{"id":3951,"date":"2014-09-25T13:39:54","date_gmt":"2014-09-25T06:39:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3951"},"modified":"2014-09-25T13:39:54","modified_gmt":"2014-09-25T06:39:54","slug":"sejarah-patung-tugu-tani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/sejarah-patung-tugu-tani\/","title":{"rendered":"Sejarah Patung Tugu Tani"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalimat diatas merupakan petikan yang sangat populer di Indonesia. Namun darimana, dari siapa, dan dimana pertama kali kalimat itu diserukan, masih belum menjadi pengetahuan umum. Siapa sangka, kalimat tersebut pertama kali tercantum ternyata pada pondasi sebuah patung di Jakarta. Yaitu Patung Pahlawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Patung Pahlawan (dikenal juga dengan Tugu Tani) adalah patung yang melambangkan seorang ibu yang melepas anaknya ke medan pertempuran. Patung ini adalah karya pematung kenamaan Uni Soviet, Matvey Genrikhovich\u00a0Manizer, dibantu oleh putranya Ossip Manizer. Karya \u2013karya Matvey Manizer sejak 1930-an sudah menjadi karya-karya yang diakui di Uni Soviet. Karya-karyanya tersebar mulai dari St.Petersburg hingga Moskow. Karya-karya Matvey sendiri merupakan klasik bagi aliran sosialis-realisme. Aliran yang kompatibel dengan Sosialisme \u2013 Komunisme. Dimana sebuah karya seni\u00a0 haruslah menjadi sebuah pembawa\u00a0 pesan proses serta tujuan revolusioner.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Mei 1959, Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet untuk bertemu dengan Perdana Menteri Nikita Kruschev. Saat tiba di Moskow, Soekarno tertarik dengan patung-patung bertema sosialis-realisme yang tersebar di beberapa penjuru kota. Oleh pejabat Uni Soviet, Soekarno pun diperkenalkan dengan Matvey, yang saat itu menjabat sebagai <i>vice president<\/i>\u00a0 USSR Academy of Arts. Matvey sebetulnya pada dekade 50-an sudah tidak aktif berkarya, dengan karya terakhirnya, Monumen Ivan Pavlov di Kota Ryazan, diselesaikan tahun 1950.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Soekarno mengundang the Manizers untuk datang ke Indonesia dan membuat sebuah karya yang diilhami keadaan di Indonesia. Matvey pun datang ke Indonesia dalam rangka mencari inspirasi. Matvey akhirnya terpesona oleh cerita perjuangan rakyat yang konon berasal dari Jawa Barat, dimana ada seorang ibu yang mendukung anaknya pergi berperang demi kemerdekaan dan tanah airnya. Dimana sang ibu membekali anaknya dengan makanan dan harapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manizer lalu mewujudkan gagasan itu sekembalinya ke Uni Soviet. Beberapa lama di tahun 1963 ia menyelesaikan patung tersebut. Lalu setelah selesai sempurna, patung tersebut dikirimkan ke Jakarta melalui kapal laut, diberikan sebagai tanda persahabatan Moskow-Jakarta. Patung tersebut akhirnya ditempatkan di Menteng, dan diberi judul\u00a0 Patung Pahlawan. Soekarno melengkapi karya ini dengan membubuhkan kata-kata \u201cHanja Bangsa Jang Menghargai Pahlawan Pahlawannja Dapat Menjadi Bangsa Jang Besar\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : aleut.wordpress.com<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Kalimat diatas merupakan petikan yang sangat populer di Indonesia. Namun darimana, dari siapa, dan dimana pertama kali kalimat itu diserukan, masih&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3952,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,107],"tags":[],"class_list":["post-3951","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-jakarta-pusat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3951","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3951"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3951\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}