{"id":4733,"date":"2015-02-23T11:23:26","date_gmt":"2015-02-23T04:23:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=4733"},"modified":"2015-02-23T11:23:26","modified_gmt":"2015-02-23T04:23:26","slug":"menko-kemaritiman-resmikan-wisata-baru-jalur-samudra-cheng-ho","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/menko-kemaritiman-resmikan-wisata-baru-jalur-samudra-cheng-ho\/","title":{"rendered":"Menko Kemaritiman Resmikan Wisata Baru Jalur Samudra Cheng Ho"},"content":{"rendered":"<p>Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo meresmikan destinasi wisata baru Jalur Samudra Cheng Ho: Pelayaran Nusantara yang terdapat 10 daerah di Indonesia yaitu Batam, Aceh, Palembang, Bangka Belitong, DKI Jakarta, Semarang, Cirebon, Surabaya, dan Bali.<\/p>\n<p>Peresmian paket Napak Tilas Cheng Ho dilakukan di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (21\/2\/2015), sebagai salah satu daerah yang dilayari kapal laksamana kekaisaran Tiongkok itu.<\/p>\n<p>Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo optimistis pembukaan tujuan wisata baru Jalur Samudra Cheng Ho mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, terutama wisman dari Tiongkok.<\/p>\n<p>&#8220;Ini menjadi modal penting terutama menarik wisatawan Tiongkok. Wisatawan Tiongkok menghormati akar dan jejak budaya, ini menjadi peluang Indonesia dengan Jalur Samudra Cheng Ho,&#8221; kata Indroyono.<\/p>\n<p>Dari 10 daerah yang masuk dalam destinasi wisata Cheng Ho, Batam dipilih sebagai tempat peluncuran karena menurut Indroyono kota itu memiliki peranan strategis promosi wisata Indonesia.<\/p>\n<p>Menko Kemaritiman menyebutkan nusantara menjadi tempat penting bagi pedagang Tiongkok. Kehadiran pedagang Tiongkok di Indonesia pun memberikan pengaruh besar dalam budaya. &#8220;Persilangan budaya Tiongkok memberikan kontribusi bagi khasanah budaya Indonesia,&#8221; katanya. Itu terlihat dari motif batik, kuliner, tari seni pertunjukan, arsitektur, <em>fashion<\/em> dan lainnya.<\/p>\n<p>Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo mengatakan keberadaan destinasi wisata Jalur Pelayaran Cheng Ho diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam. &#8220;Ini menjadi strategi untuk mempercantik kawasan ini. Akan menjadi daya tarik baru, terutama untuk menyerap wisman asal Tiongkok ke Batam dan daerah lain di Kepri,&#8221; kata Soerya.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Guntur Sakti mengatakan paket wisata pelayaran Cheng Ho itu sengaja diadakan pemerintah untuk menjarin wisatawan asal Tiongkok.<\/p>\n<p>Apalagi Presiden Joko Widodo dan Presiden Tiongkok telah sepakat untuk kerja sama bidang pariwisata. &#8220;Maka kami bentuk dalam paket wisata tematik Jalur Samudra Cheng Ho,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Meskipun tidak ada jejak khusus yang menandakan Cheng Ho pernah singgah di Batam, namun Guntur yakin kapal Cheng Ho ke Indonesia melalui Selat Malaka dan Perairan Batam.<\/p>\n<p>Di Batam, wisata pelayaran Cheng Ho akan ditempatkan di Golden City Bengkong. Kebetulan, di kompleks wisata itu sudah ada replika kapal Cheng Ho. Dan sekarang dalam tahap pembangunan Masjid Cheng Ho.<\/p>\n<p>Sumber : travel.kompas.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo meresmikan destinasi wisata baru Jalur Samudra Cheng Ho: Pelayaran Nusantara yang terdapat 10 daerah di Indonesia yaitu Batam, Aceh, Palembang, Bangka Belitong, DKI Jakarta, Semarang,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4736,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96],"tags":[],"class_list":["post-4733","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4733","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4733"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4733\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4733"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4733"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4733"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}