{"id":3948,"date":"2014-10-02T10:21:44","date_gmt":"2014-10-02T03:21:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3948"},"modified":"2014-10-02T10:21:44","modified_gmt":"2014-10-02T03:21:44","slug":"sejarah-museum-sumpah-pemuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sejarah-museum-sumpah-pemuda\/","title":{"rendered":"Sejarah Museum Sumpah Pemuda"},"content":{"rendered":"<p>Kronologis waktu perkembangan Gedung Sumpah Pemuda :<\/p>\n<p><strong>COMMENSALEN HUIS, 1908<\/strong><br \/>\nMenurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan abad ke-20. Sejak 1908 Gedung Kramat disewa pelajar Stovia (<em>School tot Opleiding van Inlandsche Artsen<\/em>) dan RS (<em>Rechtsschool<\/em>) sebagai tempat tinggal dan belajar. Saat itu dikenal dengan nama <em>Commensalen Huis<\/em>. Mahasiswa yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.<\/p>\n<p><strong>INDONESISCHE CLUBHUIS\/ CLUBGEBOUW, 1927<\/strong><br \/>\nSejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan. Bung Karno dan tokoh-tokoh <em>Algemeene Studie Club<\/em> Bandung sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni Gedung Kramat 106. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI. Gedung ini juga menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI. Mengingat digunakan berbagai organisasi, maka sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama <em>Indonesische Clubhuis<\/em> atau <em>Clubgebouw<\/em> (gedung pertemuan).<\/p>\n<p><strong>GEDUNG SUMPAH PEMUDA, 1928<\/strong><br \/>\nPada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres. Kalau pada Kongres Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia, Kongres Pemuda Kedua diharapkan akan menghasilkan keputusan yang lebih maju. Di gedung ini memang dihasilkan keputusan yang lebih maju, yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda.<\/p>\n<p><strong>RUMAH TINGGAL, 1934-1937<\/strong><br \/>\nSetelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan gedung <em>Indonesische Clubgebouw<\/em> karena sudah lulus belajar. Setelah para pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, gedung kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934 &#8211; 1937. Pang Tjem Jam menggunakan gedung itu sebagai rumah tinggal.<\/p>\n<p><strong>TOKO BUNGA, 1937-1948<\/strong><br \/>\nKemudian pada tahun 1937 &#8211; 1951 gedung ini disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948).<\/p>\n<p><strong>HOTEL HERSIA, 1948-1951<\/strong><br \/>\nDari tahun 1948 &#8211; 1951 gedung berubah fungsi menjadi Hotel Hersia.<\/p>\n<p><strong>KANTOR INSPEKTORAT BEA &amp; CUKAI, 1951-1970<\/strong><br \/>\nPada tahun 1951 &#8211; 1970, Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.<\/p>\n<p><strong>MUSEUM SUMPAH PEMUDA, 1973-Sekarang<\/strong><br \/>\nPada tanggal 3 April 1973, Gedung Kramat 106 dipugar Pemda DKI Jakarta. Pemugaran selesai 20 Mei 1973. Gedung Kramat 106 kemudian dijadikan museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.<\/p>\n<p>Sumber : museumsumpahpemuda.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kronologis waktu perkembangan Gedung Sumpah Pemuda : COMMENSALEN HUIS, 1908 Menurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3949,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,107],"tags":[],"class_list":["post-3948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-jakarta-pusat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3948"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3948\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}