{"id":2879,"date":"2013-09-12T07:03:45","date_gmt":"2013-09-12T07:03:45","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2879"},"modified":"2013-09-12T07:03:45","modified_gmt":"2013-09-12T07:03:45","slug":"lagu-tale-suku-kerinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/lagu-tale-suku-kerinci\/","title":{"rendered":"lagu Tale suku Kerinci"},"content":{"rendered":"<p>Sejak zaman\u00a0 dahulu orang suku Kerinci telah mengenal lagu ( Tale) dalam berbagai kegiatan masyarakat suku Kerinci seperti acara ritual ,kegiatan sosial kemasyarakatan, upacara adat hubungan\u00a0 pribadi antar warga dan hubungan dengan alam, peranan lagu (Tale) ikut mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat suku<\/p>\n<p>Dalam kepercayaan Purba orang suku Kerinci memuja roh\u00a0 roh nenek moyang serta kekuataan alam, orang suku Kerinci sangat menghormat\u00a0 roh roh para leluhur sekaligus\u00a0 mereka\u00a0 takuti, untuk\u00a0 menjaga keselamatan negeri dan keselamatan masyarakat dan individu serta untuk memudahkan mereka dalam mendapatkan kebutuhan hidup mereka mengadakan upacara persembahan dan pemujaan yang melibatkan segenap lapisan masyarakat di dalam komunitas mereka dengan melakukan ritual yang merangkul berbagai cabang kebudayaan yang meliputi seni musik, tari sastra dan\u00a0 seni rupa.<\/p>\n<p>Dari\u00a0 catatan\u00a0 tertulis\u00a0 yang\u00a0 terdapat\u00a0 dalam Tambo Kerinci dapat diketahui bahwa di masa lampau dan hingga saat ini\u00a0 musik dalam hal ini lagu memegang peranan penting dalam setiap\u00a0 kegiatan upacara upacara ritual, hal ini dapat kita lihat dalam syair syair pemujaan terhadap roh roh nenek moyang ,mantra dan rarapan ( Ratak) disampaikan dalam bentuk lagu .<\/p>\n<p>Masuknya pengaruh dan ajaran agama Islam serta budaya yang dibawanya menambah \u00a0warna \u00a0dan \u00a0\u00a0keragaman\u00a0 kebudayaan\u00a0\u00a0 alam\u00a0 Kerinci. lagu lagu\u00a0 dan musik daerah Kerinci menjadi lebih beragam.<\/p>\n<p>Bila pada masa pra Islam lagu pemujaan yang digunakan\u00a0 dalam\u00a0 upacara lebih menggunakan tangga nada pentatonik yang cenderung pada nada mayor maka\u00a0 pada\u00a0 era\u00a0 Islam lagu Kerinci lebih\u00a0 banyak\u00a0 pula\u00a0 mengenal dan menggunakan tangga nada minor.<\/p>\n<p>Ditinjau dari pertumbuhannya secara umum musik dan lagu Kerinci terdiri dari tiga kelompok, yakni lagu tradisional pra islam dan lagu tradisional era islam. dan lagu\u00a0 daerah Kerinci era modern. Lagu tradisional pra islam ialah jenis Nyahoa, Pantau, Talea. Lagu Nyahoa adalah lagu lagu yang digunakan dalam upacara\u00a0 yang erat kaitannya\u00a0 dengan kepercayaan\u00a0 animisme\u00a0 dan dinamisme, jenis lagu ini dapat kita lihat dalam lagu lagu pada saat pengucapan mantra dalam upacara \u00a0ritual \u00a0tari aseak, bentuk lagu lagu ini masih dapat kita jumpai\u00a0 pada beberapa dusun pemukiman\u00a0 di wilayah adat\u00a0 limo luhah dusun Sungai Penuh,Dusun Empih, Siulak, Sungai Liuk,Koto Lolo.<\/p>\n<p>Sedangkan lagu pantau yang disebut juga Tauh atau Taoh\u00a0 pada awalnya juga digunakan untuk pengiring tari ritual pemujaan, dan para era islam saat ini berfungsi sebagai pengiring tari adat pada saat acara kenduri sko atau kenduri sudah tuai. dianggap jenis tale yang tergolong tua dalam tampilannya,tidak berbalas pantun tetapi bentuk lain yang berkembang sebelum kedatangan islam \u00a0adalah \u201c Talea\u201d. Kata Talea dalam bahasa kerinci kuno disebut \u201c Tali\u201d,dapat ditafsirkan sebagai kata lain untuk nyanyian yang berfungsi untuk mengungkapkan perasan yang lebih bersifat pribadi dan emosional dari pelantun lagu pada sesuaatu atau kepada seseorang atau sebagai pelepas kerinduan perantau atau peladang yang tinggal jauh dari kampung halaman.Tale ini disebut dengan istilah\u2019Tale Malang\u201d\u00a0 atau \u2019 Tale Mindau\u201d.Tale ini\u00a0 tampilannya tidak berbalas pantun tetapi lebih berbentuk lantunan irama yang monolog serta liris.<\/p>\n<p>Catatan sejarah tentang syair tale dalam Tambo Kerinci dalam aksara incung yang ditulis pada tanduk kerbau dan ruas bambu, benda benda ini disimpan diberbagai wilayah adat, diantaranya disimpan oleh Depati Sanggaran Agung, atau tersimpan di Dusun Pendung Semurup,dan\u00a0 disimpan\u00a0 di\u00a0 Koto Tuo*( Voorhoeve dan Purbacaraka,pencatatan Tambo Kerinci 1941).<\/p>\n<p>Salah satu\u00a0 genre (sen re ) \u201cTale\u201d yang paling phenomenal dan melekat pada ritual ibadah keagamaan ialah\u201dtale\u00a0 Naek Joi\u201d\u00a0 merupakan tale yang digunakan pada upacara sakral saat akan melepas\u00a0 keberangkatan\u00a0 anggota\u00a0 keluarga yang akan menunaikan ibadah Haji ke Mekah al Mukarramah, Tale ini\u00a0 sejak 5 abad yang lalu begitu sangat penting dan sakral bagi orang Kerinci\u00a0 \u00a0Menunaikan<\/p>\n<p>Ibadah Haji\u00a0 pada masa lalu merupakan sebuah peristiawa yang sangat luar biasa, hal ini mengingat\u00a0 pada masa itu untuk\u00a0 berangkat\u00a0 menunaikan ibadah haji merupakan peristiwa yang luar biasa,\u00a0 disamping\u00a0 membutuhkan dana lebih dari itu untuk keluar dari lembah alam Kerinci pada\u00a0 masa itu sangat sulit, hutan di alam Kerinci\u00a0 pada\u00a0 masa itu masih sangat perawan, ganas dan lebat, untuk itu sangat dibutuhkan persiapan jiwa dan raga yang prima serta didukung keberanian, perjalanan dimulai dengan\u00a0 jalan kaki ke\u2019 Pintou Imbo\u201d ( Pintu Rimba) diantar oleh sanak keluarga dan handai taulan.<\/p>\n<p>Dipintu rimba pada\u00a0 malam hari dan\u00a0 keesokkan paginya dilaksanakan upacara tale melepas calon haji yang akan berangkat menunaikan ibadah haji melalui perjalanan darat berjalan kaki dengan rombongan\u00a0 menempuh hutan belantara\u00a0 menuju pelabuhan laut yang\u00a0 terletak di Muara Sakai, pantai selatan sumatera barat<\/p>\n<p>Orang Kerinci pada masa itu beranggapan bahwa orang yang aka nenunaikan ibadah haji dianggap tidak akan kembali lagi, hal ini beralasan bahwa waktu tempuh dan aral yang melintang sangat berat , oleh karena itu semua gelar yang disandang dan harta pusaka yang dimiliki dititipkan kepada ahli waris yang akan diwariskan bila ternyata yang bersangkutan tidak kembali lagi, suasana itulah yang mempengaruhi rasa haru dan sedih\u00a0 yang kemudian di tuangkan secara emosional kedalam syair tale yang dinyanyikan.<\/p>\n<p>Pengamatan\u00a0 penulis pada acara ber tale \u00a0pelepasan Jemaah Haji Dusun Sungai Penuh di Kediaman Calon Haji Fitra Helmi,SE,MM \u00a0di Talang Lindung 23\/11, kegiatan bertale di mulai pukul 20.30 setelah\u00a0 pelaksanaan ibadah shlat Isya hingga dinihari, Calon Jemaah haji dengan pakaian haji bersama pe tale yang terdiri dari keluarga dekat (orang tua-mertua,anak-kemenakan)para sahabat, tetangga dan karib kerabat berrkumpul di rumah Calon Haji.<\/p>\n<p>Pada intinya syair syair yang dilantunkan berisikan kata kata permohonan maaf kepada orang orang yang ditingkalkan pengharapan, permohonan dan doa restu yang disampaikan secara bergantian<\/p>\n<p>Suasana haru dan syahdu mewarnai acara bertale, tak jarang kita melihat isak tangis dan\u00a0 ungkapan luapan perasaan bahagia bercampur rasa haru.<\/p>\n<p>Disatu sisi para petale merasa sangat bersyjukur dan berbahagia karena diantara keluarga dan kerabat mereka akan menunaikan rukun Islam ke lima menunaikan seruan Illahi untuk menunaikan ibadah Haji, dilain pihak mereka merasa bersedih karena merasa akan ditingkalkan karena calon haji akan menempuh perjalan yang teramat jauh<\/p>\n<p>Di wilayah adat Depati nan bertujuh Sungai Penuh( Dus,masyarakat dusun Sungai Penuh,Pondok Tinggi,Dusun Baru dan Dusun Bernik) di\u00a0 bekas Kemendapoan Seleman, kawasan Tanah Cogok, Keliling Danau dan di dusun dusun di alam Kerinci penyelengaran tale pelepasan Jemaah Haji di awali dengan acara\u00a0 Tasyakur \/ doa bersama, dan\u00a0 acara pelepasan secara adat yang dihadiri oleh para ulama,pemangku adat, Ninik mamak,masyarakat dan karib kerabat.<\/p>\n<p>Perjalanan\u00a0 dalam menunaikan rukun Islam ke lima\/ibadah Haji merupakan perjalan menuju Rikhlak Illahi,para jemaah haji merupakan tamu tamu Allah yang mendapat panggilan Illahi untuk menyaksikan ke Mahabesarn Allah sekaligus untuk menyaksikan\u00a0 Napak Tilas Nabi Adam,Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.SAW.<\/p>\n<p>Dalam rangkaian ibadah haji,para jemaah haji\u00a0 melaksanakan berbagai kegiatan ritual ibadah ,diantaranya adalah Wukuf,Ziarah ke jabbal Rahmah,Tawaf,Sya;I,wukuf,serta menyaksikan\u00a0 jejak peradaban Islam di Kota Suci Makkah dan Kota Suci umat Islam yang lain seperti tempat Rasulullah di lahirkan makam Rasullulah,Gua Hiraq.dll.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan\u00a0 perjalanan dan pelaksanaan ibadah Haji, para jemaah haji asal suku Kerinci sejak awal perkembangan Islam,terutama sejak permulaan orang orang suku Kerinci melaksanakan perjalanan ritual menunaikan ibadah Haji,dilaksanakan acara pelepasan dengan melaksanakan tale naek joi.<\/p>\n<p>Budaya bertale ini merupakan sebuah peninggalan kebudayaan suku Kerinci\u00a0 yang telah mendapat pengaruh Islam, dengan kegiatan bertale terjalin komunikasi interaktif antara calon\u00a0 haji dengan keluarga\u00a0 dan masyarakat yang ditinggalkan,semua ungkapan hati,perasan dan amanah serta pesan telah dititip petaruhkan.<\/p>\n<p>Para Calon Haji berangkat menunaikan Ibadah Haji dengan satu tekat melaksanakan ibadah dan mendapatkan Haji yang Mabrur dan\u00a0 untuk sementara waktu\u00a0 hingga perjalan haji selesai dilaksanakan mereka melupakan masalah keduniawian dan memiliki hatu tekat: hanya untuk mendapatkan ke Ridhoan Illahi\u201d.<\/p>\n<p>Pada umumnya kegiatan bertale melepas naik haji dilaksanakan\u00a0 hampir di semua dusun dusun di alam Kerinci, dimasa lalu acara bertale \u00a0memakan waktu berminggu\u00a0 minggu,bahkan ada yang mnelaksanakan satu bulan penuh,di Sungai Penuh kegiatan bertale dilaksanakan secara bergantian dirumah\u00a0 keluarga\u00a0 calon Haji,Misalnya satu malam di rumah Datung, dimalam lain didirumah mamak,rumah sanak betono,dusanak jantan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak zaman\u00a0 dahulu orang suku Kerinci telah mengenal lagu ( Tale) dalam berbagai kegiatan masyarakat suku Kerinci seperti acara ritual ,kegiatan sosial kemasyarakatan, upacara adat hubungan\u00a0 pribadi antar warga dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[],"class_list":["post-2879","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2879","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2879"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2879\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2879"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2879"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2879"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}