{"id":2998,"date":"2013-10-04T07:08:43","date_gmt":"2013-10-04T07:08:43","guid":{"rendered":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/?p=2998"},"modified":"2013-10-04T07:08:43","modified_gmt":"2013-10-04T07:08:43","slug":"perkembangan-islam-di-alam-kerinci-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-4\/","title":{"rendered":"Perkembangan Islam di Alam Kerinci 4"},"content":{"rendered":"<p>Islam di Dusun Pulau Tengah dan sekitarnya, pada masa itu seorang pemuda dari Dusun Ambai H.Muchtar, dan H.Khalik Sebukar mendalami ilmu agama Islam di Mekah, dan beliau beliau inilah termasuk ulama ulama pertama yang mengembangkan dakwah \u00a0dan pendidikan Islam di alam Kerinci dan untuk meningkatkan kualitas umat dan sebagai tempat penyelenggaraan Ibadah dilaksanakan \u00a0pembangunan sarana ibadah.<\/p>\n<p>Pembangunan Masjid Pulau Tengah \u00a0dimulai pada tahun <i>1780 <\/i>dan telah dapat dimanfaatkan \u00a0pada tahun <i>1785<\/i>, beberapa desain dan ornamen masjid ini diilhami oleh bangunan <i>\u201c Masjid Demak\u201d <\/i>Tiang tiang kayu menggunakan kayu kayu balok ukuran raksasa, desain atap bersusun tiga tingkat dengan aneka ukiran bermotifkan fatma (flora) yang ada di sekitar pemukiman masyarakat, atap dan lantai \u00a0Masjid \u00a0pada saat itu menggunakan bahan material yang sangat sederhana yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya<\/p>\n<p>Masjid Pulau Tengah memiliki 1 tiang utama (Saka Guru) dan 4 tiang penopang utama yang melambangkan 4 orang para sahabat Rasulullah. 4 tiang penopang\u00a0 ditambah 1 tiang tuo (Tiang Utama) melambangkan Rukun Islam, Masjid ini memiliki 20 tiang tepi. 1 tiang utama (Soko Guru) 4 tiang penopang dan jika dijumlahkan \u00a0berjumlah \u00a025 \u00a0buah tiang. kedua puluh\u00a0 lima tiang tiang yang \u00a0menopang bangunan masjid secara keseluruhan melambangkan 25 orang Nabi \/ Rasul utusan Allah,\u00a0 Jarak masing masing tiang tepi\u00a0 adalah\u00a0 5\u00a0 meter dan \u00a0dipucuk \u00a0masjid terdapat mustaka\u00a0 yang\u00a0 terbuat dari batu andesit<\/p>\n<p>Masjid Pulau Tengah berukuran 28 meter X 28 Meter, dibangun diatas\u00a0 lahan seluas 59,2 Meter\u00a0 X\u00a0 44,3\u00a0 Meter.\u00a0 Sebelum memasuki\u00a0 ruang\u00a0 masjid terdapat tangga dihias dengan\u00a0 tempelan tegel keramik. Pintunya sendiri berjumlah 2 buah, berdaun ganda berukir motif\u00a0 geometris\u00a0 dan\u00a0 tempelan\u00a0 tegel keramik.<\/p>\n<p>Memasuki ke ruang dalam, secara umum kontruksi masjid ditopang oleh 25 buah \u00a0tiang \u00a0kayu \u00a0yang \u00a0berbentuk \u00a0segi delapan dan berhias ukiran motif tumpal. Satu buah tiang soko guru yang dikelilingi oleh 2 kelompok \u00a0tiang \u00a0yang \u00a0masing &#8211; masing \u00a0berjumlah 4 tiang \u00a0dan 20 buah tiang.<\/p>\n<p>Karena mulai lapuk dimakan usia, tiang soko guru tersebut pada tahun 1927 &#8211; 1928 \u00a0mulai mengalami \u00a0perubahan, diberi lapisan semen \u00a0setinggi 4,5 m dan dihias dengan keramik \u00a0bermotif \u00a0flora dan geometris. Hasil pengamatan bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten \u00a0Kerinci \u00a0Drs.Suardin Muhammad (Pulau Tengah: 5_2013) tiang soko guru Masjid Pulau Tengah merupakan tiang\u00a0 yang memiliki diameter terbesar dibandingkan dengan tiang tiang masjid masjid kuno lainnya yang ada di alam Kerinci.<\/p>\n<p><em>Meski \u00a0tiang saka guru telah mengalami renovasi akan \u00a0tetapi tempat adzan yang berada di atas tiang utama tetap dipertahankan, tempat \u00a0muadzinnya \u00a0sendiri mirip sebuah panggung kecil, bagian tepi terdapat pagar keliling yang berhiaskan ukiran motif sulur-suluran. <\/em><\/p>\n<p>Sebagai pelengkap ruang Masjid, yaitu terdapat sebuah mihrab dan mimbar. Mimbar masjid berukuran 2,24 x 1,48 m dilengkapi tangga berhias motif sulur &#8211; suluran. Mimbar ini mempunyai \u00a04 buah tiang \u00a0berbentuk segi \u00a0delapan semakin ke atas makin kecil dan berhias ukiran motif sulur-suluran. Pada bagian mihrab berdenah segi lima dan dihias dengan ukiran motif sulur-suluran, tempelan tegel keramik, dan pada sisi luar atapnya berbentuk kubah berpuncak mustaka.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/2013\/10\/perkembangan-islam-di-alam-kerinci-5\/\"><em><strong>Next Hal 5 &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Islam di Dusun Pulau Tengah dan sekitarnya, pada masa itu seorang pemuda dari Dusun Ambai H.Muchtar, dan H.Khalik Sebukar mendalami ilmu agama Islam di Mekah, dan beliau beliau inilah termasuk&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3001,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,108],"tags":[],"class_list":["post-2998","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2998"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2998\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}