{"id":3434,"date":"2014-04-10T05:17:07","date_gmt":"2014-04-09T22:17:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3434"},"modified":"2014-04-10T05:17:07","modified_gmt":"2014-04-09T22:17:07","slug":"sanggar-seni-incung-sungai-penuh-dan-kerinci-rawat-pelajari-aksara-incung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sanggar-seni-incung-sungai-penuh-dan-kerinci-rawat-pelajari-aksara-incung\/","title":{"rendered":"Sanggar Seni Incung  Sungai Penuh  dan Kerinci  rawat pelajari aksara incung"},"content":{"rendered":"<p>Sungai Penuh , Bumi Alam Kerinci (Kota\u00a0 Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci ) dikenal\u00a0 masyarakat luas\u00a0 sebagai puncak\u00a0 andalas pulau\u00a0 Sumatera , dan penduduk asli nya merupakan\u00a0\u00a0 suku\u00a0 melayu tertua\u00a0 yang ada di dunia dan\u00a0 merupakan salah satu pusat peradaban\u00a0 melayu tua di dunia pada\u00a0 masa lampau.<\/p>\n<p>Hal ini disampaikan\u00a0 Direktur Eksekutif Lembaga Bina Potensia dan Pembina Sanggar Seni Incung (Sarung) alam Kerinci ditempat terpisah\u00a0 pada acara\u00a0 kawo\u00a0 minggu pagi\u00a0 dan dialog budaya\u00a0 senin di sanggar seni incung umah empat jenis Kota Sungai Penuh\u00a0 yang dihadiri\u00a0 anggota\u00a0 sanggar\u00a0 seni Incung (Sarung) anggota English Club,\u00a0 sejumlah wartawan Media On Line\u00a0 dan dihadiri\u00a0 2 orang\u00a0 warga\u00a0 asal Amerika dan peneliti uhang pandak asal Inggeris Debby Martyr .<\/p>\n<p>Menurut\u00a0 Budhi VJ Rio Temenggung , Ahli Antropologi C.W. Watson\u00a0 seorang\u00a0 peneliti asing yang melakukan penelitian di Kerinci sejak\u00a0 tahun 1970\u00a0 menyebutkan bahwa \u201d Alam Kerinci adalah daerah yang penting di Indonesia. Suku Kerinci dikenal sebagai suku yang memiliki\u00a0 kecerdasan\u00a0 dan\u00a0 peradaban\u00a0 yang tinggi.\u00a0 hal ini dapat\u00a0 dibuktikan dengan\u00a0 ditemukannya\u00a0 naskah\u00a0 kuno di\u00a0 Desa Tanjung\u00a0 Tanah Kecamatan Danau Kerinci, Naskah Kuno\u00a0 Tanjung Tanah di\u00a0 duga berasal dari abad ke\u00a0 XIV\u00a0 dengan menggunakan\u00a0 media kulit kayu sebagai media tulis.<\/p>\n<p>Berdasarkan catatan yang ada menunjukkan naskah Kuno yang ditemukan di Tanjung\u00a0 Tanah\u00a0\u00a0 ditemukan oleh dua orang peneliti yakni pada tahun 1941\u00a0 ditemukan oleh\u00a0 Petrus Voorhoeve\u00a0 dan\u00a0 Uli Kozok\u00a0 pada tahun 2002.<\/p>\n<p>Pada tahun 1941\u00a0 Voorhoeve melalui sekretarisnya menyalin dan mengetik\u00a0 naskah\u00a0 kuno\u00a0 Kerinci\u00a0 termasuk naskah\u00a0 <b>\u201cAksara Incung\u201d<\/b>\u00a0\u00a0 yang berjumlah\u00a0\u00a0 <b>252\u00a0\u00a0 naskah\u00a0 Kerinci\u00a0 setebal 181 Halaman<\/b> yang diberi judul <b>\u2019Tambo Kerinci \u201d<\/b>\u00a0 dan\u00a0 Tambo\u00a0 itu\u00a0 sempat dinyatakan hilang dan ditemukan\u00a0 kembali oleh seorang Antropolog\u00a0 Inggeris\u00a0 bernama\u00a0 Watson\u00a0 pada\u00a0 tahun 1975. Salinan naskah\u00a0 yang\u00a0 ditemukan\u00a0 kembali\u00a0 itu\u00a0 diserahkan\u00a0 kembali\u00a0 oleh\u00a0 Watson\u00a0 kepada Voorhoeve di\u00a0 Belanda,\u00a0 dan sampai saat ini\u00a0 Tambo\u00a0 Kerinci\u00a0 masih disimpan di perpustakaan\u00a0 Koninklijk Institut voor de Tall-,Land-, en Volkenkunde (KITLV) di Leiden Belanda, dengan\u00a0 nomor inventaris D Or.415.<\/p>\n<p>Catatan hasil penelitian para ahli mengungkapkan, hampir semua naskah Kerinci\u00a0 ditulis\u00a0 pada\u00a0 lima\u00a0 jenis media yakni <b>bambu, kulit kayu, daun lontar, tanduk dan kertas<\/b> dengan <b>menggunakan tiga jenis aksara yakni Aksara \/ surat incung, Jawi<\/b>, dan\u00a0 sejenis\u00a0 aksara yang oleh\u00a0 Voorhoeve disebut\u00a0 \u201c<b>Jawa Kuno\u201d.<\/b>\u00a0 Unieknya\u00a0 di\u00a0 Tanjung Tanah\u00a0 ditemui Aksara yang ditulis pada media tidak lazim yakni di tulis\u00a0 di <b>daluang.<\/b><\/p>\n<p>Beberapa aksara Incung di alam Kerinci di tulis diatas bambu,\u00a0 terdapat\u00a0 sekitar 34\u00a0 naskah aksara Incung\u00a0 yang ditulis\u00a0 diatas bambu, kebanyakkan\u00a0 naskah\u00a0 tersebut mengandung nilai\u00a0 kesusastraan , naskah tersebut isinya antara lain kata kata percintaan, ratapan tangis seorang jejaka terhadap sang\u00a0 kekasih pujaan hati,-karena\u00a0 patah\u00a0 hati\u00a0 cinta ditolak sang kekasih.<\/p>\n<p>Pada masa lalu ketika masyarakat\u00a0 masih menganut\u00a0 kepercayaan animisme\u00a0 mereka\u00a0 menganggap\u00a0 semua\u00a0 makhluk\u00a0 hidup termasuk flora dianggap bernyawa,\u00a0 bambu\u00a0 diketahui\u00a0 selama ratusan tahun sanggup menciptakan alunan\u00a0 nada yang\u00a0 lembut, santai\u00a0 dan\u00a0 syahdu bila dihembus angin.<\/p>\n<p>Bumi alam Kerinci sejak lama telah mengenal Aksara dan memiliki bahasa tersendiri yang berbeda\u00a0 dengan bahasa bahasa daerah lainnya yang ada di Pulau Sumatera, Bahasa Kerinci memiliki banyak dialeg, antara satu dusun dengan dusun yang lain memiliki dialeg tersendiri dan terkadang sulit dimengerti oleh sesama pengguna bahasa Kerinci.<\/p>\n<p>Aksara Incung oleh para ilmuawan\u00a0\u00a0 dikenal\u00a0 dengan sebutan\u00a0 <b>Aksara\u00a0 Ka-Ga-Nga,<\/b>\u00a0 aksara ini sebagian besar di tulis pada\u00a0 media tanduk, ruas bambu, tulang,\u00a0 tapak\u00a0 gajah,\u00a0 setelah\u00a0 kebudayaan\u00a0 baru masuk sebagian lain Aksara ini di tulis diatas kertas<\/p>\n<p>Di Kota\u00a0 Sungai Penuh Aksara\u00a0 sebagian di tulis pada Tanduk Kerbau, sedangkan di\u00a0 Hiang\u00a0\u00a0 Kecamatan Sitinjau laut Kabupaten Kerinci\u00a0\u00a0 Aksara Incung ada yang di tulis di atas tanduk kambing hutan. \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hasil Penelitian Almarhum Prof.DR.H.Amir Hakim Usman,MA dan\u00a0 menurut\u00a0 Dr.\u00a0 P. Voorhove, di alam Kerinci terdapat 271 Naskah Kuno dan 158 bertuliskan\u00a0 rencong yang ditulis pada :<b>.<\/b>82 potong tanduk kerbau,.59 ruas buluh,.13 lembar diatas kertas,.1 potong tulang, potong kulit kayu,1potong tapak gajah<\/p>\n<p>Hasil\u00a0 penelitian Prof.Dr.H.Amir Hakim Usman,MA didalam naskah Kuno\u00a0 termasuk\u00a0 Aksara\u00a0 Incung\u00a0 yang\u00a0 ditulis pada media\u00a0 tanduk kerbau, buluh, kertas,tulang\u00a0 dan tapak Gajah\u00a0 terungkap\u00a0 beberapa cerita sejarah, syair\u00a0 kerinduan,ungkapan\u00a0 hati\u00a0 \/ perasaan.dll\u00a0 yang secara sastra dan kebudayaan\u00a0 bernilai sangat tinggi dan\u00a0 berisikan pesan pesan moral<\/p>\n<p>Aksara Incung ini <b>pada tahun\u00a0 1992 pernah\u00a0 diseminarkan<\/b>, namun hasil seminar\u00a0 seakan akan hanya menjadi puing\u00a0 puing sejarah.\u00a0 <b>Prof.DR.H.Amir Hakim Usman, MA, Depati.H. Amiruddin Gusti dan Iskandar Zakaria<\/b>\u00a0\u00a0 menyebutkan\u00a0\u00a0 bahwa\u00a0\u00a0 aksara\u00a0 Incung\u00a0\u00a0 merupakan salah satu asset kebudayaan nasional yang bernilai tinggi yang pada\u00a0\u00a0 zamannya digunakan sebagai media untuk\u00a0 mengungkapkan\u00a0 perasaan dan sebagai penulisan\u00a0 sejarah dan kisah yang ada pada zamannya yang mengandung nilai sejarah, sastra dan seni<\/p>\n<p>Saat\u00a0 ini Aksara\u00a0 Incung\u00a0 telah mulai memasuki pintu ambang kepunahan, oleh sebab itu\u00a0 kita berharap\u00a0 agar kaum\u00a0 intelektual terutama\u00a0 para budayawan\u00a0\u00a0 ilmuawan\u00a0 dan cendekiawan\u00a0 yang\u00a0 lahir di\u00a0 bumi alam Kincai untuk mengambil langkah yang kongkrit untuk menggali kembali,menyelamatkan dan melestarikan\u00a0 kebuayaan\u00a0 suku Kerinci .<\/p>\n<p>Sebagai salah satu wujud\u00a0 kepedulian\u00a0 dan tanggung jawab moral terhadap nasib kebudayaan yang\u00a0 telah mengalami distorsi , aktifis\u00a0 seni\u00a0 dan budayawan muda di alam Kerinci yang tergabung dalam sanggar seni Incung\u00a0 mencoba untuk mempelajari\u00a0 dan merawat sisa\u00a0 peninggalan\u00a0 kebudayaan dan peradban masa lampau.<\/p>\n<p>Namun sangat disayangkan, hingga saat ini dinas terkait baik dinas\u00a0 Pendidikan\u00a0 dan Dinas\u00a0 Porabudpar\u00a0 seakan akan tidak melihat dengan sebelah matapun terhadap masib\u00a0 budaya\u00a0 yang telah tergerus, Pemerintah daerah tidak serius\u00a0 dalam menggali dan merawat\u00a0 budaya yang telah berada di ambang kepunahan, Ironisnya untuk membangun Jembatan yang bernilai Milyaran pemerintah\u00a0 sanggup untuk melakukan demi\u00a0 alasan prestise,untuk membangun\u00a0 dan mengembangkan\u00a0\u00a0 sangat menyedihkan ibarat iklan mobil fanther\u201dNyaris tidak terdengar.<\/p>\n<p>Menurut Budayawan penerima PIN Emas dan Anugerah Kebudayaan Tingkat Nasional\u00a0 ini, upaya untuk mentradisikan kembali budaya yang terdistorsi itu bukan berarti untuk menumbuhkan semangat\u00a0 kedaerahan dalam\u00a0 makna yang sempit, tetapi justru\u00a0 untuk\u00a0 menjadikannya\u00a0 sebagai bagian dari identitas bangsa dalam kerangka NKRI ,kita berharap Aksara Kerinci termasuk bahasa Kerinci dan Antalogi penyair Alam Kerinci\u00a0 akan membumi ( Rio)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungai Penuh , Bumi Alam Kerinci (Kota\u00a0 Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci ) dikenal\u00a0 masyarakat luas\u00a0 sebagai puncak\u00a0 andalas pulau\u00a0 Sumatera , dan penduduk asli nya merupakan\u00a0\u00a0 suku\u00a0 melayu tertua\u00a0&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3441,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,108],"tags":[],"class_list":["post-3434","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-sungai-penuh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3434","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3434"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3434\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3434"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3434"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3434"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}