{"id":2942,"date":"2013-09-23T08:02:33","date_gmt":"2013-09-23T08:02:33","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2942"},"modified":"2013-09-23T08:02:33","modified_gmt":"2013-09-23T08:02:33","slug":"orkes-keroncong-lapseg-mambangkik-warisan-seni-keroncong-kota-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/orkes-keroncong-lapseg-mambangkik-warisan-seni-keroncong-kota-tua\/","title":{"rendered":"Orkes Keroncong Lapseg Mambangkik Warisan Seni Keroncong Kota Tua"},"content":{"rendered":"<div>\n<div dir=\"ltr\">Walau seni music keroncong tidak popular lagi di kalangan masyarakat terlebih di kalangan muda, namun Orkes Keroncong Lapseg yang digawangi sekelompok seniman musik Sawahlunto tetap\u00a0 tak patah arang menghidupkan kembali \u00a0seni budaya ini. Semangat ini semakin menyala-nyala ketika<b> <\/b>beberapa kalangan masyarakat dan\u00a0 Pemerintah Kota Sawahlunto memberi\u00a0 peratian terhadap existensinya.Tak sekedar dukungan pembinaan melalui Dinas Pariwisata dan Budaya, Pemko juga mendukung \u00a0keberangkatan grup seni ini\u00a0 pada pementasan di Solo Keroncong Festival 2013 yang berlangsung 13 hingga 14 September lalu.<\/p>\n<p>OK Lapseg yang didukung oleh personil \u00a0music Eraflah,\u00a0 Adril BW, Edi Sartono, Slank, Prasetio, Nyoto, Jaz, Romi, \u00a0dan vokalis An Muchtar menyatakan terimakasihnya atas dukungan\u00a0 tokoh masyarakat, Pemko Sawahlunto, dan perantau minang \u00a0yang peduli terhadap eksistensi warisan seni yang nyaris dilupakan ini. \u201cWalau music keroncong saat ini kurang mendapat tempat di masyarakat, namun dukungan dari berbagai pihak ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus \u00a0berkarya mempertahankan eksistensi budaya\u00a0 di negerinya sendiri\u201c \u00a0tutur Eraflah Ketua OK Lapseg.<\/p>\n<p>Adril atau akrab disapa BW salah satu pentolan orkes ini mengatakan musik keroncong merupakan salah satu kesenian\u00a0 yang hidup dan menjadi hiburan favorit di kota lama Sawahlunto. Ia mengetahui hal ini dari orang tuanya yang juga seniman jaman dulu.<\/p>\n<p>Pada jamannya di kawasan Tangsi Baru sebagai pusat peradaban pekerja tambang, hidup beberapa orkes keroncong yang digawangi para seniman pekerja tambang.\u00a0 Kini seniman-seniman keroncong Tempo dulu itu rata-rata telah memasuki usia senja, bahkan banyak yang telah tiada. Seni keroncongpun ikut terlupakan zaman.<\/p>\n<p>Sebagai pewaris seni keroncong tempo dulu, BW\u00a0 dan rekannya Eraflah serta seniman-seniman muda lainnya \u00a0bersatu membangkitkan kembali kekayaan seni budaya khas Indonesia ini.<\/p>\n<p>Agar dapat diterima oleh semua kalangan, OK lapseg memberi warna berbeda dengan mengkreasikan dengan lagu-lagu daerah dan lagu modern, namun tetap mempertahankan pakem-pakem keroncong yang ada.<\/p>\n<p>Dengan kolaborasi lagu modern dalam alunan keroncong, grup seni ini berharap berbagai kalangan tidak hanya dapat menikmati\u00a0 tetapi juga\u00a0 tertarik untuk mempelajari seni tradisi ini.<\/p>\n<p>Perjuangan Adril BW, Eraflah dan kawan-kawan mulai dilirik berbagai kalangan, setelah sempat mewarnai film Kunang-kunang Di Atas Emas Hitam yang syuting di Sawahlunto beberapa waktu lalu, \u00a0kalangan mudapun\u00a0 mulai\u00a0 tertarik untuk bergabung dan mempelajari\u00a0 keroncong.<\/p>\n<p>Bahkan masyarakatpun mulai menerima kembali\u00a0 kehadiran keroncong yang dikemas kekinian, hal ini terlihat dari antrean tawaran manggung, mulai dari acara kenduri hingga manggung di beberapa pameran.(erni)<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Walau seni music keroncong tidak popular lagi di kalangan masyarakat terlebih di kalangan muda, namun Orkes Keroncong Lapseg yang digawangi sekelompok seniman musik Sawahlunto tetap\u00a0 tak patah arang menghidupkan kembali&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2943,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-2942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2942"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2942\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}