{"id":3958,"date":"2014-09-29T09:53:36","date_gmt":"2014-09-29T02:53:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=3958"},"modified":"2014-09-29T09:53:36","modified_gmt":"2014-09-29T02:53:36","slug":"tanjidor-mendapat-pengaruh-kuat-dari-musik-eropa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/tanjidor-mendapat-pengaruh-kuat-dari-musik-eropa\/","title":{"rendered":"Tanjidor Mendapat Pengaruh Kuat Dari Musik Eropa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu jenis musik Betawi yang mendapat\u00a0pengaruh kuat dari musik Eropa. Pada musik\u00a0<span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> alat musik yang paling banyak\u00a0dimainkan adalah alat musik tiup, seperti\u00a0klarinet, piston, trombone serta terompet.\u00a0Jenis musik ini muncul pada abad ke-18, yang\u00a0ketika itu dimainkan untuk mengiringi\u00a0perhelatan atau mengarak pengantin. Namun\u00a0akhir-akhir ini musik <span style=\"background: yellow; color: red;\">tanjidor<\/span> sering ditampilkan\u00a0untuk menyambut tamu agung. Merupakan\u00a0suatu ansambel musik yang namanya\u00a0lahir pada masa penjajahan Hindia Belanda\u00a0di Betawi (Jakarta). Kata &#8220;<span style=\"background: yellow; color: red;\">tanjidor<\/span>&#8221; berasal\u00a0dari kata dalam bahasa Portugis <em>tangedor,\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">yang berarti &#8220;alat-alat musik berdawai\u00a0<em>(stringed instruments)<\/em>&#8220;. Tetapi dalam kenyataannya,\u00a0nama <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> tidak sesuai lagi\u00a0dengan istilah asli dari Portugis itu. Namun\u00a0yang masih sama adalah sistem musik\u00a0<em>(tonesystem) <\/em>dari tangedor, yakni sistem <em>diatonik\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">atau duabelas nada berjarak sama rata<em> (twelve\u00a0<span style=\"font-style: normal;\"><em>equally spaced tones)<\/em>. Ansambel <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> terdiri\u00a0dari alat-alat musik seperti berikut: klarinet\u00a0(tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon\u00a0tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum\u00a0(membranofon), simbal (perkusi), dan side\u00a0drums (tambur).<\/span><\/em><\/span><\/em><\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemain-pemainnya terdiri dan 7 sampai\u00a010 orang. Mereka mempergunakan peralatan\u00a0musik Eropa tersebut, untuk memainkan\u00a0reportoir laras <em>diatonik<\/em> maupun lagu-lagu\u00a0yang berlaras pelog bahkan slendro. Tentu\u00a0saja terdengar suatu suguhan yang terpaksa,\u00a0karena dua macam tangga nada yang\u00a0berlawanan dipaksakan pada peralatan yang\u00a0khas berisi kemampuan teknis nada-nada\u00a0<em>diatonik<\/em>. Karena gemuruhnya bahan perkusi,\u00a0dan keadaan alat-alat itu sendiri sudah tidak\u00a0sempuma lagi memainkan laras <em>diatonik<\/em> yang\u00a0murni, maka adaptasi pendengaran lama\u00a0kelamaan menerimanya pula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pemain <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> kebanyakan\u00a0berasal dari desa-desa di luar Kota Jakarta,\u00a0seperti di daerah Tangerang, Indramayu dll.\u00a0Dalam membawakannya, mereka tidak dapat\u00a0membaca not balok maupun not angka, dan\u00a0lagu-lagunya tidak pula mereka ketahui dan\u00a0mana asal-usulnya. Namun semua diterimanya\u00a0secara <em>aural <\/em>dari orang-orang terdahulu. Ada\u00a0kemungkinan bahwa orang-orang itu merupakan\u00a0bekas-bekas serdadu Hindia Belanda,\u00a0dan bagian musik. Dengan demikian peralatan\u00a0musik <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> yang ditemui kemudian\u00a0tidak ada yang masih baru, kebanyakan\u00a0semuanya sudah bertambalan pateri dan\u00a0kuning, karena proses oksidasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada zaman dahulu dikala musim mengerjakan\u00a0sawah, mereka menggantungkan\u00a0alat-alat musik <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> di rumahnya begitusaja pada dinding gedeg atau papan, tanpa\u00a0kotak pelindung. Setelah panen selesai,\u00a0barulah kelompok pemusik tersebut berkutat\u00a0kembali dengan alat-alat <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> mereka,\u00a0untuk kemudian menunjukkan kebolehannya\u00a0bermusik dengan berkunjung dari\u00a0rumah ke rumah, dari restoran ke restoran\u00a0dalam Kota Jakarta, Cirebon, melakukan\u00a0pekerjaannya yang kemudian lebih dikenal\u00a0dengan sebutan ngamen atau mengamen.\u00a0Musik <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> ini lazimnya akrab dengan\u00a0perayaan Cina,<em> Cap Co Meh;<\/em> di Cirebon,\u00a0terdapat pada jalan masuk kompleks masjid\u00a0serta Makam Sunan Gunung Jati: merayakan\u00a0hari besar Islam, atau hari sedekah bumi yang\u00a0menjadi tradisi masyarakat petani di Cirebon.\u00a0Diantara lagunya yang terkenal adalah\u00a0<em>Warung Pojok.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diantara lagu-lagu lain yang sering\u00a0dibawakan oleh orkes <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span>, antara lain\u00a0<em>Kramton, Bananas, Cente Manis, Keramat\u00a0Karam (Kramat Karem), Merpati Putih,\u00a0<span style=\"font-style: normal;\"><em>Surilang,<\/em> dll. Lagu <em>Keramat Karam lahir\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">karena peristiwa meletusnya Gunung\u00a0Krakatau yang menelan banyak korban.\u00a0Lagu-lagu tersebut dimainkan atas dasar\u00a0keinginan masyarakat kota Betawi yang pada\u00a0tahun 1920-an sangat digemari dan dianggap\u00a0&#8216;lagu baru&#8217; pada masa itu. Adapun Lagu\u00a0<em>Kramton<\/em> dan <em>Bananas <\/em>adalah lagu Belanda\u00a0berirama mars.<\/span><\/em><\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Asal Usul <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span>:<\/strong> <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span> sebagai satu\u00a0jenis kesenian musik asli Betawi, dimainkan\u00a0secara berkelompok. Mengenai asal usul dan\u00a0sejarah munculnya kesenian ini terdapat\u00a0beberapa pendapat yang berbeda-beda.\u00a0Menurut peneliti sejarah Paramita Abdurrachman,\u00a0dalam bahasa Portugis terdapat\u00a0kata <em>tanger<\/em> yang berarti &#8220;memainkan alat\u00a0musik&#8221;. Seorang<em> tangedor<\/em> hakikatnya\u00a0seorang yang memainkan alat musik berdawai\u00a0di dalam ruangan. Istilah <em>tangedores\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">kemudian berarti brass band yang dimainkan\u00a0pada dawai militer atau pegawai keagamaan.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sampai sekarang di Portugal<em> tangedores\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">mengikuti pawai-pawai keagamaan\u00a0pada pesta penghormatan pelindung masyarakat,\u00a0misal pesta Santo Gregorius, pelindung\u00a0Kota Lissabon, tangga124 Juni. Alat-alat yang\u00a0dipakai adalah tambur Turki, tambur sedang,\u00a0seruling dan aneka macam terompet. \u00a0Biasanya pawai itu diikuti boneka-boneka\u00a0besar yang selalu berjalan berpasangan. Satu\u00a0berupa laki-laki, yang lain perempuan, dibawa\u00a0oleh dua orang, yang satu duduk di atas bahu\u00a0orang yang berjalan. Boneka-boneka itu mirip\u00a0dengan Ondel-ondel Betawi yang mengiringi\u00a0rombongan <span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span>.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ernst Heinz, seorang ahli Musikologi\u00a0Belanda yang mengadakan penelitian musik\u00a0rakyat di pinggiran Kota Jakarta tahun 1973,\u00a0berpendapat bahwa musik rakyat daerah\u00a0pinggiran itu berasal dari budak belian yang\u00a0ditugaskan main musik untuk majikannya.\u00a0Mula-mula pemain musik terdiri atas budak\u00a0dan serdadu. Sesudah perbudakan dihapuskan,\u00a0mereka digantikan pemusik bayaran. Tetapi\u00a0yang jelas para pemusik itu orang Indonesia\u00a0yang berasal dari berbagai daerah, diberi\u00a0alat musik Eropa dan disuruh menghidangkan\u00a0bermacam musik pada berbagai\u00a0acara. Alat musik yang dipakai kebanyakan\u00a0alat musik tiup, seperti klarinet, terompet\u00a0Perancis, komet dan tambur Turki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada mulanya mereka memainkan\u00a0lagu-lagu Eropa karena harus mengiringi\u00a0pesta dansa, polka, mars, lancier dan lagu-lagu\u00a0parade. Lambat laun mereka juga mulai\u00a0memainkan lagu-lagu dan irama khas\u00a0Betawi. Instrumen yang kuat-kuat ini bisa\u00a0dipakai turun-temurun. Setelah pemain tidak\u00a0lagi menjadi bagian dalam\u00a0rumah tangga orang Barat,\u00a0lahirlah rombongan-rombongan\u00a0amatir yang tetap menamakan\u00a0diri &#8220;<span style=\"background: yellow; color: red;\">Tanjidor<\/span>&#8220;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ahli sejarah Batavia\u00a0lama, Dr. F. De Haan berpendapat\u00a0bahwa pemusik keliling\u00a0ini berasal dari orkes-orkes\u00a0budak zaman Kompeni. Dalam\u00a0karyanya berjudul <em>Priangan,\u00a0<span style=\"font-style: normal;\">de Haan menunjukkan\u00a0catatan tentang Cornelia de\u00a0Bevers yang mempunyai 59 orang\u00a0budak belian dalam\u00a0tahun 1689. Pembagian kerja\u00a0di antara para budak itu, antara\u00a0lain &#8220;Tiga atau empat\u00a0anak laki-laki berjalan di\u00a0belakang saya dan suami saya\u00a0kalau kami berjalan keluar,\u00a0ditambah budak perempuan\u00a0sejumlah itu pula&#8221;. Pada\u00a0waktu makan pasangan suami isteri itu\u00a0didampingi lima sampai enam budak pelayan\u00a0meja, kemudian masih ada lagi tiga orang\u00a0budak laki-laki yang masing-masing bertugas\u00a0memainkan bas, biola, dan harpa sebagai\u00a0musik pengiring makan.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Valentjn juga menyebutkan tentang\u00a0konser-konser yang dimainkan oleh budak.\u00a0Umumnya mereka memakai instrumen\u00a0berdawai. Orkes-orkes itu makin lengkap\u00a0ketika para pemain diberi tambahan alat tiup.\u00a0Nekara (pauken), tambur Turki dan triangle,\u00a0seperti halnya orkes milik Gubernur Jenderal\u00a0Valckenier (1737) yang berkekuatan 15 orang.\u00a0Sedang Anfreas Cleyer seorang pejabat\u00a0tinggi Kompeni, mengatakan &#8220;mempunyai\u00a0kelompok musik lengkap di rumahnya, melulu\u00a0dari budak-budak yang ahli memainkan\u00a0segala alat musik. .. &#8220;. Banyak sumber menyebutkan\u00a0bahwa orkes rumah tersebut ikut dilelang\u00a0apabila majikannya meninggal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : jakarta.go.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu jenis musik Betawi yang mendapat\u00a0pengaruh kuat dari musik Eropa. Pada musik\u00a0Tanjidor alat musik yang paling banyak\u00a0dimainkan adalah alat musik tiup, seperti\u00a0klarinet, piston, trombone serta terompet.\u00a0Jenis musik ini muncul&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3959,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,89],"tags":[],"class_list":["post-3958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-jakarta-barat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3958\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}