{"id":4973,"date":"2015-04-21T12:25:46","date_gmt":"2015-04-21T05:25:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=4973"},"modified":"2015-04-21T12:25:46","modified_gmt":"2015-04-21T05:25:46","slug":"melukis-sepanjang-1-000-meter-tampilkan-berbagai-gaya-dari-berbagai-generasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/melukis-sepanjang-1-000-meter-tampilkan-berbagai-gaya-dari-berbagai-generasi\/","title":{"rendered":"Melukis Sepanjang 1.000 Meter, Tampilkan Berbagai Gaya Dari Berbagai Generasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sebanyak 540 pelukis dari berbagai gaya dan generasi menyemarakkan demo melukis sepanjang 1.000 meter yang digagas Pemkab Gianyar serangkaian HUT Kota Gianyar, (18\/4). Demo melukis yang digelar sepanjang jalan Darma Giri mendapat antusias masyarakat pecinta seni. Kegiatan melukis ini berlangsung hingga tanggal 20 April 2015.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demo melukis yang dibuka pengamat seni asal Perancis Jean Couteau menggambarkan sejarah perkembangan seni rupa atau seni lukis Bali dengan motif rerajahan, pewayangan, cerita rakyat, Bali modern, Young Artist, akademis dan para maestro seni Gianyar. Pesertanya adalah para pembantu sulinggih, group Pengosekan, Batuan, Keliki Tegallalang, Peliatan, Taman Kutuh Ubud, Petulu, Penestanan, Akademisi dan maestro asal Gianyar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembukaan demo melukis\u00a0 ditandai dengan goresan di atas kanvas oleh Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata bersama Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Torry Djohar Banguntoro.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Panitia Melukis 1000 meter, I Nyoman Arjawa dalam laporannya mengatakan kegiatan melukis yang dipersiapkan sejak 3 bulan melibatkan anak-anak sekolah (SMP, SMA\/SMK), unsur akademik, otodidak, penyandang disabilitas dan para maestro. Demo lukis ini bertujuan memberikan apresiasi kepada para seniman lukis untuk berkreasi sehingga mampu menuangkan karya-karya lukisan diatas kanvas\u00a0 dari corak tradisi hingga modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDemo melukis sepanjang 1.000 meter ini menampilkan berbagai corak dan gaya lukisan yang ada di Gianyar. Hal ini memiliki arti tersendiri bagi perkembangan dan pelestarian seni lukis di Gianyar,\u201d ujar I Nyoman Arjawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bupati Gianyar, \u00a0Anak Agung Gde Agung Bharata mengatakan kegiatan meluksi sepanjang 1.000 meter ini diharapkan mampu memacu dinamika seni lukis khususnya di Gianyar sehingga dapat melahirkan\u00a0 lebih banyak lagi maestro yang akan mengharumkan nama Gianyar. Selain sebagai upaya fasilitasi, kegiatan ini juga menjadi semacam pemetaan potensi seni rupa Gianyar dengan menggalang kebersamaan melalui seni lukis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita berharap dengan adanya kegiatan ini, generasi muda Gianyar, seluruh masyarakat Gianyar, Bali, nasinonal hingga dunia mengetahui keragaman kekayaan seni dan budaya yang ada di Kabupaten Gianyar,\u201d tegas Bupati, Agung Bharata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sumber : gianyarkab.go.id\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 (Humas Gianyar\/ww)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 540 pelukis dari berbagai gaya dan generasi menyemarakkan demo melukis sepanjang 1.000 meter yang digagas Pemkab Gianyar serangkaian HUT Kota Gianyar, (18\/4). Demo melukis yang digelar sepanjang jalan Darma&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4974,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,116],"tags":[],"class_list":["post-4973","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kabupaten-gianyar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4973"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4973\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}