{"id":4156,"date":"2014-11-05T09:45:00","date_gmt":"2014-11-05T02:45:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=4156"},"modified":"2014-11-05T09:45:00","modified_gmt":"2014-11-05T02:45:00","slug":"taman-nasional-komodo-dinyatakan-sebagai-situs-warisan-dunia-oleh-unesco","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/taman-nasional-komodo-dinyatakan-sebagai-situs-warisan-dunia-oleh-unesco\/","title":{"rendered":"Taman Nasional Komodo Dinyatakan Sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO"},"content":{"rendered":"<div align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Timur. Secara administrativ termasuk\u00a0 dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur.<\/span><\/div>\n<div align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada tahun 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut di tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.<\/span><\/div>\n<div align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Padar, Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai taman nasional untuk melindungi komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati didalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.<\/span><\/div>\n<div align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">Taman Nasional komodo terletak di kawasan\u00a0 Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman\u00a0Nasional Komodo.\u00a0Selain itu, juga terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung. Perpaduan berbagai vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini. \u00a0<\/span><span style=\"font-family: Arial;\"><br \/>\n<\/span><\/div>\n<div align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<p><span style=\"font-family: Arial; font-size: small;\">Terdapat empat\u00a0kampung\u00a0di dalam Taman Nasional Komodo. Pulau Komodo\u00a0memiliki\u00a0satu kampung yakni kampung Komodo;\u00a0Pulau Rinca\u00a0memiliki dua kampung\u00a0yakni Rinca dan Kerora, \u00a0dan\u00a0Pulau\u00a0Papagarang\u00a0 memiliki\u00a0satu\u00a0kampung yakni kampung Papagaran. Hingga tahun \u00a02010, masyarakat yang tinggal di dalam kawasan berjumlah 4.251 orang dan sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan. Mayoritas masyarakat memeluk agama islam. <\/span><span style=\"font-family: Arial;\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p>Sumber : komodo-park.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Timur. Secara administrativ termasuk\u00a0 dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4157,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-4156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4156"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4156\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}