{"id":5079,"date":"2015-05-11T11:36:59","date_gmt":"2015-05-11T04:36:59","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5079"},"modified":"2015-05-11T11:36:59","modified_gmt":"2015-05-11T04:36:59","slug":"festival-rujak-uleg-di-ulang-tahun-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/festival-rujak-uleg-di-ulang-tahun-surabaya\/","title":{"rendered":"Festival Rujak Uleg di Ulang Tahun Surabaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">SURABAYA:- Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bakal menggelar festival rujak uleg yang diyakini akan lebih antraktif dan meriah dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, pada festival kali ini semua peserta diharuskan mengenakan kostum yang unik dan dituntut all out bergaya saat menguleg. \u201cSaya tidak mau pakai seragam-seragam seperti tahun lalu, pakai kostum yang unik saja,\u201d kata Risma, Jum\u2019at, 8 Mei 2015.<\/p>\n<p>Namun begitu, secara garis besar festival rujak uleg ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Perdedaannya, panitia berupaya meningkatkan kualitas dengan membuat event tahunan ini lebih atraktif, dan menjadi salah satu penilaian tersendiri bagi peserta.<br \/>\nAsisten I Bidang Pemerintahan Sekretaris kota Surabaya, Yayuk Eko Agustin mengatakan selama ini peserta Festival Rujak Uleg identik dengan kostum dan penampilan unik dan nyeleneh. Akan tetapi, pada tahun ini panitia mewajibkan peserta lebih all out bergaya dengan kostum masing-masing. \u201cJadi, selain rasa rujaknya enak, peserta juga harus menguleg dengan gaya menghibur,\u201d kata Yayuk ditemui di kantornya.<\/p>\n<p>Selain itu, peserta festival rujak uleg ini akan diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas, pemerintah, BUMD, perusahaan swasta hingga tamu kehormatan negara sahabat. \u201cSekitar 1.500 peserta akan ikut festival ini,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Menurut Yayuk, pemerintah kota Surabaya berharap festival rujak uleg ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh warga Surabaya. Alasannya, rujak uleg atau rujak cingur merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya khas Surabaya. \u201cRujak uleg atau rujak cingur memang dikenal sebagai kuliner khas Kota Surabaya, mari kita jaga,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Sementara persiapannya, lanjut dia, proses loading perlengkapan akan dilakukan sejak Sabtu sore, 9 Mei 2015, sehingga arus lalu lintas di sepanjang Kembang Jepun yang menjadi venue acara akan sedikit terhambat. Sedangkan penutupan total baru dilakukan pada Sabtu malam hingga sepanjang pelaksanaan festival pada Minggu siang, 10 Mei 2015. \u201cFestival itu akan dimulai pukul 13.00 sampai selesai,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pemkot Surabaya mengaku telah bekerjasama dengan TNI dan kepolisian untuk menjaga sejumlah titik, termasuk lalu lintas yang diperkirakan akan macet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : tempo.co<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SURABAYA:- Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bakal menggelar festival rujak uleg yang diyakini akan lebih antraktif dan meriah dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, pada festival kali ini semua peserta diharuskan mengenakan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5080,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,90],"tags":[],"class_list":["post-5079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-surabaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5079\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}