{"id":5925,"date":"2016-01-11T10:30:13","date_gmt":"2016-01-11T03:30:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesiaheritage-cities.org\/?p=5925"},"modified":"2016-01-11T10:30:13","modified_gmt":"2016-01-11T03:30:13","slug":"yogyakarta-berkembang-sebagai-kota-wisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/yogyakarta-berkembang-sebagai-kota-wisata\/","title":{"rendered":"Yogyakarta Berkembang Sebagai Kota Wisata"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Kota wisata bersejarah termasuk Yogyakarta perlu menyeimbangkan pengaruh industri pariwisata dengan strategi pembangunan berkelanjutan karena kota ini telah berkembang sebagai kota wisata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Hal itu menjadi tantangan pemerintah dan masyarakat karena konsentrasi turis dan pembangunan industri pariwisata di kota bersejarah berpotensi membawa berbagai permasalahan,&#8221; kata peneliti dari Kyoto Prefectural University, Jepang, Yoshifumi Muneta di Yogyakarta, Jumat (8\/1\/2016).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada &#8220;Tourism Heritage Seminar 2016&#8221;, Yoshifumi mengatakan salah satu contohnya adalah Kyoto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Yoshifumi, seiring dengan pergeseran industri Jepang dari perekonomian berbasis bisnis manufaktur ke perekonomian berbasis perdagangan dan jasa, industri pariwisata menjadi perhatian utama pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Meskipun memiliki potensi yang besar sebagai penggerak ekonomi nasional, pertumbuhan industri pariwisata menimbulkan ancaman terhadap kelestarian situs-situs yang menjadi aset budaya dan sejarah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam membangun industri pariwisata, kebijakan yang diambil pemerintah Jepang berfokus pada tiga hal. <em>Pertama<\/em>, memindahkan pusat pariwisata dari situs bersejarah ke fasilitas-fasilitas komersial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kedua<\/em>, mengubah gaya wisata tamasya menjadi kegiatan yang lebih partisipatif dengan pengenalan terhadap etika dan filsafat budaya Jepang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ketiga,<\/em> melibatkan wisatawan ke dalam kehidupan sehari-hari warga lokal agar mereka dapat mendapatkan pengalaman yang lebih dekat, dan di saat yang sama mereka turut memajukan kehidupan warga lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Melalui kebijakan tersebut pemerintah dapat melindungi situs-situs bersejarah namun tetap mendorong komersialisasi kota melalui alternatif wisata yang lebih modern,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Wijono mengatakan apa yang disampaikan Yoshifumi itu dapat menjadi pelajaran bagi pembuatan kebijakan pembangunan pariwisata di Indonesia khususnya di Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kyoto dan Yogyakarta sebagai &#8216;sister city&#8217; diharapkan dapat terus menjalin hubungan yang baik dan bekerja sama,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tourism Heritage Seminar 2016&#8221; itu diadakan Pusat Studi Pariwisata UGM bekerja sama dengan Jogja Heritage Society.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>travel.kompas.com\/Image <span class=\"_r3\"><span class=\"irc_ho\" dir=\"ltr\">wisatajakarta.co.id<\/span><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota wisata bersejarah termasuk Yogyakarta perlu menyeimbangkan pengaruh industri pariwisata dengan strategi pembangunan berkelanjutan karena kota ini telah berkembang sebagai kota wisata. &#8220;Hal itu menjadi tantangan pemerintah dan masyarakat karena&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5926,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[76,96,87],"tags":[],"class_list":["post-5925","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","category-featured","category-kota-yogyakarta"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5925","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5925"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5925\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5925"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5925"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/indonesiaheritage-cities.org\/new\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5925"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}