{"id":3051,"date":"2013-12-06T10:24:40","date_gmt":"2013-12-06T10:24:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3051"},"modified":"2013-12-06T10:24:40","modified_gmt":"2013-12-06T10:24:40","slug":"sekilas-perjuangan-pembentukan-kabupaten-kerinci-dan-kota-sungai-penuh-hal-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sekilas-perjuangan-pembentukan-kabupaten-kerinci-dan-kota-sungai-penuh-hal-2\/","title":{"rendered":"Sekilas perjuangan pembentukan Kabupaten  Kerinci dan Kota Sungai Penuh &#8211; Hal 2"},"content":{"rendered":"<p>dan <b>Gento<\/b>.Mereka menemui <b>Residen Jambi Raden Inu Kertapati<\/b>, dengan membawa surat pernyataan Partai Politik,Organisasi masa,Kepala Mendapo seluruh Kerinci dan perorangan \u00a0yang berpengaruh,guna menyampaikan keinginan rakyat Kerinci untuk bergabung dengan Keresidenan \u00a0Jambi.Residen Jambi menyambut baik aspirasi itu dan melalui suratnya Nomor 112 tanggal 14 Maret 1947 Keinginan rakyat tersebut diteruskan kepada Gubernur Sumatera dan Gubernur Muda Sumatera Tengah agar dapat dipertimbangan.<\/p>\n<p>Tindakan Sati Depati Anum ternyata mendapat reaksi dari Residen Sumatera Barat.Sati Depati Anum dan Supik Bakri\u201ddiamankan\u201dke Bukit Tinggi karena dianggap menciptakan pergolakkan, tidak beberapa lama kemudian \u00a0(Maret 1947) H.Muchtaruddin Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Cabang Kerinci dipanggil menghadap Residen Sumatera Barat MR.Muhammad Rasyid guna membicarakan masalah tersebut,Residen Sumatera Barat meminta agar keinginan rakyat Kerinci untuk berdiri sendiri dibicarakan setelah perjuangan fisik dengan Belanda selesai.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/orang-dulu-di-kerinci.jpg\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3052\" alt=\"orang dulu di kerinci\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/orang-dulu-di-kerinci.jpg\" width=\"300\" height=\"393\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">(Wanita dan anak anak pada masa Kolonial Belanda)<\/p>\n<p>\u00a0Pada awal tahun 1948 gerakkan otonomi daerah gencar di suarakan lagi,akibatnya dalam sidang KNI Sumatera Barat (September1948)hal itu menjadi pokok pembicaraan.Kemudian di putuskan menghapuskan status Keresidenan degan membentuk Kabupaten Kerinci-Indrapura bersama Ranah Pesisir menjadi Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci,Keputusan tersebut disampaikan kepada \u00a0Delegasi \u00a0rakyat Kerinci yang dipanggil menghadap Residen Sumatera Barat di Bukit Tinggi,diantara yang hadir memenuhi panggilan tersebut adalah <b>H.Muchtaruddin,A.Rahman Dayah,Djanan Thaib Bakri dan H.Adnan Thaib di damping Letnan Kolonel.A.Thalib.<\/b><\/p>\n<p>Setelah mendapat penjelasan perubahan status pemerintahan tersebu,maka <b>H.Muchtaruudin<\/b> atas nama rakyat \u00a0Kerinci \u00a0kembali \u00a0menegaskan aspirasi rakyat yang tetap menginginkan otonomi sendiri terlepas dari Pesisir Selatan.Menanggapi pernyataan tersebut,secara diplomatis Residen \u00a0Sumatera Barat menyatakan bahwa pada prinsipnya dapat menerima dan berjanji akan memprosesnya, namun sampai Belanda meninggalkan Kerinci (29 Desember 1949)keinginan rakyat tersebut belum terealisir.<\/p>\n<p>Setelah dilakukan penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Indonesia (29 Desember 1949)Kerinci tetap berada dalam naungan pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan dan Kerinci (PSK) dengan ibukotanya Sungai Penuh,pada saat itu roda\u00a0 pemerintahan mulai berjalan normal,struktur organisasi pemerintahan mulai di isi dan unsur aparatur Pemerintahan didatangkan dari Sumatera Barat.<\/p>\n<p>Pada saat itu pembangunan mulai digalakkan kembali,terutama dalam bidang ekonomi dan pertanian.Disamping itu sebagian besar pemimpin Kerinci mencurahkan perhatiannya dalam bidang pendidikan, H.Muchtaruddin \u00a0selaku tokoh kharismatik dan disegani bersama para sahabat sahabatnya setiap saat selalu memberikan kesadaran kepada masyarakat,betapa \u00a0pentingnya arti pendidikan bagi kemajuan daerah,pembangunan baru biasa akan berjalan sebagaimana mestinya bila masyarakatnya \u00a0berpendidikan,Cerdas,Terampil dan ber Moral,oleh sebab itu H.Muchtaruddin dan para sahabat sahabatnya bertekat untuk mengupayakan pembangunan sekolah sekolah umum maupun sekolah sekolah agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/wakil-presiden-kerinci.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3053\" alt=\"wakil presiden kerinci\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2013\/12\/wakil-presiden-kerinci.jpg\" width=\"400\" height=\"344\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u00a0(Wakil Presiden pertama Drs.H.M.Hatta saat melakukan Kunjungan Ke Kerinci)<\/p>\n<p>Perjuangan yang dilakukan oleh sosok pejuang \u00a0yang dikenal pantang mundur itu menempuh jalan yang berliku dan tidak mudah,sampai awal tahun 1955 hanya satu buah SMP yang dinegerikan<\/p>\n<p>Sambung ke hal 3&#8230;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>dan Gento.Mereka menemui Residen Jambi Raden Inu Kertapati, dengan membawa surat pernyataan Partai Politik,Organisasi masa,Kepala Mendapo seluruh Kerinci dan perorangan \u00a0yang berpengaruh,guna menyampaikan keinginan rakyat Kerinci untuk bergabung dengan Keresidenan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[],"class_list":["post-3051","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3051","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3051"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3051\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3051"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3051"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3051"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}