{"id":2824,"date":"2013-08-23T08:33:15","date_gmt":"2013-08-23T08:33:15","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2824"},"modified":"2013-08-23T08:33:15","modified_gmt":"2013-08-23T08:33:15","slug":"abjad-aksara-incung-suku-kerinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/abjad-aksara-incung-suku-kerinci\/","title":{"rendered":"Abjad Aksara Incung  Suku Kerinci"},"content":{"rendered":"<p>Pada umumnya\u00a0 aksara Incung\u00a0 ditulis diatas ruas bambu dan tanduk (Depati.H.Alimin ),aksara incung yang ditulis pada ruas bambu yang kebanyakkan\u00a0 aksara\u00a0 berisikan tentang cinta yakni berisikan ratapan tangis seorang jejaka yang patah hati\u00a0 karena cinta di tolak oleh sang pujaan hati.<\/p>\n<p>Sedangkan pada\u00a0 tanduk kerbau dan tanduk kambing\u00a0 aksara incung pada umumnya berisikan tentang silsilah\u00a0 (Tambo ), yang biasanya pada awal kalimat dimulai dengan ucapan\u00a0 \u201c ini\u00a0 surat\u00a0 tutur\u00a0 tambo ninik\u00a0 (\u00a0 inilah cerita tentang silsilah nenek moyang), sebuah catatan menyebutkan sekitar 10 % dari Aksara Incung yang dituliskan diatas tanduk menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Islam,\u00a0 kemungkinan besar di aksara Incung\u00a0 bernafaskan Islam tersebut di tulis sebelum pertengahan abad ke 19\u00a0 Disamping\u00a0 banyak ditemui pada media ruas buluh dan tanduk, Aksara Incung Suku Kerinci juga ditulis diatas Kulit Kayu, Tapak Gajah dan Daun Lontar. Untuk naskah Incung yang ditulis diatas kertas disimpan dalam media tabung ruas bambu yang telah dikeringkan dengan cara di gulungkan,pada budayawan menyebutkan pada umumnya naskah Incung yang ditulis di atas ruas buluh berisikan\u00a0 ratap tangis seorang jejaka\u00a0 dan merupakan sambungan dari ratapan tangis yang ditulis diatas ruas bambu<\/p>\n<p>Sebagaimana yang telah diuraikan bahwa masyarakat suku Kerinci sangat menghargai arwah dan hasil karya cipta nenek moyang mereka, bukti bukti secara jelas menunjukkan beragam benda benda pusaka hingga saat ini masih tersimpan dan terawat dengan baik,masih ada kepercayaan sebagian masyarakat tradisional yang\u00a0 mengkeramatkan benda benda tersebut dan menganggap benda benda pusaka tersebut memiliki nilai nilai yang luar biasa yang dapat melindungi mereka dari ancaman dan gangguan dan untuk menyelamatkan benda benda pusaka ttersebut masyarakat adat merawat dan menyimpan dengan cermat dan seksama, pada umumnya benda benda tersebut disimpan diatas loteng rumah,masyarakat beranggapan bahwa loteng rumah merupakan tempat terhormat dan tidak semua orang yang dapat naik keatas loteng rumah.<\/p>\n\n<p>Diantara benda benda pusaka yang disimpan tersebut terdapat aksara incung yang di tulis pada ruas bambu,tanduk kerbau ,tanduk kambing ,kertas,kulit kayu,daun lontar,hanya ada satu naskah yang ditulis diatas tanduk yang menggunakan huruf jawi yakni sebuah piagam Depati Serah bumi di bekas kemendapoan Seleman Kecamatan Danau Kerinci.<\/p>\n<p>Dari hasil penelitian,terdapat\u00a0 10% naskah yang ditulis pada tanduk yang menunjukkan pengaruh Islam sehingga dapat disimpulkan bahwa kebanyakan naskah yang ditulis pada media tanduk ditulis sebelum pertengahan abad ke 19<\/p>\n<p>Dari hasil penelitian,terdapat\u00a0 10% naskah yang ditulis pada tanduk yang menunjukkan pengaruh Islam sehingga dapat disimpulkan bahwa kebanyakan naskah yang ditulis pada media tanduk ditulis sebelum pertengahan abad ke 19<\/p>\n<p>Beberapa pendapat dari cendekiawan dan tokoh-tokoh adat serta budayawan yang paham mengenai aksara incung Kerinci membunyikan bahwa aksara incung seluruhnya berbunyi vocal a- ke, kecuali huruf i dan huruf u yang memiliki ketentuan tersendiri. Huruf abjad yang sudah dibakukan sejak angkatan budayawan H. Abdul Kadir Djamil dan M. Kabul Ahmad Dirajo, angkatan Prof. DR. H. Amir Hakim Usman, Ma, Depati H. Amiruddin Gusti, Depati. H. Alimin, Iskandar Zakaria dan Depati Ujang mengatakan bahwa abjad incung adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/08\/rencong-kerinci.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2826\" alt=\"rencong-kerinci\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/08\/rencong-kerinci.jpg\" width=\"386\" height=\"466\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada umumnya\u00a0 aksara Incung\u00a0 ditulis diatas ruas bambu dan tanduk (Depati.H.Alimin ),aksara incung yang ditulis pada ruas bambu yang kebanyakkan\u00a0 aksara\u00a0 berisikan tentang cinta yakni berisikan ratapan tangis seorang jejaka&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2827,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-2824","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2824","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2824"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2824\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2824"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2824"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2824"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}