{"id":3400,"date":"2014-03-20T10:03:29","date_gmt":"2014-03-20T10:03:29","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesia-heritage.net\/?p=3400"},"modified":"2014-03-20T10:03:29","modified_gmt":"2014-03-20T10:03:29","slug":"lembaga-bina-potensia-launcing-vcd-instrumentalia-tale-kerinci-tempoe-doeloe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/lembaga-bina-potensia-launcing-vcd-instrumentalia-tale-kerinci-tempoe-doeloe\/","title":{"rendered":"Lembaga Bina Potensia Launcing  VCD Instrumentalia Tale Kerinci Tempoe Doeloe"},"content":{"rendered":"<p>Sungai Penuh, Budayawan Penerima PIN Emas dan Anugerah Kebudayaan tingkat Nasional Budhi VJ Rio Temenggung melalui Lembaga Bina Potensia Aditya Mahatva Yodha\u00a0 dan Sanggar Seni Incung (Sarung) alam Kerinci\u00a0 kembali\u00a0 membuat terobosan dengan melauncing\u00a0 musik instrumentalia Tale\/Lagu Tradisional alam Kerinci tempoe doeloe.<\/p>\n<p>Dijadwalkan\u00a0 DVD musik Instrumentalia lagu alam Kerinci tempoe doeloe yang berisikan 10 lagu tpo hits pada era tahun 1970 an itu\u00a0 akan dilauncing\u00a0 sabtu 15 Maret 2014 di halaman gedung nasional Kota Sungai penuh dalam rangkaian\u00a0 ikut berpartisipasi memeriahkan acara temu kangen\u00a0 kanti lamo\u00a0 se nusantara .<\/p>\n<p>Menurut Budhi VJ Rio Temenggung tuo-sedari dulu Tale atau Lagu\u00a0 memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat di alam Kerincii, lagu yang oleh mendah Kincai disebut \u00a0dengan tale itu \u00a0memegang peran yang menentukan di dalam kehidupan pranata sosial kemasyarakatan dan lazimnya digunakan pada upacara kepercayaan, upacara adat maupun dalam kehidupan pribadi masyarakat suku Kerinci bahkan dengan alam peran Tale atau lagu juga mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat suku Kerinci baik dimasa lalu,masa kini dan akan berlansung hingga \u00a0masa<\/p>\n<p>Dari cacatan tertulis yang ada dalam Tambo Kerinci dapat kita lihat bahwa musik dalam hal ini Tale atau Lagu, memegang peranan penting dalam setiap ritual, karena syair pemujaan, mantra dan ratapan (ratak) disampaikan dalam bentuk alunan nada yang dilantunkan dengan lantunan lagu.\u201dkata aktifis kebudayaan dan kemanusian bertubuh subur itu\u201d<\/p>\n<p>Catatan Tambo menyebutkan dimasa lalu upacara penguburan, mayat diarak kepemakamam diiringi dengan musik berupa gong, gendang serta tauh dan ratapan yang dinyanyikan, Sebaliknya dimasa kini masih dapat kita saksikan di sejumlah dusun dusun di alam Keinci sebuah acara ritual \u201cAsyeak\u201d yakni upacara pemujaan\u00a0 roh nenek moyang, dan pemujaan kepada alam semesta yang digunakan sebagai sarana utuk meminta keselamatan, kebahagian dan meminta perlindungan terhadap roh jahat, meminta pengobatan, meminta keseburan dan tolak bala ujar \u201cBudhi VJ Rio Temenggung\u201d<\/p>\n<p>Menurut Budhi VJ Rio Temenggung Tuo, masuknya agama Islam telah memberi warna dan\u00a0 membawa perubahan drastis terhadap perkembangan kebudayaan terutama pada musik rakyat, Para pemimpin dan pemangku adat (Depati) yang berkuasa di alam Kerinci yang telah memeluk agama Islam, bukannya menghancurkan dan menghilangkan berbagai ungkapan budaya dan kebiasaan yang sudah ada akan tetapi mereka memanfaatkan budaya tersebut sebagai media yang ampuh dalam pengembangan agama Islam di alam Kerinci<\/p>\n<p>Salah satu\u00a0 karya seni musik\/lagu yang fenomenal di alam Kerinci ialah \u00a0syair lagu \u00a0Iyoa &#8211; iyoa yang digunakan dalam upacara adat merupakan salah satu \u00a0karya tale\/lagu \u00a0terindah seniman alam Kerinci pada masanya, lagu ini \u00a0dapat menjembatani orientasi seni\u00a0 masa lalu dan seni masa kini.<\/p>\n<p>Kepada sejumlah wartawan di gedung umah empat jenis kemaren\u00a0 Penerima Anugerah Kebudayaan tingkat Nasional itu\u00a0 mengemukakan bahwa\u00a0 pada\u00a0 era tahun 1950 an terdapat tiga orang seniman Kerinci \u00a0yakni \u00a0Senin Ilyas, Semat dan Rivai Aris yang telah berupaya untuk menyusun dan menerbitkan kumpulan buku lagi \u201c Maai Batalae \u201d, akan tetapi setelah\u00a0 lebih 47 tahun berlalu belum ada orang yang tergerak untuk menerruskan usaha pendokumentasian lagu Kerinci secara tertulis, baru pada tahun 2007 seorang seniman \/musisi dan pencipta lagu Kerinci Kerinci\u00a0 Zurhatmi Ismail menyusun kembali kumpulan lagu tradisional Kerinci yang diberi judul Tanjoun Bajure dan telah diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan\u00a0 dan Pariwisata Provinsi Jambi.\u201dimbuh Budhi VJ\u201d<\/p>\n<p>Secara Pribadi\u00a0 dan sebagai generasi muda\u00a0 yang dibesarkan di Ranouh Kincai, saya dan kawan aktifis Lembaga Bina Potensia Aditya Mahatva Yodha dan Sanggar Seni Incung (Sarung) alam Kerinci mencoba untuk ikut ambil bagian\u00a0 dalam\u00a0 seni dan budaya termasuk \u00a0merawat lagu kerinci tempo dulu dengan membuat VCD musik \u00a0Instrumentalia lagu tradisional Kerinci.<\/p>\n<p>Sebagai\u00a0 generasi yang lahir, dibesarkan dan mungkin matipun akan di kebumikan di\u00a0 bumi alam Kerinci, saya menghimbau kepada segenap masyarakat di alam Kerinci dan masyarakat\u00a0 Kerinci yang berada di berbagai belahan dunia\u00a0 umumnya untuk meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap perkembangan seni dan budaya\u00a0 Kerinci termasuk merawat dan mengabadikan musik dan lagu tradisional Kerinci.<\/p>\n<p>Bupati Kerinci DR.H.Adirozal.M.Si ketika menerima\u00a0 kunjungan\u00a0 Budhi VJ (10\/4 ) dalam kapasitas sebagai\u00a0 penulis buku dan penerima PIN Emas dan anugerah kebudayaan\u00a0 menyambut positif dan memberikan dukungan kepada Lembaga Bina Potensia yang telah berupaya untuk menggali,merawat dan melestarikan intangible\u00a0 yang ada di alam Kerinci.<\/p>\n<p>Mengutip pernyataan Bupati\u00a0 Kerinci, Direktur Lembaga Bina Potensia\/penulis\u00a0 buku buku sejarah,adat\u00a0 kebudayaan\u00a0 dan aksara Kerinci\u00a0 itu mengemukan\u00a0 bahwa Bupati Kerinci DR.H.Adirozal,M.Si\u00a0 mulai tahun ini akan memberikan perhatian yang sungguh sungguh\u00a0 terhadap upaya\u00a0 pelestarian dan pengembangan\u00a0 heritage (Tangible dan Intangible) yang ada di bumi Sakti Alam Kerinci.<\/p>\n<p>Salah satu\u00a0 dari 6 perioritas unggulan ,adalah pembangunan\u00a0 rumah budaya\/rumah adat, masalah adat dan kebudayaan termasuk pengembangan dan peningkatan\u00a0 destinasi destinasi wisata akan\u00a0 menjadi\u00a0 salah satu periotas pertama Pemerintah Kabupaten Kerinci untuk lima tahun kedepan<\/p>\n<p>Kedepan kita berharap segenap masyarakat\u00a0 yang berada di alam Kerinci\u00a0 dan belahan dunia lain untuk ikut serta memberikan konstribusi dan perhatian yang sungguh sungguh terhadap nasib dan masa depan\u00a0 seni dan kebudayaan di alam Kerinci yang saat ini\u00a0 seperti sabut yang timbul dan tenggelam di permukaan danau kerinci yang selanjutnya hanyut dibawa arus dan arung jeram Sungai Batang Merangin.<\/p>\n<p>DVD Instrumentalia\u00a0 musik lagu alam Kerinci Tempoe Doeloe ini\u00a0 kami persembahkan kepada Ranouh alam Kincai dan kepada\u00a0 semua orang \u00a0orang yang mencintai\u00a0 seni dan budaya di Bumi\u00a0 alam Kerinci yang tentram dan damai, mudah mudahan mimpi kecil\u00a0 kami untuk menjadikan alam Kerinci sebagai negeri wisata alam dan budaya akan terwujud menjadi sebuah kenyataan.\u2019pungkas Budhi \u201c( Tim-Rio)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungai Penuh, Budayawan Penerima PIN Emas dan Anugerah Kebudayaan tingkat Nasional Budhi VJ Rio Temenggung melalui Lembaga Bina Potensia Aditya Mahatva Yodha\u00a0 dan Sanggar Seni Incung (Sarung) alam Kerinci\u00a0 kembali\u00a0&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3401,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-3400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3400"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3400\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}