{"id":2994,"date":"2013-10-04T07:07:17","date_gmt":"2013-10-04T07:07:17","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2994"},"modified":"2013-10-04T07:07:17","modified_gmt":"2013-10-04T07:07:17","slug":"perkembangan-islam-di-alam-kerinci-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-3\/","title":{"rendered":"Perkembangan Islam di Alam Kerinci 3"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><b>(<i>Penulis \u00a0bersama ulama \u00a0Pulau Tengah,\u00a0 Drs.Suardin Muhammad \u00a0Kepala Kantor Kementerian Agama \u00a0Kabupaten Kerinci)<\/i><\/b><\/p>\n<p>Menurut legenda Masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama sama dalam tempo satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa Masjid ini didirikan pada tahun Saka 1300 (1477) yang ditandai oleh <i>Candrasengkala<\/i> Lawang Trus <i>Gunaningjammni<\/i> , Sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun saka 1401, yang menunjukkan masjid ini di bangun tahun 1479.<\/p>\n<p>Bangunan Masjid Agung Demak terbuat dari kayu jati ini memiliki ukuran 31 meter x 31 meter dengan serambi berukuran 15 meter x 15 meter. Atap tengahnya di topang oleh 4 buah tiang tiang kayu ukuran raksasa (saka guru), yang dibuat oleh\u00a0 empat wali, salah satunya ialah Wali Songo.Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel,disebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedangkan di sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal) merupakan sumbangan dari sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor).<\/p>\n<p>Dalam Proses pembangunan Sunan Kalijaga memegang peranan penting, wali inilah yang berjasa \u00a0membetulkan arah Kiblat. Menurut sebuah riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat \u201dantakusuma\u201d, yaitu sebuah bungkusan yang berisi baju\u201dhadiah\u201d dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit dihadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam Masjid itu.<\/p>\n<p>Syekh Kuat mengirimkan putranya H.Kali Rajei dan Tengku Baruke untuk menuntut Ilmu agama Islam di Demak dilatar \u00a0belakangi karena Demak merupakan Kerajaan Islam yang memiliki Mesjid Kerajaan Islam pertama di Jawa, dan Tengku Baruke disamping \u00a0memahami \u00a0ilmu ilmu agama Islam juga memiliki bakat menjadi arsitektur, Tengku Baruke di lingkungan masyarakat dikenal sebagai ahli (tukang) bangunan.<\/p>\n<p>Di Demak Tengku Baruke dan H.Kali Rajei\u00a0 mendalami ilmu agama Islam dengan ulama ulama terkemuka yang ada di Demak, disamping mempelajari ilmu ilmu yang berkaitan dengan Islam, ia juga mempelajari ilmu arsitektur Islam selama 3 bulan<\/p>\n<p><em>Bangunan Masjid Agung Demak mengandung unsur Kebudayaan Hindu- Jawa yang bentuk bangunannya cenderung mirip\u00a0 candi yang runcing ke atas seperti nasi tumpeng, atapnya yang\u00a0 bersusun tiga tingkat,\u00a0 melambangkan Islam, Iman\u00a0 dan Ihsan.<\/em><\/p>\n<p>Setelah memperdalam ilmu agama Islam dan mempelajari arsitektur Mesjid di Demak selama beberapa bulan, \u00a0pada tahun 1780 Tengku Baruke dan saudaranya H. Kali Rajei kembali kealam Kerinci dengan membawa \u00a0miniatur \u00a0arsitektur Mesjid Agung Demak yang ia buat dari tanaman tumbuhan mping mping (sejenis tumbuhan mirip tebu ukuran kecil yang dapat\u00a0 dipotong potong\/diraut)<\/p>\n<p>Bersama Syekh kuat dan putra putranya H.Ratih, H.Raha, Kali \u00a0Rajei, para pemangku &#8211; pemangku adat serta masyarakat di dusun Pulau Tengah pada tahun 1780 menggagas pembangunan sarana ibadah (Mesjid) pertama dengan arsitektur yang di ilhami dari arsitektur Mesjid Demak. Untuk desain gambar terinspirasi dari miniatur Mesjid Agung Demak yang dibawa Tengku Baruke dan Kali Rajei<\/p>\n<p>Pada tahun 1785 pembangunan yang di arsiteki oleh Tengku Baruke mulai dibangun, dan secara bersamaan pada waktu itu dua orang saudaranya yakni H.Ratih dan H.Raha kembali dari Makkah setelah beberapa tahun mendalami ilmu agama, kedua orang Putra Syekh Kuat ini adalah\u00a0 murid \u00a0Syekh Muhamad \u00a0Saman di Arab.<\/p>\n<p>H. Ratih dan H. Raha merupakan pemuda Kerinci yang pertama yang memperdalam ilmu ilmu agama Islam di Tanah Suci Makkah, pada periode selanjutnya, seorang ulama asal Tanah Kampung, Syekh. H. Mohd. Sekin \u00a0memperdalam ilmu agama Islam di Makkah, \u00a0ketika \u00a0berada di Makkah \u00a0inilah \u00a0Syekh H.Mohd. Sekin mengenal seorang wanita HJ. Rijah, dan beberapa waktu kemudian Syekh. H. \u00a0Mohd. Sekin menikah\u00a0 dengan Hj.Rijah.<\/p>\n<p>HJ.Rijah adalah cucu Tengku Baruke, bersama saudara saudara sepupunya H.Ahmad. H. Dahlan dan H.Ahmad Fakir pada periode berikutnya dikenal sebagai tokoh ulama yang melakukan dakwah Islam dan menyempurnakan aqidah umat Islam di alam Kerinci khususnya di daerah Pulau Tengah-Keliling Danau.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/2013\/10\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-4\/\"><em><strong>Next Hal 4 &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Penulis \u00a0bersama ulama \u00a0Pulau Tengah,\u00a0 Drs.Suardin Muhammad \u00a0Kepala Kantor Kementerian Agama \u00a0Kabupaten Kerinci) Menurut legenda Masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama sama dalam tempo satu malam. Babad Demak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2995,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,108],"tags":[],"class_list":["post-2994","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2994"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2994\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}