{"id":3046,"date":"2013-12-06T10:18:41","date_gmt":"2013-12-06T10:18:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3046"},"modified":"2013-12-06T10:18:41","modified_gmt":"2013-12-06T10:18:41","slug":"sekilas-perjuangan-pembentukan-kabupaten-kerinci-dan-kota-sungai-penuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sekilas-perjuangan-pembentukan-kabupaten-kerinci-dan-kota-sungai-penuh\/","title":{"rendered":"Sekilas perjuangan pembentukan Kabupaten  Kerinci dan Kota Sungai Penuh"},"content":{"rendered":"<p>Catatan sejarah menyebutkan, jauh sebelum daerah Kerinci pernah menjadi bagian dari Ke residenan Jambi, setelah itu pada tahun 1922 Kerinci dipindahkan kedalam kekuasaan Keresidenan Sumatera Barat,setelah dimasukan kedalam Keresidenan Sumatera Barat pada tahun 1927 Kerinci pernah menyuarakan keinginannya agar kembali lagi kedalam Keresidenan Jambi,namun aspirasi rakyat Kerinci pada tahun 1927 itu tidak mendapat tanggapan dari pemerintahan Belanda yang menjajah Jambi saat itu.Ketika \u00a0rakyat Riau dan Jambi \u00a0mengajukan otonomi daerah tingkat I, rakyat Kerinci kembali menyampaikan keinginannya bersatu dalam Propinsi Jambi (PidatoProf.Idris Jakfar,SH:Sekitar Perjuangan Otonomi Daerah Tingkat II Kabupaten Kerinci: Diterbitkan oleh Pemda Tingkat II Kabupaten Kerinci\u00a0 10-11-1989 )Alasan dan pertimbangan yang mendorong rakyat Kerinci untuk bergabung dengan Propinsi Jambi antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Daerah Kerinci,seluruh \u00a0Kerinci \u00a0Rendah \u00a0dan \u00a0sebagian \u00a0Daerah \u00a0Kerinci Tinggi berada dalam Satu\u00a0\u00a0 kesatuan \u00a0dengan \u00a0Keresidenan Jambi.Dengan \u00a0demikian maka daerah Kerinci sekarang yang pada\u00a0 mulanya \u00a0merupakan \u00a0satu \u00a0kesatuan dengan \u00a0yang lainnya,menjadi terpisah dari kesatuan Luak nan\u00a0 XVI \u00a0dan \u00a0Kerinci Rendah.<\/li>\n<li>Secara historis \u00a0pada masa lalu Kerinci mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Jambi\u00a0\u00a0 persahabatan \u00a0tersebut \u00a0terjalin baik antara Depati \u00a0Empat Alam Kerinci dengan Kesultanan Jambi<\/li>\n<li>Daerah \u00a0Keresidenan Sumatera Barat mempunyai wilayah yang sangat luas,hal ini telah menyebab\u00a0\u00a0 kan \u00a0daerah kecil dan terisolir \u00a0yang \u00a0dinaunginya \u00a0seperti daerah Kerinci menjadi kurang mendapat\u00a0 perhatian<\/li>\n<li>Sehubungan dengan poin 3 diatas, maka bila daerah Kerinci berada dalam Propinsi yang relatif\u00a0 kecil wilayahnya, diharapkan \u00a0gerak \u00a0pembangunan \u00a0dapat berjalan relatif\u00a0 lebih\u00a0\u00a0 cepat dan aspirasi\u00a0 rakyat akan mudah disalurkan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Menurut Profesor.H.Idris Jakfar,SH ( Pidato 10 -11-1989)Perjuangan dalam mengupayakan otonomi daerah ini,secara resmi disuarakan rakyat Kerinci pada tahun 1939 dalam\u00a0 Minangkabau Raad di Padang oleh tokoh rakyat Kerinci saat itu yakni <b>H.Muchtaruddin<\/b> dan <b>Sati Depati Anum.<\/b> Penyampaian aspirasi yang disampaikan oleh tokoh rakyat Kerinci saat itu ditanggapi dengan baik oleh pemerintahan Belanda, pada prinsipnya pemerintah Belanda pada saat itu tidak berkeberatan atas adanya keinginan itu,hanya saja pemerintahan Belanda saat itu menangguhkan untuk mengabulkan aspirasi itu dengan pertimbangan menunggu jalan Jambi &#8211; Kerinci selesai di buka, pentingnya jalan tersebut agar memudahkan dalam koordinasi Pemerintahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/H.MuchtaruddinKetua-DPRD-Kerinci-pertama.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3048\" alt=\"H.Muchtaruddin,Ketua-DPRD-Kerinci-pertama\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/H.MuchtaruddinKetua-DPRD-Kerinci-pertama.jpg\" width=\"196\" height=\"267\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><b>(H.Muchtaruddin,Ketua DPRD Kerinci pertama)<\/b><\/p>\n<p>Alasan yang disampaikan oleh pemerintahan Belanda saat itu dapat diterima dengan baik oleh rakyat Kerinci,dan untuk beberapa tahun lamanya masalah ini tidak muncul kepermukaan,rakyat Kerinci dengan sabar menunggu janji Belanda,tetapi dalam kenyataannya sampai Belanda takluk kepada Jepang (1943) jalan Jambi-Kerinci yang ingin dibuka itu belum kelihatan akan di realisir dan daerah Kerinci tetap\u00a0 masih berada dalam Keresidenan Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Pada masa penjajahan Jepang, rakyat tidak berani menyuarakan masalah ini, karena rakyat takut akan kekejaman Jepang,disamping itu keadaan ekonomi rakyat waktu itu sangat menyedihkan, dan rakyat Kerinci tidak sempat memikirkan hal itu.Setelah terhenti sekian lama, perjuangan ini dimunculkan kembali pada awal tahun 1947 oleh <b>Sati Depati Anum<\/b> bersama istrinya <b>Supik Bakri<\/b><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3051\">Sambung hal2&#8230;.<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan sejarah menyebutkan, jauh sebelum daerah Kerinci pernah menjadi bagian dari Ke residenan Jambi, setelah itu pada tahun 1922 Kerinci dipindahkan kedalam kekuasaan Keresidenan Sumatera Barat,setelah dimasukan kedalam Keresidenan Sumatera&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3047,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-3046","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3046"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3046\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}