{"id":4618,"date":"2015-02-03T12:27:18","date_gmt":"2015-02-03T05:27:18","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=4618"},"modified":"2015-02-03T12:27:18","modified_gmt":"2015-02-03T05:27:18","slug":"satu-langkah-lagi-fort-oranje-diakui-unesco","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/satu-langkah-lagi-fort-oranje-diakui-unesco\/","title":{"rendered":"Satu langkah Lagi, Fort Oranje Diakui UNESCO"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana,geneva,sans-serif;\"><span style=\"font-size: 12px;\">Sebagai salah satu Kota Pusaka yang tergabung dalam <strong>Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI)<\/strong>, Kota Ternate, memiliki sejumlah cagar budaya yang merupakan peninggalan bangsa-bangsa Eropa. Beberapa peninggalan situs sejarah yang sampai saat ini masih berdiri kokoh dan menjadi saksi sejarah diantaranya, benteng Oranje di Kelurahan Gamalama atau tepat di tengah kota, benteng Toloko di Kelurahan Sangaji Utara, Benteng Kalamata di Kelurahan Kayu Merah, benteng Kota Janji di Kelurahan Kalumata serta benteng Kastela di Kelurahan Kastela Kecamatan Pulau Ternate. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana,geneva,sans-serif;\"><span style=\"font-size: 12px;\">Benteng-benteng ini, merupakan bekas peningggalan bangsa Belanda, Spanyol maupun Portogis yang datang ke Ternate karena tertarik dengan rempah-rempah khas Maluku Utara. Untuk mendapatkan pengakuan dari badan dunia UNESCO sebagai Warisan Dunia, Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate melalui panitia bersama, menggelar Workshop di kawasan benteng Oranje. Ketua panitia Workshop, Arifin Umasangaji mengatakan, sebagai salah satu angggota JKPI dan salah satu Kota yang memiliki situs sejarah, perlu adanya upaya-upaya yang mengarah pada pengembangan situs sejarah dan mendapat pengakuan dari badan dunia Unesco. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana,geneva,sans-serif;\"><span style=\"font-size: 12px;\">Menurutnya, ada beberapa tujuan yang diharapkan bisa menjadi catatan setelah Workshop dilaksanakan. Salah satu tujuan dilaksanakannya Workshop ini adalah untuk menembangkan kerangka gagasan bersama mengenai permasalahan dan hambatan apa yang dihadapi sebagai upaya mendorong Ternate menuju Kota Warisan Dunia. &#8220;Selain itu, tujuan berikutnya adalah, menyusun strategi berkaitan dengan upaya mendorong regulasi yang lebih terbuka terhadap keberadaan \u00a0 tinggalan arkeologi melalui peraturan daerah&#8221; kata Arifin. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana,geneva,sans-serif;\"><span style=\"font-size: 12px;\">Workshop ini, lanjutnya juga bertujuan untuk merumuskan rencana aksi dan strategi (kelengkapan dokumen penbyusunan) yang berkaitan dengan upaya mensukseskan Ternate menjadi Kota Warisan Dunia. &#8220;Dan tujuan berikutnya, dengan pagelaran Workshop ini, diharapkan menjadi media pertukaran pengetahuan dan pengayaan pengelolaan kota Pusaka menuju World Haritage. Ketua \u00a0Workshop Arifin Umasangaji, menambahkan, \u00a0pada Workshop tersebut, ada beberapa pakar yang akan memberikan pandangan dan masukan antara lain, Ketua Presidium JKPI, yang juga Walikota Ternate, Dr H Burhan Abdurrahman. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana,geneva,sans-serif;\"><span style=\"font-size: 12px;\">Perwakilan dari Kemen PU-Pera RI, Perwakilan UNESCO Jakarta, serta stakeholder lainnya yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. &#8220;Workshop ini, akan diikuti Balai Pelestarian Cagar Budaya, pimpinan instansi tekhnis, serta para peneliti sejarah&#8221; tandasnya.<br \/>\n<\/span><\/span><\/p>\n<p>Sumber : bappeda.kota-ternate.go.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai salah satu Kota Pusaka yang tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Kota Ternate, memiliki sejumlah cagar budaya yang merupakan peninggalan bangsa-bangsa Eropa. Beberapa peninggalan situs sejarah yang sampai&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4620,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,101],"tags":[],"class_list":["post-4618","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-ternate"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4618","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}