{"id":2989,"date":"2013-10-04T06:59:05","date_gmt":"2013-10-04T06:59:05","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2989"},"modified":"2013-10-04T06:59:05","modified_gmt":"2013-10-04T06:59:05","slug":"perkembangan-islam-di-alam-kerinci-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-2\/","title":{"rendered":"Perkembangan Islam di Alam Kerinci 2"},"content":{"rendered":"<p>Pada periode berikutnya pasca Syekh Kuat (Syekh Qulhu) \u00a0lahir beberapa orang tokoh tokoh ulama terkenal, diantara para ulama ulama besar itu tercatat, H. Raha, H. Rateh, H. Kali Rajei, Tengku Beruke, beliau beliau tersebut merupakan Putra Syekh Qulhu, para ulama tersebut \u00a0merupakan orang\u00a0 orang Suku Kerinci pertama \u00a0asal Pulau Tengah yang pertama kali menunaikan rukun \u00a0Islam \u00a0di tanah Suci Makkah..<\/p>\n<p>Pada abad ke 19 hingga abad ke 20 \u00a0Pulau Tengah \u00a0juga telah melahirkan banyak tokoh tokoh ulama terkemuka di alam Kerinci\u00a0 seperti H.Ismail, H.Saleh dan H.Rauf, disamping ulama ulama tersebut Pulau Tengah juga memiliki ulama ulama kharismatik seperti H.Ahmad Fakir. H.Abdul Muti, H.Abdul Aziz, H. Saud, H. Leman, \u00a0H.Abdul Rahman. H.Ahmad, dan H.Mukhtar.<\/p>\n<p>Para ulama ulama terkemuka di Pulau Tengah sebagian besar mendalami ilmu ilmu agama di tanah suci Makkah dan di negeri tetangga Kedah-Malaya. Para ulama ulama terkemuka tersebut masing masing memiliki pusat pengajian dan dakwah di surau surau yang ada di dusun pulau tengah.<\/p>\n<p>Catatan Sejarah (Masjid Keramat Pulau Tengah : Thahar Ramli: halaman 13) mengemukakan pada\u00a0 paruh abad ke 20 sejumlah tokoh tokoh agama terkemuka di alam Kerinci pernah berguru pada H.Ahmad (Koto Dian), Pada masanya tokoh tokoh tersebut menjadi ulama terpandang di alam Kerinci bahkan sampai ke Minangkabau.<\/p>\n<p>Diantara tokoh tersebut tercatat nama ulama terkenal \u00a0H.Mohd. Yunus dari Minangkabau ( Penulis Tafsir Al-Quranul Karim ), KH.AR.Dayah (Sungai Penuh) dan H. Nahri ( Koto Iman), beliau beliau tersebut mendalami ilmu agama Islam pada saat H.Ahmad \u00a0bermukim di Sungai Penuh \u00a0dengan \u00a0Istri \u00a0beliau yang pertama<\/p>\n<p>Pada tahun 1776 \u00a0Syech Kuat (Syekh Qulhu) (wawancara H. Abdur Rahman Dahlan-70 tahun) mengirimkan putra beliau H. Kali Rajei dan Tengku Baruke (Tengku Beruke-anak dari istri Syekh Kuat yang bernama Aloei ) untuk menimba ilmu agama Islam di Kerajaan Demak sekaligus mempelajari arsitektur Masjid Demak, dengan pertimbangan Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam Pertama di Jawa yang berdiri tahun (1500 \u2013 1518 ) didirikan oleh Raden Patah, seorang bangsawan Kerajaan Majapahit yang menjabat adipati kerajaan besar Hindu di Bintoro-Demak.<\/p>\n<p>Di Demak terdapat sebuah Masjid tertua di Indonesia yang dikenal dengan nama Masjid Agung Demak yang merupakan Masjid Agung Kerajaan Islam pertama di Jawa, terletak di alun alun kota Demak, sekitar 22 km di sebelah timur laut \u00a0Semarang, Jawa Tengah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/2013\/10\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-3\/\"><strong><em>Next Hal 3 &#8230;<\/em><\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada periode berikutnya pasca Syekh Kuat (Syekh Qulhu) \u00a0lahir beberapa orang tokoh tokoh ulama terkenal, diantara para ulama ulama besar itu tercatat, H. Raha, H. Rateh, H. Kali Rajei, Tengku&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[],"class_list":["post-2989","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2989","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2989"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2989\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2989"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2989"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2989"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}