{"id":3423,"date":"2014-04-02T07:14:12","date_gmt":"2014-04-02T07:14:12","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesia-heritage.net\/?p=3423"},"modified":"2014-04-02T07:14:12","modified_gmt":"2014-04-02T07:14:12","slug":"wisata-pucuk-jambi-sembilan-lurah-menyapa-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wisata-pucuk-jambi-sembilan-lurah-menyapa-dunia\/","title":{"rendered":"Wisata  Pucuk Jambi Sembilan Lurah Menyapa Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Sungai Penuh . Bumi\u00a0 Sepucuk Jambi Sembilan Lurah yang menempati pinggang Pulau Sumatera\u00a0 dengan luas keseluruhan 53.436,72 Km2.Propinsi Jambi\u00a0 memiliki relif daerah yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakatnya,seperti mata pencaharian, Letak pemukiman (Dusun), sistim ekonomi dan kondisi sosial lainnya., Permukaan daratan di Propinsi Jambi seakan akan <b>\u201cmelandai<\/b>\u201d . Mulai barat\u00a0 dan utara terdapat pegunungan, sedangkan dibagian selatan dan timur terdapat\u00a0 daerah dataran rendah, berawa dan berpantai, dan\u00a0 tampak dengan jelas bahwa sungai sungai didaerah ini cukup lebar dan mengalir kebagian timur .<\/p>\n<p>Dibidang Pariwisata misalnya, Propinsi <a href=\"https:\/\/www.indonesia-heritage.net\">Jambi <\/a>dikenal memiliki kekayaan Flora dan Fauna yang mengesankan.khususnya yang berada di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional\u00a0 Bukit Dua Belas ( TNBD ), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, dan Taman Nasional Berbak. Khusus\u00a0 untuk wilayah TNKS yang meliputi\u00a0 4 Propinsi di Pulau Sumatera,\u00a0 sekitar\u00a0 40 %\u00a0 luas hutan TKNS berada di Propinsi Jambi, dan <b>Visitor Center TNKS<\/b> \u00a0berada di Kota Sungai Penuh.. Hutan hutan yang berada dikawasan Hutan Taman Nasional itu\u00a0 merupakan habitat hewan hewan langka yang masih hidup bebas dihutan belantara dan\u00a0\u00a0 habitat berbagai spesies Flora-tanaman hutan yang dilindungi oleh Undang undang,<\/p>\n<p>di Propinsi Jambi terdapat sebuah Sungai yang terpanjang di Pulau Sumatera,\u00a0 mata air\u00a0 Sungai ini berhulu di wilayah\u00a0 dataran tinggi di Propinsi Jambi dan sebagian berhulu dari <b>mata air gunung Rasam ( 2.585M.dpl )<\/b>\u00a0 yang berada di wilayah Propinsi tetangga Sumatera Barat, Panjang\u00a0 sungai\u00a0 ini\u00a0 secara keseluruhan sepanjang 800 Km menuju kepantai timur dan kemudian mengalir bebas ke <b>Selat Malaka<\/b>. Di daerah hulu terutama\u00a0 di\u00a0 kawasan\u00a0 sungai\u00a0 <b>Batang\u00a0 Merangin<\/b>\u00a0 dan\u00a0\u00a0 <b>sungai\u00a0 Batang Asai<\/b> terdapat\u00a0 <b>Arung Jeram <\/b>yang menantang\u00a0 dan\u00a0 penuh\u00a0 pesona,\u00a0 di kiri kanan Sungai terdapat <b>riam riam<\/b> dan <b>pemandangan alam yang rupawan<\/b>.<\/p>\n<p>Propinsi\u00a0 Jambi salah satu daerah di nusantara yang kaya dengan berbagai potensi sumber daya alam baik dalam bentuk kekayaan energi mineral, panas bumi, potensi\u00a0 lahan\u00a0 pertanian\u00a0 dan perkebunan\u00a0 yang\u00a0 subur maupun\u00a0 kekayaan alam\u00a0 berupa\u00a0\u00a0 kekayaan keanekaragaman hayati , hutan Taman\u00a0 Nasional yang\u00a0 menyimpan beraneka ragam flora dan Fauna langka. Selain\u00a0 Kaya dengan Potensi sumber\u00a0 daya alam , Propinsi Jambi juga menyimpan\u00a0 potensi\u00a0 pariwisata\u00a0 sejarah dan kebudayaan yang\u00a0 bernilai tinggi yang menunjukan bahwa masyarakat di Propinsi Jambi sejak zaman prasejarah telah\u00a0 memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi.<\/p>\n<p>Dari\u00a0 berbagai hasil penelitian para ahli arkeologi dikawasan Delta Berbak tepatnya di <b>Situs Simbur Naik\u00a0 <\/b>Muara Sabak Kabupaten Tanjung Jabung Timur\u00a0 dipastikan disepanjang pesisir pantai timur Propinsi Jambi terdapat <b>pemukiman kuno<\/b>, hal ini\u00a0 ditandai dengan ditemukannya sejumlah benda benda kuno dikawasan <b>Delta Berbak<\/b>,dan sejak puluhan tahun yang silam kawasan ini menjadi\u00a0 salah satu pusat studi dan penelitian situs purbakala, beberapa\u00a0 benda\u00a0 benda kuno merekan jejak peradaban masa lampau yang hingga saat ini masih diselimuti misteri.<\/p>\n<p>Penemuan benda benda kuno tersebut semakin menguatkan bahwa daerah ini pada zaman lampau sekitar <b>abad ke 7 dan abad ke 13<\/b>\u00a0 kawasan ini merupakan <b>jalur pelayaran kuno<\/b>,dan dikawasan ini ditemukan beraneka macam benda benda kuno yang ditemukan dari puing puing kapal karam di\u00a0 sekitar wilayah situs Air Hitam Laut, Situs Sungai Jeruk,Situs Kota Kandis,Situs Bandar Muara Sabak, dan Situs Siti Hawa, berbagai temuan berupa <b>Gerabah,keramik,manic manic,batu pipisan yang ditemukan didalam kapal karam<\/b> para ahli memastikan bahwa benda tersebut berasal dari zaman <b>Dinasti Hong (abad II hingga abad ke 13 Masehi<\/b>).Disamping benda benda kuno,para ahli juga menenukan jejak peradaban kuno berupa bekas pemukiman,perahu kuno,arca\u00a0 Pending serta kalung berbalut emas dan makam tua seperti makam Datuk Paduko Berhalo,Orang Kayo Hitam dan Orang Kayo Pinggai..<\/p>\n<p>Mesti kita akui bahwa\u00a0 daerah Propinsi Jambi\u00a0\u00a0 merupakan\u00a0 salah satu daerah yang yang sangat\u00a0 potensial\u00a0 disektor\u00a0 pariwisata, daerah ini memiliki objek wisata yang sangat beragam, baik wisata\u00a0 alamnya, budayanya, maupun sejarahnya.Wisata\u00a0 alam dapat\u00a0 kita lihat dikawasan TNKS\u00a0 di\u00a0 alam\u00a0 Kerinci,\u00a0 di\u00a0 wilayah\u00a0\u00a0 <b>Serampas\u00a0 &#8211;\u00a0 Sungai Tenang<\/b>\u00a0 ( Jangkat\u00a0 &#8211;\u00a0 Merangin )\u00a0 yang dijadikan sebagai\u00a0 tempat\u00a0 hidup dan berkembangnya \u201c <b>Flora dan Fauna langka<\/b>\u201d ,\u00a0 Hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Taman Nasional Berbak,\u00a0 daerah pantai di kawasan Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur\u00a0 hamparan kebun teh\u00a0 terluas di dunia\u00a0 dan lokasi lahan\u00a0 nomor dua tertinggi di dunia setelah kebun teh di Derjeling dibawah kaki gunung Himalaya. dan masih banyak daerah wisata alam lainnya yang tersebar di Propinsi Jambi..<\/p>\n<p><b>Budayawan dan Tokoh Masyarakat Jambi, Drs .H. Junaidi. T. Noor, MM<\/b>\u00a0\u00a0 mengemukakan ,Situs Purbakala kompleks Percandian Muaro Jambi\u00a0 yang merupakan sebuah <b>kompleks <\/b><b>percandian<\/b><b> agama <\/b><b>Hindu<\/b><b> &#8211; <\/b><b>Buddha<\/b><b> terluas di Indonesia<\/b> yang kemungkinan besar\u00a0 merupakan <b>peninggalan <\/b><b>Kerajaan\u00a0 Sriwijaya<\/b><b> dan <\/b><b>Kerajaan Melayu<\/b>.\u00a0 Candi Muaro Jambi\u00a0 merupakan\u00a0 <b>kompleks\u00a0 Candi yang terbesar\u00a0 dan\u00a0 yang paling terawat di\u00a0 pulau <\/b><b>Sumatera<\/b>. Candi tersebut diperkirakan <b>berasal dari <\/b><b>abad ke- 11<\/b><b> <\/b><b>M<\/b><b>.<\/b> Kompleks\u00a0 percandian\u00a0 Muaro Jambi pertama kali dilaporkan <b>pada tahun <\/b><b>1823<\/b><b> oleh seorang <\/b><b>Letnan<\/b><b> <\/b><b>Inggris<\/b><b> bernama <\/b><b>S.C. Crooke<\/b> yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi. Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar dan kesemuanya adalah bercorak Buddhisme.Kesembilan Candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano..<\/p>\n<p>Didalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah \u201cMenapo\u201d yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat.Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks tersebut juga ditemukan arca prajnyaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumpang\/lesung batu. Gong\u00a0 perunggu dengan\u00a0 tulisan Cina,\u00a0 mantra Buddhis yang ditulis\u00a0 pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik &#8211; manik,\u00a0 bata \u2013 bata\u00a0 bertulis, bergambar\u00a0 dan\u00a0 bertanda,\u00a0 fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan\u00a0 tanah\u00a0 ( gunung\u00a0 kecil )\u00a0 yang\u00a0 juga buatan manusia.\u00a0 Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai \u201cBukit Sengalo\u201d atau \u201cCandi Bukit Perak.<\/p>\n<p>Propinsi Jambi memiliki kekayaan alam seni dan Kebudayaan yang tinggi, <b>Kawasan Geopark di Merangin yang berusia 300 Juta tahun <\/b>menyimpan <b>Fosil Fauna yang telah membatu<\/b>. Sebagian lokasi geopark berada di sepanjang sungai batang Merangin, dan di lokasi ini\u00a0 terutama di\u00a0 <b>desa air batu hingga\u00a0 Biuku Tanjung\u00a0 <\/b>memiliki\u00a0 potensi\u00a0 <b>arung\u00a0 jeram<\/b>\u00a0 yang\u00a0 menantang, dan olah raga\u00a0 arung\u00a0 jeram ini telah dijadikan\u00a0 salah satu\u00a0 <b>Calender Event Nasional<\/b>. Untuk membangun ,\u00a0 mengembangkan\u00a0\u00a0 dan\u00a0 mewujudkan\u00a0 cita cita menjadikan\u00a0 dunia\u00a0 pariwisata di Propinsi Jambi\u00a0 <b>agar dikenal lebih luas\u00a0 butuh pemangku kepentingan untuk\u00a0 saling bekerja sama,ibarat\u00a0 \u201cSimponi\u201d<\/b> semua pihak harus mampu beriringan dan sama sama bekerja, sebab kunci untuk membangun agar\u00a0 wisata di PropinsiJambi dapat menyapa dunia\u00a0 adalah dengan saling bersinergi dan harus melibatkan\u00a0 semua pihak tanpa terkecuali ( Budhi VJ Rio Temenggung)<\/p>\n<p><b>Oleh: Budhi VJ Rio Temenggung Tuo<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungai Penuh . Bumi\u00a0 Sepucuk Jambi Sembilan Lurah yang menempati pinggang Pulau Sumatera\u00a0 dengan luas keseluruhan 53.436,72 Km2.Propinsi Jambi\u00a0 memiliki relif daerah yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakatnya,seperti mata pencaharian, Letak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3424,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-3423","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3423","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3423"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3423\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}