{"id":5266,"date":"2015-06-17T10:44:56","date_gmt":"2015-06-17T03:44:56","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5266"},"modified":"2015-06-17T10:44:56","modified_gmt":"2015-06-17T03:44:56","slug":"perayaan-menyambut-ramadhan-karnaval-dugderan-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/perayaan-menyambut-ramadhan-karnaval-dugderan-semarang\/","title":{"rendered":"Perayaan Menyambut Ramadhan &#8220;Karnaval Dugderan&#8221; Semarang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Karnaval Dugderan yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya Bulan Puasa 2015 berlangsung dengan meriah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para peserta karnaval Dugderan sudah tampak menyemut di Balai Kota Semarang, Selasa siang, yang menjadi titik rute awal sebelum berkonvoi menuju Masjid Agung Kauman Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tampak dalam karnaval Dugderan itu, perwakilan dari kecamatan-kecamatan di Kota Semarang, antara lain Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Barat, Pedurungan, Genuk, dan Banyumanik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelajar yang mewakili sekolah juga terlihat, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tjendekia Puruhita Semarang yang mengenakan pakaian adat dan pernak-pernik khas Dugderan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ikon khas Kota Semarang, yakni Warak Ngendog yang merupakan binatang imajiner perpaduan kambing dan naga ditampilkan dalam bentuk replika oleh masing-masing peserta Dugderan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kembang manggar yang dibuat dari lidi berbalut kertas minyak berwarna-warni yang menjadi ikon khas Dugderan serta kesenian liong dan barongsai yang atraktif juga ikut dalam karnaval tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan karnaval Dugderan merupakan tradisi yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Semarang sebagai penanda segera datangnya Ramadhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Termasuk pada tahun ini. Ini (karnaval Dugderan, red.) sebagai tanda bulan Ramadhan segera tiba. Namun, kami tetap menunggu pemberitahuan pemerintah tentang awal puasa,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dugderan, kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi itu, mengatakan menjadi pelestarian tradisi turun temurun untuk menghormati para pendahulu yang bisa semakin menarik wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada kesempatan itu, Hendi beserta istri, Krisseptiana Hendrar Prihadi, menaiki bendi menuju Masjid Kauman Semarang untuk pembacaan shuhuf ulama sebagai simbol penentuan awal puasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belasan bendi yang dinaiki para pejabat, di antaranya Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi dan jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mengiringi bendi yang dinaiki wali kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tradisi Dugderan itu, Hendi berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, yakni Bupati Semarang yang pertama kali menggelar tradisi Dugderan pada 1881.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pembacaan shuhuf diikuti penabuhan beduk dan bunyi dentuman meriam, pembagian kue ganjel rel, dan air hataman Al Quran, dilanjutkan kirab menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di MAJT Semarang, Wali Kota Semarang akan menyerahkan shuhuf atau keputusan ulama kepada Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo yang diperankan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ribuan masyarakat, baik yang berasal dari Kota Semarang maupun sekitarnya, memenuhi pinggir jalan protokol di sepanjang rute karnaval, mulai Jalan Pemuda sampai MAJT Semarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>antarajateng.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karnaval Dugderan yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya Bulan Puasa 2015 berlangsung dengan meriah. Para peserta karnaval Dugderan sudah tampak menyemut di Balai Kota Semarang, Selasa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5268,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,97],"tags":[],"class_list":["post-5266","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5266"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5266\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}