{"id":2979,"date":"2013-10-04T06:55:15","date_gmt":"2013-10-04T06:55:15","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2979"},"modified":"2013-10-04T06:55:15","modified_gmt":"2013-10-04T06:55:15","slug":"perkembangan-islam-di-alam-kerinci","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci\/","title":{"rendered":"Perkembangan Islam di Alam Kerinci"},"content":{"rendered":"<p>Pulau Tengah Pusat Dakwah\u00a0 Islam di alam Kerinci<\/p>\n<p>Pada akhir abad ke 17 atau awal abad ke 18 di kawasan Pulau Tengah \u00a0(Kerinci Hilir) terkenal seorang ulama terkemuka Syech Kuat ( Syekh Qulhu), beliau merupakan salah satu diantara tokoh ulama pertama di Alam Kerinci bahagian hilir yang melakukan dakwah penyempurnaan \u00a0ajaran \u00a0agama Islam dan meluruskan aqidah \u00a0umat Islam yang belum sempurna di daerah Keliling Danau dan alam Kerinci pada umumnya.<\/p>\n<p align=\"center\">\u00a0<a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/mushab-alquran-tulisan-tangan.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2985\" alt=\"mushab-alquran-tulisan-tangan\" src=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/10\/mushab-alquran-tulisan-tangan.jpg\" width=\"400\" height=\"242\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"center\"><b>(Mushab Al-Qur\u2019an tulisan tangan di Pulau Tengah \u2013Kerinci)<\/b><\/p>\n<p>Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci pada awal perkembangan Islam telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, dan pada para abad ke 16 Dusun Pulau Tengah merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam di alam Kerinci.<\/p>\n<p>Perkembangan pesat itu dimulai ketika seorang ulama kelahiran Pulau Tengah yang di kenal dengan \u201cSyekh Qulhu\u201d pada akhir abad \u00a0ke 16 ( tahun 1697) kembali ke Dusun Pulau Tengah dari Pulau Jawa ( Mataram).<\/p>\n<p>Syekh yang biasa dipanggil Syekh Qulhu beberapa tahun mendalami agama Islam di tanah Jawa (Mataram), dan untuk mengembangkan ajaran agama Islam di alam Kerinci \u00a0khususnya di Pulau Tengah beliau dengan bijaksana menyempurnakan ajaran Islam yang saat itu telah dianut oleh masyarakat di dusun Pulau Tengah<\/p>\n<p>Pada awal abad ke 17 hingga akhir abad ke 18 setelah \u00a0Masjid \u00a0Keramat Pulau Tengah dibangun untuk menggantikan Masjid Pulau Tengah yang telah lapuk dimakan usia, perkembangan Islam berkembang pesat dengan ditandai semakin banyak orang orang Kerinci yang mendalami ilmu agama Islam pada Syekh.<\/p>\n<p>Perkembangan berikutnya sejumlah santri santri dari daerah \u00a0tetangga seperti Sungai Manau, Serampas &#8211; Sungai Tenang, Muara Panco, Muara Bungo, Ngaol -Tabir Ulu, dan santri santri dari daerah Minangkabau (Pesisir Selatan) dan sekitarnya belajar mengaji, mendalami agama Islam dan para santri pada masa itu mondok di Pulau Tengah.<strong><em><\/em><\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/2013\/10\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-2\/\"><strong><em>Next&#8230;<\/em><\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulau Tengah Pusat Dakwah\u00a0 Islam di alam Kerinci Pada akhir abad ke 17 atau awal abad ke 18 di kawasan Pulau Tengah \u00a0(Kerinci Hilir) terkenal seorang ulama terkemuka Syech Kuat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2980,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-2979","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2979","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2979"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2979\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2979"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2979"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2979"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}