{"id":2888,"date":"2013-09-13T06:53:46","date_gmt":"2013-09-13T06:53:46","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2888"},"modified":"2013-09-13T06:53:46","modified_gmt":"2013-09-13T06:53:46","slug":"perkembangan-tarekat-di-alam-kerinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perkembangan-tarekat-di-alam-kerinci\/","title":{"rendered":"Perkembangan Tarekat  di Alam Kerinci"},"content":{"rendered":"<p>Dalam tradisi keilmuwan Islam, istilah \u201d Tarekat \u201d sama sekali tidak dapat dipisahkan \u00a0dari \u00a0apa yang disebut \u00a0dengan tasawuf, \u00a0tentu saja tidak demikian sebaliknya, karena tasawuf bisa saja terpisah \u00a0tanpa \u00a0ada \u00a0hubungan \u00a0lansung \u00a0dengan tarekat.<\/p>\n<p>Tarekat baru terbentuk sebagai organisasi dalam dunia tasawuf \u00a0pada \u00a0abad \u00a0ke &#8211; 8\/14,\u00a0 artinya \u00a0tarekat \u00a0bisa dianggap sebagai \u00a0hal yang \u00a0baru \u00a0yang \u00a0tidak \u00a0pernah \u00a0di \u00a0jumpai \u00a0dalam \u00a0tradisi Islam periode awal, termasuk \u00a0pada \u00a0masa Nabi, \u00a0tidak heran kemudian \u00a0jika hampir semua jenis tarekat yang dikenal saat ini selalu \u00a0dinisbatkan \u00a0kepada nama nama \u00a0para \u00a0wali \u00a0atau ulama kemudian yang hidup \u00a0ber \u00a0abad abad setelah masa Nabi ( Oman\u00a0 Fathurahmah &#8211; Tarekat Syattariah di \u00a0Minangkabau : \u00a0Hal: 25 &#8211; 40)<\/p>\n<p>Tarekat Qadiriyah misalnya di nisbatkan \u00a0kepada Shaikh Abd \u00a0al- Qadir- al Jaylani ( 471 &#8211; 561 H \/ 1079 &#8211; 1166 M), Tarekat Naqsabandiyah di nisbatkan kepada \u00a0Baha \u00a0al &#8211; Din al-Naqsabandiyah ( 717 \u2013 791 \u00a0H \u00a0\/ \u00a01317 \u00a0&#8211; \u00a01389 M ) Sedangkan Tarekat \u00a0Syattariyah di \u00a0nisbatkan kepada \u201c abd \u00a0Allah \u00a0al \u2013 Shattari \u00a0yang \u00a0wafat \u00a0pada \u00a0tahun 890 \/ 1485.<\/p>\n<p>Kendati \u00a0demikian, terutama \u00a0oleh \u00a0para pengikutnya, ajaran tasawuf yang di organisasi melalui lembaga tarekat di yakini memiliki akar \u00a0dalam \u00a0ajaran\u00a0 Nabi \u00a0itu sendiri, karena para penganut percaya bahwa para sufi yang namanya dipakai untuk menyebut\u00a0 jenis tarekatnya tersebut tidak bertindak sebagai pencipta berbagai ritual tarekat, seperti zikir dengan berbagai metodenya, melainkan hanya merumuskan dan membuat sistematikanya saja, sedangkan \u00a0\u00a0subtansi \u00a0dari \u00a0ajaran \u00a0ajarannya itu sendiri adalah \u201d asli \u201d \u00a0berasal \u00a0dari Nabi, dan diterimanya melalui sebuah jalur silsilah yang terhubungkan \u00a0sedemikian rupa sampai kepada Nabi.<\/p>\n<p>Sebagai \u00a0sebuah organisasi, tarekat di bangun diatas landasan sistim dan hubungan yang erat dan khas antara guru (murshid) \u00a0dengan muridnya, hubungan murshid dengan murid ini dapat dianggap sebagai pilar terpenting \u00a0dalam organisasi tarekat, hubungan tersebut diawali dengan sebuah pernyataan kesetian ( baiat) dari \u00a0seseorang yang hendak menjadi murid tarekat kepada seorang \u00a0Shaikh tertentu \u00a0sebagai murshid.<\/p>\n<p>Di alam Kerinci khususnya di wilayah Pulau Tengah dan sekitarnya pada abad ke 17. Pada tahun 1785 dua orang ulama pulau Tengah\u00a0 yakni H.Rateh dan H Raha\u00a0 Putra Syekh Qulhu (Syekh Kuat) kembali dari Makkah \u00a0untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus mendalami ilmu agama Islam,beliau berdua merupakan orang pertama yang melakukan perjalanan ibadah Haji sekaligus mendalami ilmu agama Islam di Kota Suci Makkah\u00a0 dan berguru lansung kepada \u00a0Syeikh Muhammad Saman.<\/p>\n<p>Salah satu warisan kebudayaan yang masih bertahan di Pulau Tengah ialah Ratib Saman,sebuah catatan mengungkapkan bahwa sekembalinya\u00a0 kedua orang ulama ini dari \u00a0Makkah al-Mukarrah, beliau berdualah yang \u00a0membenahi beberapa kalimah yang terdapat di dalam Ratib Tegak tadi dengan memperbanyak kalimah-kalimah zikir lainnya sesuai yang diajarkan oleh guru beliau. Pada masa itu\u00a0 H.Rateh dan H Raha merupakan ulama terkemuka di alam Kerinci khususnya di kawasan Pulau Tengah &#8211; Keliling Danau dan beliau juga \u00a0mengembang Tarikat Saman di Pulau Tengah<\/p>\n<p>Alam Kerinci sejak masa lalu hingga masa kini memiliki hubungan sosial budaya dan ekonomi\u00a0 yang erat dengan daerah Minangkabau, beberapa catatan menyebutkan bahwa dat di alam Kerinci juga mendapat pengaruh dari adat Minangkabau, dan sebagian besar pengembang agama Islam di alam Kerinci \u00a0berasal dari \u00a0Minangkabau.<\/p>\n<p>Dimasa kini hubungan masyarakat Suku Kerinci dengan Masyarakat Minangkabau terjalin akrab, sampai dekade tahun 1980 an sebagian besar pemuda pemuda Kerinci \u00a0melanjutkan \u00a0Pendidikan ke \u00a0daerah Sumatera Barat, secara ekonomi sebagian besar kebutuhan pokok di datangkan melalui Sumatera Barat, hasil perkebunan masyarakat suku Kerinci sebagian besar di Eksport melalui Pelabuhan Samudera di Padang-Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Khusus untuk penyebaran agama Islam pada paruh abad abad ke15 hingga\u00a0 abad ke 20 umumnya di lakukan oleh para ulama ulama dari Minangkabau, pada tahap awal perkembangan kebudayaan Islam disebarkan melalui paham Tarekat, dan di alam Kerinci perkembangan Tarekat dimasa lalu mendapat pengaruh dari alam Minangkabau<\/p>\n<p>Diantara tarekat\u00a0 tarekat yang ada di Minangkabau, salah satu jenis tarekat yang paling awal datang dan berkembang secara sistematis ialah tarekat Syattariyah, tarekat ini tumbuh dan berkembang\u00a0 melalui\u00a0 lembaga\u00a0 pendidikan\u00a0 tradisional\u00a0 yang\u00a0 disebut surau.<\/p>\n<p>Beberapa sarjana dan peneliti meyakini bahwa tarekat Syattariah bukan merupakan tarekat pertama yang masuk ke Sumatera Barat (Minangkabau ), karena sebelumnya telah ada tarekat Naqsabandiyah, yang kemungkinan dibawa masuk ke wilayah ini pada paruh abad ke 17, \u00a0akan\u00a0 tetapi Schrieke (1973:28) menginsyaratkan bahwa tarekat Naqsabandiyah baru masuk ke Sumatera Barat pada sekitar tahun 1850 an (Oman Fathurahman -Tarekat\u00a0 Syattariah\u00a0 di\u00a0 Minangkabau :\u00a0 hal- 45)<\/p>\n<p>Sedangkan naskah naskah Syattariah lokal bahkan cenderung \u00a0menegaskan bahwa tarekat Syattariah merupakan jenis tarekat pertama yang masuk ke Sumatera Barat. Naskah Kitab \u00a0menerangkan agama Islam di Minangkabau\u00a0 misalnya, menyebutkan bahwa Shaikh Burhanuddin membawa Tarekat Syattariyah ke wilayah ini pada tahun 1070 H \/ 1659 M. Mulai saat itu, demikian naskah ini menjelaskan, corak Islam yang ada di Minangkabau hanya satu, yakni:<\/p>\n<p><i>\u2018\u2026\u2026. <b>Agama Islam yang bermazhab Imam Shafii dan<\/b><\/i><\/p>\n<p><b><i>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0Beritikat memakai itikat Ahlusunnah wal jamaah,dan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/i><\/b><\/p>\n<p><b><i>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dalam bertasawuf memakai tarekat Syattari\/\u2026.(h.73)<\/i><\/b><\/p>\n<p>Catatan<i> <\/i>sejarah menyebutkan \u00a0bahwa \u00a0pada \u00a0tahun 1804 terjadi konflik yangtajam yang melibatkan para pengikut Syattariyah di \u00a0Sumatera Barat, Konflik ini terjadi ketika pada tahun 1804, tiga \u00a0orang Haji putra Minangkabau kembali dari Tanah Suci Makkah setelah beberapa tahun ketiga orang Haji tersebut memperdalam \u00a0ilmu \u00a0agama \u00a0Islam di Kota Suci Makkah<i> <\/i><\/p>\n<p>Ketiga orang Haji tersebut ialah Haji Miskin dari Pandai Sikat, Padang Panjang, Haji Abdurahman dari Piyobang Payakumbuh, dan Haji Sumanik dari Batusangkar, tampaknya pemikiran para Haji tersebut banyak di pengaruhi oleh gagasan pembaharuan kaum Wahabi di Makkah yang diajarkan oleh Muhammad ibn al &#8211; Wahhab \u00a0( 1115-1206 \/ H 1703-1792 M) seorang \u00a0ulama asal \u00a0Nejd \u00a0di Arab Timur. Pandangan pandangan keagamaan \u00a0seorang ulama pembaharu sebelumnya yakni Taqi al- Din Ibn Taimiyah (661 -728H \/ 1263 -1328M) yang mengkampanyekan agar dalam beragama, umat Islam kembali kepada Al-Qur\u2019an dan mencontoh Nabi.<\/p>\n<p>Pada awalnya kaum Wahabi di Makkah semata mata menyerukan \u00a0umat Islam \u00a0untuk kembali ke ajaran Islam yang murni, tidak bercampur bid\u2019ah, khurafat dan takhayul, tetapi dalam perkembangan \u00a0berikutnya seruan \u00a0itu \u00a0berubah \u00a0menjadi gerakan yang cenderung menggunakan\u00a0 tindakan \u00a0tindakan yang radikal, yang tegas membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman, serta mengajarkan perang suci (jihad) terhadap orang orang \u00a0yang tidak mengikuti seruannya<\/p>\n<p>Pergolakan \u00a0keagamaan \u00a0yang \u00a0melibatkan \u00a0kelompok \u00a0tarekat Syattariyah ini meruncing \u00a0kembali \u00a0pada \u00a0awal \u00a0abad ke 20, tepatnya ketika sekitar tahun 1906 \u00a0empat orang ulama Minangkabau \u00a0kembali \u00a0dari Tanah Suci Makkah setelah beberapa tahun menpelajari dan mendalami ilmu agama Islam kepada Shaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Keempat ulama tersebut adalah Haji Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi, Haji Muhammad Thaib Umar Sungayang Batusangkar, Haji Abdullah Ahmad Padang Panjang dan Haji Abdul\u00a0 Karim Amrullah Maninjau.<\/p>\n<p>Bumi Alam Kerinci yang terletak di daerah paling barat Propinsi Jambi \u00a0dimasa lalu telah memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat Minangkabau. Meski secara adat orang suku Kerinci telah memiliki adat tersendiri, akan tetapi pengaruh adat dan budaya Minangkabau ikut mewarnai adat dan kebudayaan orang \u00a0suku Kerinci.<\/p>\n<p>Sebagian besar para peneliti dan budayawan mengakui bahwa para penyebar agama Islam di alam Kerinci datang dari\u00a0 daerah Minangkabau, meski alam Kerinci hingga paruh abad ke 19 masih sulit \u00a0dimasuki \u00a0oleh orang orang dari luar suku Kerinci, akan \u00a0tetapi jarak \u00a0tempuh dan posisi negeri Minangkabau \u00a0yang relatif lebih \u00a0dekat dari dan ke Kerinci memudahkan pengaruh sosial, budaya dan pengaruh ekonomi lebih\u00a0 mudah masuk ke alam Kerinci.<\/p>\n<p>Pada akhir abad ke 19 \/awal abad ke 20 sudah banyak orang orang suku Kerinci yang merantau ke Minangkabau, sebaliknya orang orang Minangkabau telah banyak yang bermukim di alam Kerinci, perkembangan \u00a0pesat terjadi pada \u00a0paruh abad ke 20. orang orang suku Kerinci telah banyak yang melanjutkan pendidikan ke daerah \u00a0Minangkabau, umumnya melanjutkan pendidikan ke lembaga lembaga pendidikan \u00a0agama atau surau \u00a0surau yang diasuh oleh \u00a0tokoh \u00a0tokoh \u00a0ulama di Minangkabau.<\/p>\n<p>Di alam Kerinci sejak abad ke 17\/18 juga berkembang tarekat, diantara\u00a0 tarekat\u00a0 tarekat\u00a0 yang\u00a0 berkembang\u00a0 di alam Kerinci pada masa itu ialah tarekat Syattariyah, tarekat Naqsabandiyah, tarekat Samaniah dan tarekat Qadariah ( Halim Satri: Bungo Tanjung :6 : 2013 )<\/p>\n<p>Beberapa dusun dusun di alam Kerinci ( 79 cabang PPTI) hingga saat ini masih berkembang tarekat tarekat tersebut, dan pada umumnya memiliki pusat pusat pengajian. Diantara pusat pengajian tarekat terdapat di Kayu Aro Ambai, Bungo Tanjung (Kawasan Tanco-Kerinci) di Kumun dan di sejumlah dusun dusun di alam Kerinci.dan sebuah Masjid Syattariah dan lembaga \/ yayasan\u00a0 pendidikan\u00a0 Syattariah\u00a0 terdapat\u00a0 di\u00a0 Kota Sungai Penuh.<\/p>\n<p>Di alam Kerinci pertumbuhan Tarekat Syattariah telah tumbuh dan berkembang sejak paruh abad ke 16\/ awal abad ke 17, Tarekat Syattariah di alam Kerinci berkaitan erat dengan Tarekat Syattariah yang berkembang di\u00a0 Minangkabau.<\/p>\n<p>Pada\u00a0 awalnya Tarekat Syattariah berkembang dikawasan\u00a0 Kecamatan Sitinjau Laut, Kecamatan Danau Kerinci dan di Kecamatan Keliling Danau. Diantara tokoh \u00a0ulama Syattariah ialah KH.Abdul Imam Syattari,(Bungo Tanjung) Syekh Said Syatari. di Desa Bungo Tanjung,KH.Adnan Djamil di Kayu Aro Ambai,Pakih Syarif dan Pakih Saraman di wilayah UjungPasir, Tengku Muhamamd Thaib di Ujung Pasir, Tengku H.Mohd Thaher di Kayu Aro Ambai,Tengku Mujahit di Ujung Pasir.<\/p>\n<p>Dan saat ini generasi penerus Ulama Tarekat Syattariah\u00a0 tercatat nama Nazaruddin,S.Ag di Bungo Tanjung, Immaduddin,S.Ag di Bungo Tanjung, M..Walik di ujung Pasir, Tengku H.Nawawi di Ujung Pasir, Tengku M.Latif Umar di Desa Koto Iman.<\/p>\n<p>Di Desa Kayu Aro Ambai dan di Desa Bungo Tanjung terdapat\u00a0 pusat pengajian\/pondok Pesantren,dan khusus di desa Ujung Pasir dan koto Iman kegiatan pengajian dilakukan dari rumah kerumah<\/p>\n<p>Sebagai pedoman dan tuntunan kepada generasi muda Muslim, (Buya. H. M. Lasar dan Buya Aryadi Juani,S.HI) \u00a0ditempat terpisah mengemukakan bahwa Allah Swt. tidak permah membiarkan manusia berdiam diri, tetapi Allah.Swt- membimbing manusia \u00a0dengan kitab Samawi \u00a0dan \u00a0Wahyu \u00a0Illahi, \u00a0dengan risalah para Nabi dan Rasul. Allah menjadikan akal \u00a0sebagai \u00a0kunci untuk membimbing sesuatu. Ilmu merupakan \u00a0jalan \u00a0untuk memahami urusan \u00a0kehidupan \u00a0dan \u00a0jalan \u00a0untuk kemajuan.<\/p>\n<p>Prof. Dr.H.Asafri Jaya Bakri,MA(Mantan Rektor IAIN STS Jambi dan Mantan Ketua STAIN Kerinci) menyebutkan<b> Agama <\/b>dan <b>kebudayaan<\/b> merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, Agama dipercaya pemeluknya sebagai doktrin yang suci dari Tuhan, sedangkan kebudayaan merupakan hasil karya yang diperoleh manusia melalui proses belajar dengan lingkungannya. Dan Hubungan agama dan kebudayaan berlangsung secara timbal balik.<\/p>\n<p>Di alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) masuknya nilai nilai ajaran agama Islam ditengah tengah kehidupan masyarakat suku Kerinci berjalan secara dinamis dan harmonis, nilai nilai\u00a0 adat dan kebudayaan masyarakat suku Kerinci yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam masih dipertahankan, bahkan adat Istiadat masyarakat suku Kerinci saat ini hingga kedepan telah menyesuaikan dengan nilai nilai ajaran agama Islam<\/p>\n<p>Dimasa lalu terutama pada kurun waktu tahun 1960an hingga dekade tahun 1980 an Kota Sungai Penuh merupakan Barometer pendidikan setelah Kota Jambi, berbagai Lembaga Penddikan baik pendidikan umum dan keagamaan termasuk Fakultas Syariah IAIN STS \u00a0Jambi Cabang Kerinci telah berdiri di Kota Sungai Penuh, Kedepan Pemerintah Kota Sungai Penuh terus berupaya untuk mengembalikan kejayaan Kota Sungai Penuh sebagai Kota Pendidikan terdepan di Propinsi Jambi,dan salah satu upaya yang terus dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan mengembangkan sekolah sekolah kejuruan dan sekolah\u00a0 sekolah keagamaan mulai dari tingkat dasar hingga\u00a0 menengah,termasuk memberikan perhatian terhadap kemajuan perguruan tinggi negeri dan swasta yang ada di Kota Sungai Penuh<\/p>\n<p>Di Alam Kerinci,khususnya di Kota Sungai Penuh perkembangan Ormas Islam berkembang secara Harmonis,sebagian masyarakat di daerah perkotaan umumnya merupakan kelompok moderis,sedangkan di daerah pedesaan umumnya merupakan kelompok tradisionalis,antara modernis dan tradisiionalis hidup dan berkembang secara harmonis,dan\u00a0 masyarakat suku Kerinci sejak masa lalu telah dikenal sebagai masyarakat yang toleran dan dapat dengan mudah mengikuti irama perkembangan zaman,akan tetapi mereka tetap mempertahankan akar budaya yang selama ini telah menjadi norma norma yang dipatuhi dan di junjung tinggi,peranan para Pemangku Adat dan para Ulama di alam Kerinci hingga saat ini masih sangat di hargai dan dijadikan sebagai panutan bagi masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam tradisi keilmuwan Islam, istilah \u201d Tarekat \u201d sama sekali tidak dapat dipisahkan \u00a0dari \u00a0apa yang disebut \u00a0dengan tasawuf, \u00a0tentu saja tidak demikian sebaliknya, karena tasawuf bisa saja terpisah \u00a0tanpa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2889,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[],"class_list":["post-2888","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2888","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2888"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2888\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2888"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2888"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2888"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}