{"id":2908,"date":"2013-09-16T06:33:50","date_gmt":"2013-09-16T06:33:50","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2908"},"modified":"2013-09-16T06:33:50","modified_gmt":"2013-09-16T06:33:50","slug":"masjid-agung-pondok-tinggi-dan-masjid-raya-rawang-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/masjid-agung-pondok-tinggi-dan-masjid-raya-rawang-2\/","title":{"rendered":"Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Raya Rawang"},"content":{"rendered":"<p>Kebudayaan Islam yang masuk ke Alam Kerinci\u00a0 (Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) Propinsi Jambi mempengaruhi berbagai aspek seni seperti seni sastra,seni arsitektur,seni pahat dan lain lain.<\/p>\n<p>Seni Arsitektur (bangunan) yang tumbuh dan berkembang di alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci )menunjukkan adanya perpaduan antara seni tradisional dengan budaya Islam, Masjid mesjid kuno ini menunjukan ciri ciri khusus yang yang berbeda dengan masjid masjid yang\u00a0 ada di Timur Tengah. Kekhususan gaya arsitektur ini dapat kita lihat pada bentuk atapnya yang bertingkat lebih dari satu,dan\u00a0 memiliki corak ukiran yang uniek\u00a0 dan mengandung nilai nilai kearifan lokal yang dipadukan dengan berbagai motive geomtetris dan motive tumbuh tumbuhan menjadi ornamemen yang memiliki nilai seni tinggi dalam bentuk desain ornamental sebagai karya seni\u00a0 dekorasi Islam yang terdapat hampir di seluruh Negara Negara islam di Dunia termasuk di Alam Kerinci.<\/p>\n<p>Diantara peninggalan Arsitektur Islam yang terdapat di Kota Sungai Penuh adalah mssjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh. Mesjid Agung Pondok Tinggi terletak di Desa Pondok Tinggi, Kecamatan Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 01\u00ba04\u201915\u201d LS dan 101\u00ba01\u201932\u201d BT. Masjid . Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu masjid kuno\u00a0 yang masih berdiri kokoh di Kota Sungai Penuh dengan arsitektur khas nusantara, beratap tumpangdan berkontruksi kayu.<\/p>\n<p>Demikian halnya pada interior masjid berupa dinding-dinding dan tiang kayu yang didominasi dengan ukiran khas Kerinci, motif sulur-suluran, hiasan geometris, dan pada bagian lain dinding juga terdapat ukiran terawangan yang juga berfungsi sebagai fentilasi udara.\u00a0 Di dalam masjid juga tersimpan sebuah <i>bedug larangan<\/i> yang cukup panjang lebih dari 5 meter. Menurut adat masyarakat di alam Kerinci fungsinya adalah dibunyikan sebagai sarana komunikasi untuk berkumpul atau menandai peristiwa tertentu.<\/p>\n<p>Mesjid Agung Pondok Tinggi berdenah bujur sangkar dengan ukuran 30 x 30 m dan memiliki atap berbentuk tumpang 3 (tiga). Pada bagian atasnya terdapat mustaka yang puncaknya dihias dengan bulan sabit dan bintang. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif flora dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin<\/p>\n<p>Mesjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Di dalam masjid terdapat 36 buah tiang kayu berbentuk segi delapan dan berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Tiang-tiang tersebut dikelompokkan menjadi 3, yakni kelompok 1 terdiri atas 4 buah tiang berdiameter 0,90 m yang terletak di tengah-tengah ruang utama masjid. Kelompok 2 terdiri atas 8 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 1. Kelompok 3 terdiri atas 24 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 2.<\/p>\n<p>Mihrab masjid terletak di sebelah barat, berdenah persegi panjang dengan ukuran 3,10 x 2,40 m. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif geometris dan sulur-suluran, serta tempelan tegel keramik.<\/p>\n<p>Keunikan lain dari masjid ini adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan terletak di atas tiang utama masjid. Untuk mencapainya dihubungkan dengan tangga berukir motif sulur-suluran dan diakhiri sebuah panggung kecil berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2,60 x 2,60 m dikelilingi pagar berhias ukiran motif flora. Panggung kecil inilah yang merupakan tempat muadzin berdiri dan mengumandangkan adzan. Sedangkan bagian mimbar masjid berukuran 2,40 x 2,80 m, dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan atap berbentuk kubah.<\/p>\n<p>Mesjid Agung Pondok Tinggi\u00a0 Kota Sungai Penuh merupakan bangunan rumah ibadah\u00a0 yang\u00a0 mengandung nilai nilai seni dan kebudayaan yang sangat tinggi,Mesjid yang dibangun secara gotong royong(swadaya masyarakat) ini dibangun pada hari Rabu tanggal 1 Juni tahun 1874 di prakarsai tokoh tokoh masyarakat,Ulama dan kaum adat di wilayah adat Dusun Pondok Tinggi.<\/p>\n<p>Mesjid yang memiliki arsitektur uniek dengan ukiran ukiran hasil olah kreatif seniman dn budayawan dusun Pondok Tinggi dibangun dengan tekhnologi sederhana\u00a0 akan tetapi bercita rasa seni tinggi,pada zamannya Mesjid ini dibangun tanpa menggunakan paku,ssistim pasak merupakan cirri khas bangunan peninggalan abad ke\u00a0 I9 ini hingga saat ini masih berdiri kokoh dan megah ditengah tengah kota Sungai penuh yang damai dan tentram.<\/p>\n<p>Penyusun (Budhi.VJ.Rio Temenggung) bersama Reporter Trans TV\u00a0 yang mengunjungi\u00a0 situs peninggalan Budaya di Kecamatan Pondok Tinggi mendapat gambaran betapa\u00a0 Maha Agungnya\u00a0 karya\u00a0 kreatif yang dirancang dan dibangun oleh masyarakat dusun pondok tinggi yang saat itu hanya berpenduduk kurang dari 90 &#8211; 100 Kepala Keluarga\u00a0 dan hanya dengan menggunakan peralatan kerja yang masih sungguh sangat\u00a0 sederhana akan tetapi memiliki jaringan kekerabatan dan memiliki semangat kegotong royongan yang kuat dan menghasilkan karya seni yang bercita rasa tinggi.<\/p>\n<p>Tidak\u00a0 seperti kebanyakan mesjid mesjid lainnya, Mesjid Agung Pondok Tinggi tidak memiliki \u201dMenara\u201d di luar bangunan, akan tetapi menara bangunan terdapat di dalam\u00a0 bangunan mesjid, Menara di buat sederhana dengan bentuk segi\u00a0 empat dan di hiasi dengan ukiran bermotif\u00a0 patma.<\/p>\n<p>Menara Mesjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh ini sangat uniek, disamping\u00a0 berada di dalam\u00a0 ruangan\u00a0 mesjid, bentuk menara sangat uniek, seolah olah menara tergantung, karena di pasang agak tinggi- berada\u00a0 diatas\u00a0 alang\u00a0 tiang\u00a0 panjang\u00a0 lima, dan\u00a0 untuk\u00a0 mencapai\u00a0 menara\u00a0 menggunakan\u00a0 anak\u00a0 anak tangga, pada masa lalu dari\u00a0 menara inilah Muadzin\u00a0 mengumandangkan\u00a0 Azan sebagai\u00a0 pertanda masuknya waktu untuk mengerjakan shalat wajib. Meski menara ini tidak lagi\u00a0 di fungsikan untuk tempat mengumandangkan\u00a0 azan akan tetapi kondisi\u00a0 menara masih tetap utuh dan di pertahankan dalam bentuk motiv asli.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebudayaan Islam yang masuk ke Alam Kerinci\u00a0 (Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) Propinsi Jambi mempengaruhi berbagai aspek seni seperti seni sastra,seni arsitektur,seni pahat dan lain lain. Seni Arsitektur (bangunan)&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2909,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-2908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}