{"id":4424,"date":"2015-01-07T10:44:30","date_gmt":"2015-01-07T03:44:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=4424"},"modified":"2015-01-07T10:44:30","modified_gmt":"2015-01-07T03:44:30","slug":"6-benda-dan-bangunan-indah-peninggalan-kesultanan-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/6-benda-dan-bangunan-indah-peninggalan-kesultanan-aceh\/","title":{"rendered":"6 Benda Dan Bangunan Indah Peninggalan Kesultanan Aceh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: 'Trebuchet MS', sans-serif;\">Kesultanan aceh di ujung barat indonesia ini menjadi sangat kuat dan terkenal ketika dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, namun hanya beberapa peningalanya saja yang dapat kita jumpai sekarang ini, seperti yang berikut ini&#8230;. \u00a0<\/span><\/p>\n<p>1. Taman Sari Gunongan<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-4425 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac1.jpg\" alt=\"ac1\" width=\"217\" height=\"144\" \/><\/a><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\">Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninngalan Kerajaan Aceh, setelah keraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh. Gunongan dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda yamg memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Malaka. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintannya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi.<\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">\n2. Masjid Tua Indrapuri<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: left;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-4426 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac2.jpg\" alt=\"ac2\" width=\"217\" height=\"144\" \/><\/a><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\">Mesjid Indrapuri adalah bangunan tua berbentuk segi empat sama sisi. Bentuknya khas, mirip candi, karena di masa silam bangunan tersebut bekas benteng sekaligus candi kerajaan hindu yang lebih dahulu berkuasa di Aceh. Diperkirakan pada tahun 1.300 Masehi, pengaruh Islam di Aceh mulai menyebar, dan perlahan penduduk sekitar sudah mengenal Islam, akhirnya bangunan yang dulunya candi berubah fungsi menjadi mesjid. Dan sejarah juga mengatakan bangunan bekas candi tersebut dirubah menjadi mesjid di masa Sultan Iskandar Muda berkuasa dari tahun 1607-1637 Masehi.<\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">3. Benteng IndraPatra<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac3.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-4427 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac3.jpg\" alt=\"ac3\" width=\"217\" height=\"158\" \/><\/a><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\">Setelah Hindu, muncul kerajaan Islam yang pada masa keemasan dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa ini, benteng tetap digunakan sebagai basis pertahanan melawan Portugis. Sultan Iskandar Muda menugaskan Laksamana Malahayati seorang laksamana perempuan pertama di dunia untuk memimpin pasukan di wilayah basis pertahanan ini. Benteng ini merupakan benteng yang dibangun oleh kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh. Walaupun akhirnya Islam mendominasi di Aceh, tetapi Sultan dan Ratu yang memimpin Aceh tidak pernah menghancurkan jejak peninggalan nenek moyangnya.<\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">4. Pinto Khop<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none;\"><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4428 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac4.jpg\" alt=\"ac4\" width=\"215\" height=\"153\" \/>Pinto Khop terletak di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Pinto Khop merupakan sejarah Aceh tempo dulu. Pinto Khop di bangun pada masa pemerintahan sultan iskandar muda. Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara istana dan taman putroe phang.Pinto khop ini merupakan pintu gerbang berbentuk kubah.Pinto khop ini juga merupakan tempat beristirahat putri pahang setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari gunongan.Di sanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri,di sana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga.<\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">5. Meriam Kesultanan Aceh<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none;\"><a href=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac5.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4429 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac5.jpg\" alt=\"ac5\" width=\"216\" height=\"118\" \/><\/a><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\">Pada masa Sultan Selim II dari Turki Utsmani, dikirimkan beberapa teknisi dan pembuat senjata dari Turki ke Aceh. Selanjutnya Aceh kemudian menyerap kemampuan ini dan mampu memproduksi meriam sendiri dari kuningan dimana meriam ini digunakan untuk mempertahankan acwh dari penjajah.<\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\">6. Hikayat Prang Sabi<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: right;\"><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4430 alignleft\" src=\"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/ac6.jpg\" alt=\"ac6\" width=\"215\" height=\"171\" \/><\/span><\/p>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><span style=\"font-family: Trebuchet MS, sans-serif;\">Hikayat Prang Sabi merupakan suatu karya sastra dalam sastra Aceh yang berbentuk hikayat yang isinya membicarakan tentang jihad. ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, ajakan dan seruan untuk terjun ke medan jihaad fii sabilillaah, menegakkan agama Allah dari rongrongan kafir dan meraih imbalan pahala yang besar. Bisa jadi hikayat inilah yang membangkitkan semangat juang rakyat aceh dahulu dalam mengusir penjajah.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: right;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: right;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none;\">Sumber : ilhamblogindonesia.blogspot.com<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-decoration: none; text-align: right;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n<div style=\"overflow: hidden; color: #000000; background-color: #ffffff; text-align: left; text-decoration: none;\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesultanan aceh di ujung barat indonesia ini menjadi sangat kuat dan terkenal ketika dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, namun hanya beberapa peningalanya saja yang dapat kita jumpai sekarang ini, seperti&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4431,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76],"tags":[],"class_list":["post-4424","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4424","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4424\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}