{"id":5754,"date":"2015-11-10T10:16:02","date_gmt":"2015-11-10T03:16:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5754"},"modified":"2015-11-10T10:16:02","modified_gmt":"2015-11-10T03:16:02","slug":"tas-khas-kota-kupang-dari-daun-pandan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/tas-khas-kota-kupang-dari-daun-pandan\/","title":{"rendered":"Tas Khas Kota Kupang Dari Daun Pandan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Tas (bere), bola oka (tempat siri pinang), dan pernak pernik khas Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dahulu hanya digunakan sebagai pelengkap berpakaian ketika upacara-upacara adat, saat ini telah bersanding dengan pakaian modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang-orang Nagekeo dari rakyat biasa sampai pejabat pemerintah telah menjadikan bere sebagai pelengkap pakaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bere seakan menjadi kebanggaan tersendiri bagi para lelaki Nagekeo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian juga dengan bola oka. Bola oka yang pada zamannya hanya digunakan sebagai tempat siri pinang, saat ini bisa berfungsi ganda sebagai tas perempuan Nagekeo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak lengkap rasanya, kalau ke Nagekeo, anda tidak memiliki barang-barang unik ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bere aslinya berbahan dasar pandan hutan. Namun dengan perkembangan zaman dan semakin sulit ditemukan tanaman pandan hutan, para perajin ada yang mengganti dengan tali plastik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bentuknya tidak berubah. Harganya juga tidak jauh berbeda. Perbedaan harga hanya pada ukuran. Mulai dari Rp 70.000 sampai Rp 100.000 per unit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu bagaimana dengan bola oka? Harganya juga murah meriah dari Rp 30.000 sampai Rp 45.000 per unit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain bere dan bola oka, bagi anda yang suka mengoleksi topi-topi unik berbahan dasar alami, atau tas-tas dengan motif daerah yang unik, topi-topi berbahan dasar lontar maupun pandan serta tas-tas cantik modifikasi tenunan adat Nagekeo bisa menambah koleksi anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Topi dan tas cantik karya kelompok binaan Dinas Perindag dan Koperasi (Disperindagkop) Nagekeo ini bisa anda dapatkan di lobi Kantor Dinas Perindagkop Nagekeo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Letaknya di belakang Kantor Bupati Nagekeo, Kompleks Civic Centre Mbay. Atau Anda bisa langsung datang ke kelompok-kelompok perajin binaan Disperindagkop Nagekeo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu pencinta aksesoris khas Nagekeo, Maria Elisabeth yang ditemui di ruang kerjanya di Kantor Disperindagkop Nagekeo, NTT, Rabu (4\/11\/2015) siang, mengatakan aksesoris yang biasa digunakan sebagai pelengkap pakaian orang Nagekeo, saat ini mulai digandrungi kawula muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan tas bere saat ini menjadi tren baru berpakaian di Nagekeo. Begitu pula dengan topi dan tas wanita dari daun lontar, gewang dan pandan hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi anda penyuka tenunan Mbay, ada suvenir, sepatu dan tas cantik modifikasi tenunan Mbay dengan bahan kulit. Pilihannya, ada di tangan anda. (Adiahan Ahmad)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>travel.kompas.com<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tas (bere), bola oka (tempat siri pinang), dan pernak pernik khas Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dahulu hanya digunakan sebagai pelengkap berpakaian ketika upacara-upacara adat, saat ini telah bersanding&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5755,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,130],"tags":[],"class_list":["post-5754","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-kupang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5754"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5754\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}