional yang masih tersisa, diantara sisa sisa bangunan berarsitektur tradisional\u00a0 yang terancam tergeru ialah Bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi yang mulai mengalami kerusakan akibat dampak pengaruh alam , disamping Mesjid Agung Pondok Tinggi, terdapat beberapa rumah rumah tradisional asli kota Sungai Penuh yang masih tersisa di Dusun Baru,\u00a0 sebuah rumah tua di Rio Jayo Sungai Penuh, sebuah bilik padi di pasar Sungai Penuh, dan di Koto Bento\u00a0 dan beberapa rumah rumah tua yang masih tersisa di sejumlah dusun dusun.<\/p>\n<p>Pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata\u00a0 dan Kebudayaan perlu segera menginventarisasi dan melakukan pemugaran terhadap bangunan bangunan arsitektur tradisional yang masih tersisa seperti Mesjid Agung Pondok Tinggi,rumah rumah tua ,bilik bilik padi dan beduk beduk\/tabuh yang semakin lapuk.<\/p>\n<p><em> Oleh: Budhi Vrihaspathi Jauhari &amp; Nurul Anggraini Pratiwi<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti dengan daerah daerah lain di nusantara,\u00a0 Kota Sungai Penuh\u00a0 merupakan bagian\u00a0 tidak terpisahkan dari suku Kerinci\u00a0 memiliki arsitektur bangunan rumah tempat tinggal yang unik dan spesifik, rumah rumah tradisional&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2460,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71,108],"tags":[],"class_list":["post-2454","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-archives","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2454","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2454"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2454\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}