{"id":2955,"date":"2013-09-30T07:33:15","date_gmt":"2013-09-30T07:33:15","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2955"},"modified":"2013-09-30T07:33:15","modified_gmt":"2013-09-30T07:33:15","slug":"siyak-lengih-pengembang-islam-di-alam-kerinci-siyak-lengih-pengembang-islam-di-alam-kerinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/siyak-lengih-pengembang-islam-di-alam-kerinci-siyak-lengih-pengembang-islam-di-alam-kerinci\/","title":{"rendered":"Siyak Lengih Pengembang Islam di Alam Kerinci Siyak Lengih Pengembang Islam di Alam Kerinci"},"content":{"rendered":"<p>Alam Kerinci merupakan salah satu daerah di nusantara yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari Islam, Bagi masyarakat asli suku Kerinci \u201dmenjadi orang suku Kerinci, berarti ia adalah seorang muslim (Islam)\u201d.<\/p>\n<p>Jika ada orang suku Kerinci yang tidak memeluk agama Islam, atau keluar dari agama Islam misalnya, maka secara sosial mereka akan dikucilkan, setidaknya kehadiran mereka dianggap tidak pernah ada, mereka ada namun dianggap tiada, dengan demikian, dari waktu ke waktu suku Kerinci terus berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatan dengan Islam<\/p>\n<p>Fakta Sejarah menyebutkan Siak Lengih masuk kealam Kerinci sekitar abad ke 13\/14, berasal dari Basa Nan Ampek ( tuanku nan tuo di Suraaso &#8211; Padang Gantiang &#8211; Padang Panjang). Siak Lengih memiliki\u00a0 2 orang Istri\u00a0 yakni : Puti Gento Syuri dan\u00a0 Dayang Baranai( Berani)<\/p>\n<p><em> Dari istri \u00a0pertama, Siak Lengih dikaruniai seorang putri yang bernama \u201dRatu Berembok Syuri\u201d. Ratu berembok Syuri menikah dengan Depati Pangga Tuo dari tanah Semurup dan dikaruniai 3 orang masing \u00a0masing adalah : Rambi Seti Dandan Merah, gelar Ngabi Tunggu Umah &#8211; Tunggu Mendapo, Kademang Pagawe Rajo\u00a0 Sungai Penuh, istrinya bernama Rabiah, Rio Jayo bertombak belang Berjanggut Jenggi, Istrinya bernama Pandan<\/em><em><\/em><\/p>\n<p><em>Dari Istri keduanya Dayang Baranai, Siak Lengih \u00a0dianugerahi 9 orang putra-putri yakni : Jang Hari atau Siak Mangkudun ( Pria), Djang Hangsi ( Pria), Hana Hoekir (Wanita), Hana Hada (Wanita), Hana Koening ( Wanita ), Hana Tjoepa (Wanita), Hana Boekat (Wanita), Hana Dayang (Wanita), Hana Madjit (Wanita) Masing masing mewariskan kerurunan sebagai berikut:<\/em><em><\/em><\/p>\n<p><em>Hajang Hari atau Jang hari di Pondok Tinggi yang mewariskan: Depati Santi Udo,<\/em><em> Depati Sungai Penuh,<\/em><em> Depati Pahlawan Negaro dan Depati Payung. Hajang Hangsi di Dusun Baru Batang Bungkal mewariskan keturunan<\/em><em>: Depati<\/em><em> Simpan Negeri,<\/em><em> Depati Alam Negeri dan\u00a0 Depati Sekarta Negaro<\/em><em><\/em><\/p>\n<p><em>Handir Bingin,<\/em><em> Istri Depati Rio Dagu,<\/em><em> di Sungai Liuk mewariskan:<\/em><em> Depati Ular,<\/em><em> Patih Mediri<\/em><em> atau Rio Mendiho,<\/em><em> Handir Landun. Handir Cayo,<\/em><em> mewariskan: Handir Bulan dan Bujang Paniyam<\/em><em> (Peniang).Handir Ukir.Handir\u00a0 Madjit. Handir Tjoepa Istri Depati Semurup Pangga Tuo,<\/em><em> mewariskan <\/em><em>: Rio Jayo Panjang rambut.Handir Kuning.Handir Hada<\/em><em><\/em><\/p>\n<p>Dalam Tambo yang berada di beberapa dusun di alam Kerinci tersebut nama Siyak Lengih , nama lain dari Siyak Leng<em><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Siak-Lengih.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-2957\" alt=\"Siak-Lengih\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Siak-Lengih-298x300.jpg\" width=\"298\" height=\"300\" \/><\/a><\/em>ih\u00a0 ialah Syeh Samilullah, Malin Sabiyatullah atau Makuhun Sati di Koto Pandang Sungai Penuh yang dianggap nenek moyang dari beberapa dusun. Semua\u00a0 putra-putri\u00a0 beliau menyebar di beberapa dusun, dan putri\u00a0 putri\u00a0 beliau menikah dengan pemuka masyarakat di dusun dusun tersebut.<\/p>\n<p>Sebelumnya \u00a0di \u00a0dusun dusun tersebut telah ada penduduk asli yang telah memiliki kebudayaan paleotikum, nelotlikum, megalitihikum dan perunggu, bukti sejarah menunjukkan di dusun dusun tersebut banyak ditemukan benda benda peninggalan antara lain bejana perunggu, manik manik, arca perunggu .dll.<\/p>\n<p>Dalam Tambo disebutkan istri Siyak Lengih bernama Dayang Baranai, berasal dari Pagaruyung, Dayang Baranai adalah kakak sulung dari \u00a0Perpatih Nan Sebatang, \u00a0ketiga orang bersaudara tersebut ialah Dayang Baranai (Puti Rino jadi ) yang kedua adalah Putri Unduk Pinang Selaras Pinang Masak (Puti Rino Mandi) dan yang bungsu adalah Perpatih Nan Sebatang, dalam perjalan hidupnya\u00a0 Puti Unduk Pinang Masak menikah dengan Datuk Paduko Berhalo, seorang Raja Jambi yang bijaksana ( berasal dari Turki).<\/p>\n<p>Dengan demikian tergambar jelas bahwa Siyak Lengih adalah kakak Ipar dari Datuk Perpatih Nan Sebatang dan kakak ipar dari Datuk Paduko Berhalo. Dari hasil pernikahan Puti Unduk Selaras Pinang Masak dengan Datuk Paduko Berhalo menurunkan \u00a0empat orang \u00a0anak yaitu \u00a0Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Kedataran, Orang Kayo Pinggai dan Orang kayo\u00a0 Gemuk<\/p>\n<p>Jejak dakwah Siyak Lengih hingga saat ini masih terdapat di atas bukit kecil di kawasan\u00a0 Koto Pandang \u00a0Sungai Penuh, Jirat yang berbentuk makam telah dilakukan pemugaran oleh Pemerintah, dan hingga saat ini\u00a0 jirat\u00a0 pemakaman Siyak Lengih masih menjadi situs kebudayaan Kota Sungai Penuh dan menjadi wisata sejarah\u00a0 yang di ziarahi oleh masyarakat<\/p>\n<p>Syekh Syamilullah atau populer di sebut Siak Lengih dikenal dan dikenang masyarakat Kota Sungai Penuh sebagai sosok ulama besar yang telah menyebar luaskan agama Islam di Sungai Penuh<em><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Alam-Kerinci-Siyak-Lengih.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-2956\" alt=\"Alam-Kerinci-Siyak-Lengih\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/09\/Alam-Kerinci-Siyak-Lengih-188x300.jpg\" width=\"188\" height=\"300\" \/><\/a><\/em><\/p>\n<p>dan di alam Kerinci umumnya, diantara silsilah keturunan beliau sampai ke <i>Depati (Kiyai) Nan Bertujuh, <\/i>sehingga jika ada\u00a0 acara Kerapatan adat di Hamparan Besar Tanah Rawang, maka Depati\u00a0 Nan Bertujuh ini dipanggil \u00a0<i>Kiyai nan Batujuh ( Kiyai yang bertujuh)<\/i><\/p>\n<p>Dan Kiyai Nan Bertujuh ( Depati Yang Bertujuh) dikenal dengan sebutan <i>\u201d Suluh Bindang Alam Kincai\u201d<\/i> terjemahan secara bebas adalah orang yang telah berperan besar dalam memberikan penerangan dan pencerahan peradaban bagi masyarakat se alam Kerinci \u00a0dengan \u00a0menyebarkan agama Islam dan memberikan petunjuk dan hukum hukum Syarak. Sehingga pada awalnya adat Kerinci \u00a0sebelumnya berdasarkan \u201dAlur dan Patut \u201d berubah menjadi Adat yang berdasarkan Syariat, dan sejak masa\u00a0 itu dikenal istilah \u201c Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah, Syarak \u00a0mengato, adat \u00a0memakai\u201d.<\/p>\n<p><i>Depati. Marlis Mukhtar <\/i>mengemukakan, Al Qur\u2019an Maha Karya Siyak Lengih di tulis dengan tulisan tangan Siyak Lengih diberi nama <i>Al\u00a0 Qur\u2019an \u201c Merdu Bulan\u201d<\/i> dalam tafsir adat Kerinci, kata\u00a0 Merdu bermakna\u00a0 Indah, sedangkan Bulan bermakna Lembut. Dan hingga saat ini peninggalan bersejarah tersebut masih disimpan dan dirawat\u00a0 di rumah Gedang Luhah Datuk Singarapi Putih-Sungai Penuh.<\/p>\n<p>Catatan Depati. Marlis Mukhtar \u00a0( Ketua LAD\u00a0 Sungai Penuh :21:1:2012) dan Depati. H.Alimin mengungkapkan bahwa perkembangan agama Islam berjalan pesat, kegiatan dakwah berlansung secara damai, melalui pendekatan kearifan lokal Siyak Lengih dan generasi generasi penerus mampu melaksanakan dakwah tanpa melakukan benturan benturan dengan adat dan tradisi yang telah lebih dahulu berkembang, pada kenyataannya kegiaatan dakwah berjalan \u00a0secara humanis, beradat dan beradab.<\/p>\n<p>Kedatangan agama Islam di alam Kerinci, membawa pengaruh besar dalam perkembangan adat dan kebudayaan di alam Kerinci, terjadi asimilasi antara \u00a0ajaran \u00a0agama Islam dengan adat dan Kebudayaan yang selama ribuan tahun dipedomani oleh penduduk asli alam Kerinci, setelah di kaji dan di undang terjadilah \u00a0percampuran antara hukum agama Islam dan hukum adat, segala yang bertentangan dengan hukum agama Islam ditinggalkan, dari percampuran tersebut melahirkan seloko \/ motto yang \u00a0dipedomani bersama yakni \u201cAdat yang bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah \u201c Motto tersebut hingga saat ini dan akhir zaman tetap menjadi pedoman.<\/p>\n<p>Disamping keputusan diatas, juga diambil sebuah kesimpulan yakni Anak cucu dari Siyak Lengih, yaitu Depati Nan Bertujuh, sebagai pegawai Rajo, Pegawai \u00a0Jenang yang di juluki <i>\u201d Suluh Bindang Alam Kerinci\u201d, <\/i>hal ini dengan alasan Nenek Siyak Lengih diyakini sebagai orang pertama yang mengembangkan agama Islam di Kerinci, Kepada Depati Nan Bertujuh inilah tempat orang bertanya mengenai agama Islam<\/p>\n<p>Dampak positif \u00a0dari \u00a0pertemuan Sitinjau Laut tersebut, maka ketiga daerah itu yakni Kerinci, Jambi dan Minangkabau menjadi damai dan tenteram, dan hingga saat ini piagam hasil perdamaian tersebut masih dipegang teguh dan menjadi pedoman bagi ketiga wilayah adat dan pemerintahan didaerah tersebut.(Budhi Vrihaspathi Jauhari)<\/p>\n<p>Oleh:Budhi Vrihaspathi Jauhari<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alam Kerinci merupakan salah satu daerah di nusantara yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari Islam, Bagi masyarakat asli suku Kerinci \u201dmenjadi orang suku Kerinci, berarti ia adalah seorang muslim&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2957,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,108],"tags":[],"class_list":["post-2955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2955\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}