{"id":5482,"date":"2015-08-18T10:28:28","date_gmt":"2015-08-18T03:28:28","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5482"},"modified":"2015-08-18T10:28:28","modified_gmt":"2015-08-18T03:28:28","slug":"indonesia-raya-di-benteng-heritage","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/indonesia-raya-di-benteng-heritage\/","title":{"rendered":"&#8220;Indonesia Raya&#8221; di Benteng Heritage"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sudah lazim diisi berbagai acara, seperti lomba, tirakatan, dan upacara bendera. Namun, di Museum Benteng Heritage di pusat Kota Tangerang, suasana peringatan kemerdekaan ini mendapat warna lain saat menyimak lantunan \u201dIndonesia Raya\u201d dari sebuah piringan hitam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekeping piringan hitam tersimpan rapi di salah satu ruang lantai dua Museum Benteng Heritage (MBH). Di bagian tengah cakram itu terdapat label bulat berukuran sedang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dasar label berwarna putih dengan kombinasi warna biru langit. Pada label itu tercetak beberapa garis lurus dan lingkaran serta tulisan berwarna merah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada bagian atas label tertulis Electric Recording. Di bawahnya tertera tulisan Yo Kim Tjan. Lalu, ada tulisan \u201dBritish Made\u201d dan \u201dIndonesia Raja\u201d. Di bawahnya lagi tertulis kalimat: \u201ddimainken oleh populair orchest\u201d. Paling bawah tertera tulisan yang sudah agak buram: Gecompomeeod Door WR Soepratman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dIni adalah piringan hitam lagu \u2019Indonesia Raya\u2019 asli dari Pak Yo Kim Tjan. Beliaulah yang pertama kali merekam \u2019Indonesia Raya\u2019 ke dalam piringan hitam. Piringan hitam ini dititipkan keluarga Yo Kim Tjan di sini,\u201d kata Udaya Halim, pemilik sekaligus pengelola MBH, pekan lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hari itu, Udaya yang memandu rombongan dari Harmony Tour pimpinan Hendro Tedjowidjojo dan Kompas menelusuri jejak sejarah Indonesia dan warga Tionghoa dalam museum tersebut. Piringan hitam bersejarah itu hanya satu dari sejumlah benda koleksi yang menunjukkan peran warga Tionghoa dalam sejarah Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berada satu ruangan dengan piringan hitam ini, terdapat berbagai koleksi alat pemutar lagu dari masa ke masa, termasuk Edison Phonograph buatan 1890-an. Juga dipajang berbagai koleksi kamera tua yang masih bisa menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Peminat musik dan fotografi akan belajar banyak tentang sejarah kamera dan musik di ruangan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Museum ini juga menyimpan banyak hal unik di balik sejarah kehidupan etnik Tionghoa di masa lalu. Sebut saja cerita sejarah dan benda-benda peninggalan armada Cheng Ho (1405-1433) yang datang ke Nusantara dengan rombongan 300 kapal jung besar dan kecil membawa hampir 30.000 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Udaya, sebagian dari rombongan ini, yang dipimpin Chen Ci Lung, mendarat di Teluk Naga, Tangerang, tahun 1407. Rombongan itu diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang atau yang lebih populer dengan sebutan warga Cina Benteng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat berkeliling di lantai dua, beberapa sepatu mini yang dipajang dalam ruang kaca menarik perhatian. Meski terlihat seperti sepatu anak-anak, lanjut Udaya, sepatu-sepatu itu dulunya dipakai wanita dewasa di Tiongkok. \u201dSejak kecil kaki mereka sudah ditekuk dan diikat sehingga tulang kaki tidak berkembang menjadi besar,\u201d tutur Udaya yang menambahkan tradisi itu baru mulai dihapus di daratan Tiongkok pada 1911.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terdapat juga koleksi koin dari Kesultanan Banten. Di bagian lain, ada koleksi pakaian dari zaman dulu, mulai dari pakaian nelayan, kebaya tahun 1950 sumbangan dari warga Tangerang, hingga pakaian pengantin lengkap dengan aksesori, seperti mahkota dan bros. Tak ketinggalan koleksi alat penyangga kepala atau bantal dari anyaman bambu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di salah satu sudut museum dipajang kumpulan kerang dan potongan keramik. Benda-benda itu ditemukan saat proses restorasi bangunan lama menjadi MBH. Ada juga berbagai artefak yang merupakan bagian asli dari bangunan asli museum yang terbuat dari kayu dan berusia ratusan tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mudah dijangkau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">MBH merupakan hasil restorasi bangunan berarsitektur tradisional Tionghoa yang diperkirakan sudah dibangun pada pertengahan abad ke-17. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tertua di Tangerang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada salah satu bagian bangunan kayu itu terdapat relief yang menceritakan kepahlawanan dan kegagahan Jenderal Kwan Kong yang jujur, setia, adil, dan suka menolong. \u201dRelief seperti ini hanya ada di tempat tertentu yang menjadi simbol keadilan, di antaranya pengadilan dan rumah seorang komunitas,\u201d kata Airin, petugas pemandu lain di MBH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lokasi museum yang di pusat kota juga membawa keunikan tersendiri. Pada pagi hari hingga pukul 12.00, di depan museum dipenuhi pedagang ikan, daging, dan sayuran. \u201dPemandangan unik ini justru menarik perhatian wisatawan asing setiap kali berkunjung ke sini,\u201d kata Sindhiarta Mulya, salah seorang pendiri komunitas Jalan Sutra, yang peduli dengan kelestarian kawasan Pasar Lama Tangerang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak sulit mencari lokasi museum ini. Dengan KA, pengunjung bisa turun di Stasiun Pasar Anyar dan berjalan kaki sekitar 300 meter. Bisa juga naik angkutan kota, antara lain angkot nomor 03A jurusan Pasar Anyar-Serpong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Airin mengatakan, siapa saja boleh datang melihat isi museum ini. Museum dibuka pada Selasa hingga Minggu pukul 10.00 hingga pukul 17.00.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dTur di sini adalah guided tour (tur berpemandu) yang berlangsung sekitar 45 menit dengan jumlah setiap rombongan dibatasi sampai 20 peserta,\u201d kata Airin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Museum ini menarik uang tiket dari pengunjung dengan harga tiket Rp 20.000 per orang untuk umum, Rp 15.000 untuk mahasiswa, dan Rp 10.000 (pelajar).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia sudah lazim diisi berbagai acara, seperti lomba, tirakatan, dan upacara bendera. Namun, di Museum Benteng Heritage di pusat Kota Tangerang, suasana peringatan kemerdekaan ini mendapat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5458,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,132],"tags":[],"class_list":["post-5482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-tangerang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}